“siapa? Dan di mana lo ketemu sama indigo lainnya yang bisa gue temuan?” Tanya Keira langsung pada point yang itu.
Sebenarnya, Keira tidak akan menuntut apa pun, namun, Keira hanya ingin bertukar pikiran, kemungkinan indigo yang di kenal oleh Shira ini adalah indigo lama. Dimana, nanti Keira mungkin bisa meminta bantuannya untuk beberapa hal. Salah satunya adalah bagaimana berkenalam dengan hantu yang super duper menyeramkan.
Keira juga mungkin akan meminta banyak pendapatnya tentang rencana yang akan di jalani oleh Keira. Dia akan bertanya beberapa hal padanya tentu saja. Keira akan menanyakan kenapa ada hantu di dunia ini? Kenapa hantu terjebak di sini? Apakah tidak akan ada madalah jika Keira membantu mereka? Tentu saja Keira mempunyai banyak pertanyaan lain mengenai hantu ini .
“saya lupa tempatnya ada di mana.” Kata Shira.
Perkataan tadi Shira adalah hal buruk bagi Keira. Tidak mungkin mungkin bias bertanya ini itu. Karena yang mengerti adalah mereka, indigo yang sudah lama.
Keira mungkin akan meminta tips dan trik ketika dia melihat hantu yang super duper menyeramkan. Keira selalu saja ketakutan jika ida berhadapan dengan hanya yang wajah atau tubuhnya bermasalah. Keira tidak bisa memaafkan penglihatannya itu. Karna banyak sekali pun yang menyeramkan di dunia ini. Sehingga, Keira yang harus menemukan atau bahkan ditemukan oleh orang atau hantu yang sangat menyeramkan.
“yaaa kalo gitu ga usah ngomong sih.” Kata Keira lagi.
Keira sudah putus harapan. Entah apa yang akan ia lakukan nanti. Dia benar – benar sudah cukup sampai di sana aja.
“ya udah, gue mau tidur dulu deh.” Kata Keira.
Benar juga. Dia benar – benar sedikit begadang untuk hanya sekedar mengobrol seperti ini. Keira mungkin memang menjadi salah satu anak yang tidak suka begadang. Namun, jika sekalinya begadang, dia benar – benar sangat kuat.
· * * * * * * * * * * * * * * * *
Dia bangun dnegan keadaan sakit badan yang luar biasa. Hari ini dia sebenarnya tidak ingin sekolah namun apa daya dia tidak bisa seenaknya seperti itu. Apalagi dengan alasan yang cukup sepele, kakaknya, Keylo, mungkin tidak akan mengizinkan Keira. Setidaknya, jika Keira tidak sakit parah, dia akan terus memaksa adiknya itu untuk sekolah.
Maka dari iru, walau pun badannya sedikit remuk, dia benar – benar harus memaksakan dirinya untuk bersekolah. Dia juga tidak ingin bersekolah karena dia tidak ingin bertemu dnegan hantu – hantu yang mungkin saja menyerangnya karena tahu bahwa Keira bisa berkomunikasi dengannya. Keira juga tidak dapat menghindari mereka begitu saja.
Dia benar – benar harus menghadapinya.
Dia sudah siap degan baju seragam sekolahnya dan akan membuka pintu kamarnya. Sebelum membuka pintu kamarnya, dia diam di sana. Mengusap gelang dnegan tali merah yang di porongnya kemarin dan kemudian dia memegang knop pintu. Dan lalu ia membukanya.
Dia terkejut.
Di depannya ada seseorang yang mungkin tadinya hendak masuk ke kamarnya namun terlihat ragu.
“Gue baru mau masuk buat nyuruh lo sarapan.” Kata Keylo.
Benar. Yang ada di depan kamar Keira adalah Keylo. Kakaknya seorang Keira. Dia sudah ada di sana entah ari kapan. Kemudian, Keira mengangguk.
“iya. Gue baru mau turun.” Kata Keira.
Pertengkaran mereka ketika ada di meja makan kemarin mungkin sudah mereka lupakan masing – masing. Mereka menyimpannya untuk pengalaman di kemudian hari. Mungkin juga mereka saling malas satu sama lain untuk membahasnya.
Tidak banyak yang bisa mereka lakukan ketika sudah bertengkar seperti itu. Biasanya, mereka juga berbaikan dengan sendirinya seperti ini.
Namun, karena sifat Keira yang mungkin bisa di katakan seperti anak kecil karena mungkin Keira juga masih kecil, dia tidak bisa menahan ledakan emosi yang ada pada dirinya.
Keira merasa bahwa dirinya memang harus dan kudu meluapkan emosinya seperti itu. Setidaknya, setelah meluapkan emosi itu, dia akan baik – baik saja.
Mereka berdua menuruni tangga beriringan. Papanya sudah ada di sana , menunggu Keira dan Keyla untuk ke tempat makannya.
Keira ingat ketika biasanya papanya yang sering sekali membangunkan Keira untuk sarapan. Karena Keylo di luar negeri, papanya yang selalu ada di depan kamarnya ketika dia masih tidur atau masih mandi.
Sekarang, papanya tidak bisa naik tangga. Kamarnya yang tadinya di lantai atas bersama mamanya kini terpaksa harus turun ke bawah dan pindah ke sana. Karena ya jelas, papa memakai kursi roda dengan kaki nya yang lumpuh.
“Selamat pagi, Keira.” Sapa papanya.
Keira mengangguk saja, “pagi.” Katanya kemudian duduk di bangku meja makannya.
Dia seperti biasa. Sejak dulu sekali, dia memang tidak menolak untuk amkan bersama. Namun, ketika makan bersama seperti ini, dirinya memang tidak pernah berbicara banyak dia selalu diam dan menikmati makanannya. Seperti sekarang ini.
Mungkin, kebiasaan yang bagus karena dilarang makan sambil berbicara itu adalah kepercayaan di beberapa keluarga. Dan Keira berhasil menerapkan hal itu pada dirinya sendiri.
Merasa sepi, ayahnya mulai membicarakan bisnis dengan kakaknya Keylo. Keira sama sekali tidak mengerti dan tidak ingin mengerti. Dia dengan cepat menghabiskan nasi goreng di atas piringnya dan kemudian menutup sarapannya.
“sudah selesai, aku berangkat duluan.” Kata Keira kemudian bangkit dari duduknya.
“Gue anterin lo.” Kata Keylo pelan membereskan makanannya. .
Keira menghentikan kegiatan yang sedang memakaikan tas di punggungnya. “kenapa?” tanyanya pelan.
“lo udah lama ga gue anterin. Katanya mau belajar mobil?” tanya Keylo pelan.
Keira berdecak. Benar. Keira belum bisa membawa mobil sendiri. Dia selalu di antar sopir ke sana dan ke sini. Dia juga kadang memesan ojek atau mobil online. Dia bahkan malas sekali untuk duduk di belakang. Ada sedikit trauma di dalam kepalanya.
“Nanti aja. Nanti, kalo gue belajar mobil, yang ada gue telat ke sekolah.” Kata Keira, “hari minggu aja.” Kata Keira lagi kemudian meninggalkan ruang makan itu.
Di jalan. Dia dis antar sopir di rumahnya. Kemudian dia berpikir, mendadak sekali kakaknya ingin mengajarkan Keira mobil. Dulu saja dia melarang keras Keira untuk bisa mobil. Alasannya klasik, Keylo tidak menginginkan Keira main menggunakan mobil.
“Non, mau duduk di belakang?” tanya sopir yang sudah ada di dalam mobil di belakang setirnya.
Tanpa sadar juga Keira masuk ke jok belakang mobil. Lalu ia menggeleng pelan, “saya pindah pak.” Serunya.
Tentu saja tidak mungkin Keira duduk di belakang. Tetap saja, ada trauma yang di dalam otaknya tertanam begitu saja.
Kalau pun dia memesan taxi online, dia selalu duduk di depan dan sedikit menjelaskan jika dia tidak bisa duduk di belakang karena ini dan itu.
Setelah duduk di depan, dia melihat di spion tengah. Sialaan, ada hantu di jok belakang tadi.