Part 17

1041 Words
Kita bisa memutuskan menikah dengan siapa, namun kita tak bisa memilih jatuh cinta dengan siapa. Sebuah kutipan yang begitu terkenal dan kental akan makna yang begitu dalam, Manusia selalu punya keinginan bagaimana kehidupan akan berjalan sesuai pandangan idealis mereka, membayangkan takdir seperti apa yang mereka mau. namun di atas segalanya Tuhan lah yang berhak memutuskan porsi apa yang terbaik untuk kita. meski tidak di pungkiri apa yang kita inginkan dan jalan apa yang sudah di gariskan pada kita tidak selalu berbeda bahkan kebanyakan bertolak belakang dengan kemauan kita. Manusia hanya melihat kebaikan yang ada di depan kita namun hati seluruh umat manusia terdengar oleh Sang Maha Pencipta. Jangan berpikir apa yang terbaik menurutmu adalah yang terbaik bagimu, Tuhan lebih mengetahui apa yang kita tidak dengar maupun yang tidak kita lihat. mana yang pantas untuk kita dan mana yang tidak tepat untuk kita. terkadang Tuhan memperlihatkan bagaimana kuncup bunga yang tak kunjung mekar, perlu di berikan pupuk kesabaran agar kamu mengetahui bahwa setiap bunga bermekaran dengan sempurna. kamu hanya perlu melihatnya lebih lama agar kamu tahu bahwa nilai sebuah keindahan tidak akan terlihat hanya sekali memandang. "Mas.. tunggu kamu lupa bawa bekalnya" mika setengah berlari menghentikan Fahri yang akan memasuki mobilnya. "Kamu gak perlu repot-repot, lagi pula saya sudah sarapan tadi"Fahri memandang sebuah kotak bekal berwarna abu-abu di tangan mika. "Aku gak kerepotan sama sekali kok, lagi pula siapa nanti yang jagain mas fahri kalau sampai drop lagi" "hei..." kesal fahri, namun dengan cepat ia meraih kotak bekal dengan sedikit paksaan , walau mika bisa memberikannya dengan senang hati. mika hanya tertawa melihat sosok fahri yang pemalu itu namun masih ingin terlihat angkuh. namun sebelum fahri tancap gas, ia berpesan pada sang istri. "jam lima nanti kamu ikut saya ada acara penting kantor, jangan lama-lama dandannya , dan jangan buat saya menunggu nanti. awas saja" kata Fahri begitu saja lalu tancap gas meninggalkan mika yang masih menganga karena belum sempat membalas namun sudah di tinggal begitu saja, artinya mas fahri udah sembuh, sudah seenaknya sendiri huh batin mika. . "Fahri makan siang ke cafe t**tive mau gak" kata adam ketika beranjak meninggalkan ruangan kerja Fahri. "hmm.. kayaknya gak hari ini, tuh.." balas Fahri sambil mendongakkan dagunya mengarah pada sebuah paper bag kecil di atas mejanya. Adam pun sedikit penasaran ia mendekat dan membukanya dengan bebas sedang fahri tampak tak mempermasalahkannya. "Wow.. curang. sejak kapan jadi bawa bekal... Mikaila ya?" Adam tampak penasaran dengan respon fahri. namun ia dibuat terkejut dengan anggukan balasan dari fahri. "Ada yang berubah nih" terka Adam. "Ngawur kau, ini gak seperti yang kau kira. aku pikir berdamai dengan denganya bukan masalah besar. "Jadi kalian nikah beneran?" tanya adam spontan. "Gila , ogah" tolak fahri tegas. "jangan gitu lo .. nanti kamu kena karma jatuh cinta beneran baru tahu rasa" canda adam bernada mengancam, fahri hanya berdecak kesal. fahri menatap bimbang dengan bekal yang sudah terbuka, terlihat dua rolls sushi yang sudah terpotong rapi dengan beberapa tempura dan salad sebagai pelengkapnya, ia menggaruk-garuk kepalanya meski tidak gatal sama sekali,penuh hati-hati mengambil potongan sushi lalu memasukakknya kedalam mulut, ia memanggut-manggut pelan setelah merasakan nikmat oleh gigitan pertama. . . *** di suatu tempat gadis berambut cokelat bergelombang dengan paras yang cantik, tampak begitu fokus menatap layar ponsel pintarnya tidak peduli dengan kertas sketsa gaun berserakan di meja maupun di lantai yang berserakan. netra nya di genangi air mata yang hampir tumpah membasahi pipinya. ia tak kuasa menahan sesuatu yang sedang bergejolak di dalam hatinya. memadangi foto dua insan yang saling menatap dengan tatapan penuh cinta , sang permpuan yang mengaitkan tangannya pada lengan sang pria senyum manis menghiasi kedua bibir mereka. fahri apa yang harus ku lakukan sekarang suara hati salma tampak putus asa. bahunya merosot ia merangkup wajahnya dnegan kedua tangan lalu tengkurap pada bibir meja di hadapananya . suara tangis terdengak di ruangannya yang sepi. *** "kamu sudah siap apa belum, kenapa lama sekali sih" teriak fahri dari lantai bawah. berulang kali fahri mengecek jam rolex gmt master miliknya memasukan satu tanganya ke dalam setelan jas berwarna biru gelap itu. suara langkah heels terdengar menuruni tangga. fahri yang merasa kesal karena tidak seharusnya ia yang menunggu bersiap melayangkan sindiran pedas pada mika, alih-alih akan memprotes Mika , fahri yang tak bergeming sama sekali memandang jauh sosok mika yang terlihat begitu berbeda àdari yang ia kenal selama ini, gadis yang di ketahui fahri adalah orang yang sederhana pakaian nya juga selalu tertutup meski rambutnya tergerai panjang. malam ini Fahri terkesima dengan penampilan yang berbeda dari istrinya. dress dengan warna midnight blue sederhana namun tampak elegan dengan rambut yang di kepang setengah kuncir kuda membuatnya tampak selaras dengan makeup yang natural namun terlihat segar . "Mas... mas fahri jadi pergi enggak?. kenapa diam" tanya mika yang sudah berada tepat di depan fahri . fahri sadar akan lamunannya pun menggeleng cepat. fahri menatap mika lekat sebelum beranjak pergi yang di ekori mika di belakangnya. suasana di di perjalanan masih hening seperti biasa, tidak ada dari keduanya berencana membuka obrolan terlebih dahulu. Mika sedikit merasa kurang nyaman dengan pakaian nya saat ini. terlebih gaun ini mendadak di beli sore tadi. tentu saja karena keluhan fahri yang tiada henti karena dandanan mika yang begitu sederhana padahal ia akan menghadiri launching cafe baru milik Fahri. menurut fahri tidak ada yang salah dari cara berpakainnya hanya saja kurang feminim. Mika menatap fahri sekilas lalu membuang muka dengan kesal. "Kamu tahu kan yang harus kamu lakukan naþnti di sana. ada bapak sama ibu" fahsepertiri memperingatkan. tentu saja maksud fahri adalah berakting pasangan bahagia, mika tidak menjawabnya juga enggan menatap balik fahri. "kalau ada orang bicara, lihat orangnya. jangan seenaknya sendiri" protes fahri. "emang aku harus pakai gaun ini ya " balas mika yang sedang meraba-raba dress yang sedang di pakainya. Fahri mengiyakannya dan meminta mika untuk menerimanya saja toh hanya semalam saja menurutnya. Mika tidak menjawab namun kali ini menatap fahri dengan pandangan mengunci, membuat fahri merasa kurnag nyaman. "kamu gak harus ngeliatnya gitu juga kali" Protes fahri kembali. "Tadi katanya suruh ngeliat orangnya kalau lagi ngomong, sekarang protes terus. mas fahri memang labil dehh .." mika berdecak tak percaya. "heii... " Fahri setengah berteriak. Mika merasa puas hanya dengan meledek suaminya yang dirasa aneh karena tidak konsisten dengan apa yang di katakanya. . .bersambung....
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD