balas dendam yang tidak pernah direncanakan

300 Words
Sejak identitasku kebongkar, semua berubah. Dulu aku berjuang supaya dianggap. Sekarang aku berjuang supaya nggak dimanfaatin. Kak Lita mendadak sering muncul di DM. Nge-tag aku di story. Bahkan manggil aku “adik kesayanganku” di depan kamera waktu live. Padahal dulu... dia yang pertama kali nyebut aku “beban keluarga”. Tapi aku nggak ngomel. Nggak marah. Nggak nuntut. Karena bagiku, diam adalah balas dendam paling halus. Aku terus jalan. Naskah keduaku mulai diproses. Kali ini aku tulis tentang luka. Tentang adik bungsu yang dibully, ditinggal, tapi akhirnya bangkit. Ceritanya fiksi. Tapi semua yang baca pasti tau, itu aku. --- Sampai akhirnya, aku diundang ke salah satu talkshow TV nasional. Sebelum masuk studio, host-nya bisik, > “Kita kasih kejutan ya, kita undang keluarga kamu juga. Dramanya biar dapet.” Aku senyum kecil. Aku bilang, > “Oke. Tapi jangan salahin aku kalau penonton lebih berpihak ke yang ‘jelek’.” Dan bener aja, pas acara mulai dan Mama muncul, kamera langsung nyorot ekspresiku yang tenang. Host mulai provokasi. > “Kamu nggak kangen rumah?” Aku jawab pelan, > “Rumah itu tempat di mana kamu dicintai. Bukan sekadar tempat kamu lahir.” Penonton tepuk tangan. Mama cuma bisa senyum kaku. --- Setelah acara itu, netizen mulai buka suara. Banyak yang relate. Banyak yang cerita tentang luka mereka sendiri. Dan buat pertama kalinya, aku sadar: > Cerita ini bukan cuma tentang aku. Tapi tentang ribuan ‘Dinda’ lain yang gak pernah dikasih ruang untuk bersinar. Dari situ, aku mulai bikin komunitas kecil. Tempat anak-anak muda bisa nulis, cerita, tanpa takut dihakimi. Namanya: "Rumah Dea." Karena kalau keluarga gak bisa jadi rumah, biar kita yang bangun rumah untuk sesama. --- Balas dendam? Nggak perlu. Cukup jadi versi terbaik dari dirimu sendiri—biar dunia yang menyesal udah pernah ngeremehinmu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD