pertemuan yang tak terduga

259 Words
Hari itu aku diminta jadi pembicara di sebuah seminar kecil tentang healing dan menulis luka jadi kekuatan. Aku dateng pakai outfit sederhana: blouse putih, celana kulot hitam, dan tas selempang favoritku. Tapi langkahku terhenti pas liat satu wajah di antara barisan penonton. Raka. Aku hampir gak kenal dia. Rambutnya sekarang lebih rapi, pakai kemeja, dan wajahnya... jauh lebih dewasa dari cowok SMA yang dulu pernah nyebut aku "jijik" di depan teman-teman. Setelah acara selesai, dia nyamperin. > “Dea, aku tahu kamu mungkin gak mau lihat aku lagi. Tapi boleh aku minta lima menit?” Aku diem. > “Kalau kamu masih inget, aku pernah jadi orang paling jahat di hidupmu.” Dan aku inget. Inget banget. Karena dia bukan cuma orang yang nolak aku dulu—dia juga ikut sebarin foto editan aku ke grup kelas, lalu ketawa bareng teman-temannya. Tapi hari ini... dia nggak tertawa. > “Aku baca bukumu. Aku gak nyangka semua yang kamu alami selama ini. Dan jujur, aku malu. Banget.” Aku masih diem. Tapi hati ini... gak sekeras dulu. Entah kenapa. > “Kalau bisa diulang, aku bakal milih buat jadi pelindungmu, bukan penyebab lukamu.” Aku tarik napas. > “Tapi waktu gak bisa diulang, Raka.” Dia angguk pelan. > “Aku tahu. Tapi aku tetap mau bilang... aku minta maaf.” --- Malam itu aku pulang dengan pikiran penuh. Raka minta maaf. Tapi apa aku harus maafin? Aku buka jurnal. Tulis satu kalimat: > Kadang, yang lebih sulit dari membalas luka... adalah memaafkan tanpa harus membuka luka itu lagi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD