Usiaku baru 16 waktu akhirnya aku ambil keputusan terbesar dalam hidupku: kabur dari rumah.
Bukan karena nekat. Tapi karena kalau aku nggak pergi waktu itu, mungkin aku nggak akan bisa selamatin diriku sendiri.
Hari itu Mama lagi sibuk nyiapin pesta ulang tahun Kak Lita yang ke-21. Rumah rame. Musik keras. Semua orang sibuk ngerayain seseorang yang seolah jadi pusat dunia.
Aku? Disuruh jaga dapur. Disuruh beresin makanan yang nggak akan pernah aku icip.
Sampai akhirnya aku denger satu kalimat yang bikin aku sadar: aku gak pernah dianggap bagian dari keluarga ini.
“Aduh, untung Dinda gak nongol. Malu-maluin aja nanti. Tamu bisa trauma.”
Itu suara Mama. Diucapin sambil ketawa kecil ke tanteku. Dan mereka sama-sama ketawa.
Aku diem. Di balik dinding dapur. Tangan gemetar. Napas rasanya sesak.
Dan malam itu juga, aku kemas semua yang aku punya: satu tas ransel isi baju seadanya, buku tulis biru dari almarhum Ayah, dan uang 280 ribu hasil ngumpulin dari sisa jajan.
Aku nggak ninggalin surat. Aku nggak pamit. Karena buat apa pamit ke orang yang nggak akan nyari?
---
Aku naik bis malam ke Jakarta. Nggak tau bakal tidur di mana. Nggak tau bakal kerja apa. Tapi aku tau satu hal: aku harus keluar dari luka itu sebelum luka itu membunuhku.
Di ibukota, aku nginap di masjid selama seminggu. Makan dari warteg termurah yang kadang kasih gratis kalau aku bantu bersihin meja.
Sampai akhirnya aku ketemu Bu Lia, pemilik kos kecil di pinggir kota. Dia tanya kenapa aku sendirian.
Aku bilang, “Saya pengen hidup.”
Dan dia kasih aku kamar kecil. Gratis seminggu pertama, asal bantu bersihin kos tiap pagi.
Dari situlah aku mulai bangun semuanya dari nol. Aku daftar jadi admin toko online, pakai ijazah SMP dan bekal nulis yang aku asah dari Notes.
Waktu senggang, aku terus nulis di blog “Dea Nayaka”. Tulisan-tulisanku makin banyak dibaca. Ada yang nawarin buat dijadiin e-book.
Dan waktu itu aku sadar: pelarianku bukan bentuk kelemahan. Tapi penyelamatan.
---
> “Kadang, untuk bisa hidup… kamu harus lari dari tempat yang kamu sebut rumah.”