Bab 3 – Mimpi Kabur dari Luka
Aku mulai belajar menyimpan semuanya sendiri. Rasa sakit, kecewa, rasa minder... semua dikunci rapat di dalam hati. Dan aku temukan satu hal yang bisa sedikit menenangkan: nulis.
Aku mulai punya kebiasaan baru. Setiap malam sebelum tidur, aku buka aplikasi Notes atau buku tulis kecil warna biru—satu-satunya barang pemberian ayah sebelum beliau meninggal. Di situ aku tulis semuanya. Dari hal kecil kayak, "hari ini aku cuma makan sekali," sampai yang lebih dalam kayak, "aku capek jadi manusia yang gak dianggap."
Sampai suatu malam, aku iseng buka YouTube. Aku nemu video motivasi berjudul "Bangkit dari Keterpurukan". Video itu isinya sederhana. Tapi kalimat terakhirnya nancep banget di kepala:
> “Kalau kamu gak percaya sama dirimu, siapa lagi yang akan percaya?”
Dan malam itu, aku nulis:
> Aku capek jadi Dinda. Aku pengen jadi versi terbaik diriku. Aku pengen jadi seseorang yang kalau orang lihat, mereka berhenti ngeremehin.
Itu jadi titik awal. Aku mulai rajin baca buku-buku pengembangan diri. Mulai belajar skincare dari YouTube. Aku kumpulin uang jajan buat beli produk yang paling murah, tapi katanya ampuh. Dan ya... walau wajahku gak langsung berubah, perasaanku mulai pelan-pelan membaik.
Di sekolah, aku tetap dibully. Tapi sekarang, aku udah punya satu senjata: mimpi.
Mimpi buat lepas. Mimpi buat kabur dari tempat yang gak pernah jadi rumah.
Aku daftar banyak lomba menulis diam-diam. Aku bikin blog pakai nama samaran: Dea Nayaka. Nama yang aku ambil dari tokoh utama fiksi buatanku sendiri—perempuan kuat yang gak pernah nyerah walau dunia nyakitin.
Dan tanpa sadar, tulisan-tulisan itu mulai dibaca. Ada yang komen. Ada yang kirim email. Ada yang bilang, "Tulisan kamu bikin aku nangis."
Aku senyum. Mungkin mereka gak tahu, tulisan itu juga lahir dari tangisanku.
Dan sejak itu, aku janji:
> Suatu hari nanti... mereka yang pernah remehin aku, bakal nyari namaku. Tapi yang mereka temuin bukan Dinda. Tapi Dea. Perempuan yang bangkit dari luka yang mereka bikin.