kakakku cermin ,rasa sakit

219 Words
Kakakku, Lita, 5 tahun lebih tua dariku. Kulitnya putih, rambutnya lurus dan panjang, badannya langsing. Dia selalu jadi bintang di rumah, di sekolah, bahkan di lingkungan sekitar. “Lita, kamu cantik banget sih, nak. Pasti banyak yang naksir, ya?” kata tetangga waktu arisan keluarga. Aku ada di sebelah Mama waktu itu. Tapi mereka gak ngeliatku. Kayak aku tembus pandang. “Eh, kamu punya adik ya, Lit?” “Oh iya, Dinda. Tapi… ya gitu deh.” Jawaban itu. Senyumnya. Tawa mamaku setelahnya. Semua itu terekam di kepala. Nyangkut. Luka kecil yang pelan-pelan jadi borok. Aku inget waktu ultahku yang ke-14. Aku bikin kue sendiri, kecil aja, pakai uang jajan yang aku kumpulin sebulan. Waktu aku nyalain lilin, pintu kamar diketuk. "Din, bisa bantu fotoin Kak Lita bentar? Dia mau upload foto buat endorse skincare barunya.” Aku liat kuenya. Lilinnya. Mati. --- [Flashback Chat – w******p] Dinda (14): Ma… aku ulang tahun hari ini. Mama: Oh ya? Maaf ya Ma lupa. Tapi kamu gak usah lebay lah. Anak bungsu tuh gak harus selalu minta perhatian. --- Dari situ aku belajar satu hal. Aku jelek, bukan cuma karena wajahku. Tapi karena di mata mereka, aku gak berharga. Malam itu aku berdiri di depan cermin. > “Kalau aku menghilang… siapa yang bakal nyari?” Dan lagi-lagi, jawabannya: Gak ada.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD