Tiga bulan setelah “Rumah Dea” berdiri, komunitas itu tumbuh lebih cepat dari yang aku bayangkan. Anak-anak muda dari berbagai kota mulai gabung, cerita tentang masa lalu mereka, luka, dan bagaimana mereka bertahan.
Setiap malam, aku baca ratusan pesan dari mereka yang bilang,
> “Kak Dea, aku gak sendiri lagi sekarang.”
“Akhirnya ada tempat yang ngerti rasaku.”
“Kalau bukan karena cerita kakak, aku mungkin udah nyerah.”
Aku nangis. Karena ternyata... luka yang selama ini aku sembunyiin, justru jadi alasan aku bisa menyembuhkan orang lain.
---
Suatu malam, aku dapet pesan dari seorang cewek bernama Nayla.
Dia tulis:
> “Kak, aku baru aja kabur dari rumah. Aku juga anak bungsu. Aku capek dianggap beban.”
Aku langsung call dia.
Suaranya gemetar. Nafasnya putus-putus.
> “Aku nggak tau harus ke mana, Kak...”
Aku bilang,
> “Kamu udah sampai di tempat yang benar. Di sini, kamu gak sendirian.”
Malam itu, aku pesenin tempat tinggal sementara untuk Nayla. Esoknya, aku ketemu dia. Wajahnya capek, tapi matanya masih punya harapan.
Dan di situ aku sadar...
Mungkin Tuhan memang gak pernah maksain semua orang lahir di rumah yang sayang. Tapi Dia kasih kita kesempatan untuk membangun rumah itu sendiri.
Dan kadang... rumah itu bukan tembok. Tapi pelukan. Kalimat. Atau bahkan tulisan.
---
Hari itu aku dan Nayla duduk berdua di taman kecil. Dia bilang pelan:
> “Kak, kenapa hidup kita harus dimulai dari luka?”
Aku jawab sambil senyum:
> “Karena luka itu bukan akhir. Tapi pintu. Dan kamu baru aja berani ngebuka pintu itu.”
---
> Karena di balik setiap luka, ada kekuatan yang nunggu kamu temukan.