Part 16

1026 Words
"Mas Fahri, mana baju kotornya,. aku mau sekalian cuci" tanya Mika yang menyondongkan tubuhnya setengah melewati pintu kamar Fahri, Fahri yang disibukkan dengan laptop menoleh sebentar sebelum menolak tawaran mika, untuk yang masih tidak tahu mereka sungguh hanya sebatas pernikahan di atas kertas. Fahri tidak memperbolehkan mika menyentuh barang-barangnya bahkan hanya untuk laudryan. tapi kali ini sepertinya mika entah punya kekuatan dari mana ia sedikit memaksa fahri untuk menurutinya karena suatu kondisi. "Jangan sampai kusut atau di campur, itu semua pakaian kerja harganya mahal dan limited. kalau kamu ga bisa nyetrika jangan setrika nanti pakaianku bla bla bla.." kicauan fahri membuat mika memutar bola matanya ia tak menyangka sang suami masih punya banyak tenaga meski dirinya di landa sakit. "apa ini sisi lain Mas fahri kalau lagi sakit, ngomongnya gak berhenti-henti kayak ibu mika ..pfft" Canda Mika . Fahri dejavu dengan kata-kata mika merujuk pada ejekannya kemarin malam. Fahri melontarkan tatapan tajam merasa dirinya menjadi bahan candaan oleh mika. "iya iya.. gak lagi kok. tapi mas jangan banyak gerak gimana kamu mau sembuh kalau baru bangun udah mainan laptop" gerutu mika sambil memunguti pakain Fahri yang berserakan. "memangnya saya anak kecil apa" protes fahri tidak terima. "hhehe buktinya tuh marah" goda Mika. tapi ia buru-buru keluar agar tidak kena amukan suaminya. dengan perasaan senang ia menuju lantai bawah untuk mengerjakan pekerjaan rumah. jarang sekali mika absen kerja tapi karena ia tak bisa meninggalkan Fahri sendirian saat sakit mau tak mau ia harus tetap di rumah. meski pun hari ini ia berangkat kerja tidak di pungkiri pikirananya akan di penuhi sosok Fahri jadi ketika ia mengingat keputusan yang bena mika hanya tersenyum. "Kamu bikin apa" Mika di kejutkan dengan sosok yang sudah berada di sebelahnya yang tengah disibukkan dengan memasukkan potongan adonan kecil ke dalam minyak panas. "duh, mas fahri ngaggetin deh " Mika mengelus d**a untuk megatur detak jantungya yang di rasa mau melompat keluar. "Mata mu jatoh karena kebanyakan melotot baru tau rasa" sahut Fahri yang masih mengamati sesuatu yang tengah berenang di dalam wajan berisikan minyak panas itu. "Aku bikin churros, mas" kata mika sambil menunjukkan adona keemasan yang sebagian sudah jadi. Fahri pun tampak takjub karena ia merasa seperti sedang berada du rumah orang tuanya, yang terkadang membuat cemilan untuk di makan bersama. "Kamu yang bikin?" Fahri penasaran. mika hanya mengangguk sebagai jawaban lalu kembali pada aktivitasanya. fahri pun mengangguk-angguk tanda ia mengerti. lalu beranjak menuju kulkas untuk mencari sesuatu yang dingin untuk di minum. "Mas, gak boleh minum yang dingin dingin dulu ..kamu kan masih sakit" protes mika setengah berteriak, karena jarak dirinya dan Fahri sekitar enam meter. "Bawel banget sih, saya sudah biasa minum ini" sahut fahri tak mau mengalah. "kan beda mas Fahriiiiiii...." mika gemas akan keras kepala sang suami yang seperti batu itu. "cerewet.. udah masak sana, gosong tuh" ledek fahri. . . Kini Fahri berada di ruang tengah di hadapkan laptop yang tidak ketinggalan dengan sepiring penuh churros di tambah cream cokelat yang lumer di mulut menjadi pelengkap di siang sore hari ini.meski Fahri sakit ia masih sangat profesional dalam pekerjaannya ia tidak mau hanya karena ia sakit malah memperlambat pekerjaan orang lain. Mika hanya memandang fahri dari kejauhan sembari melipat pakaian yang sudah kering. Ini kali kedua di mana aku melihat mas Fahri tengah di sibukkan dengan pekerjaannya. ia sangat pekerja keras aku pun termotivasi untuk melakukan bagianku dengan baik. seharian bersama dengannya bahkan kami mengobrol seperti pasangan normal, yah bagiku ini terasa lebih normal ketimbang hari biasa. hari ini mas fahri sama sekali tidak menyinggung tentang aku yang melanggar perjanjian dengan memasuki ranah pribadinya. dia malah lahap sekali memakan cemilan yang aku buat, yah meski kadang masih mengejekku. tapi apa aku boleh berpuas ria hanya karena ini? Batin mika. cough..cough.. cough.. Fahri yang terus menerus batuk meski sudah meminum air putih pun masih tersedak karena tenggorokannya yang di rasa seperti terbakar dan perih. Mika dengan buru-buru membawakan air hangat untuk Fahri. Fahri merasa lebih baik tapi raut mukanya sangat pucat , pening datang mendadak di pijatnya pelipis, Mika menatap fahri dengan rasa tidak tega. lalu di curinya pandang laptop yang berada di sampingnya mengecek apakah ia bisa berguna untuk sang suami. "Mas Fahri, aku bisa bantu kamu" mika merasa menemukan ide. "Apa .. enggak. saya tidak percaya sama kamu. lagi pula ini adalah projek penting untuk presentasi minggu depan" tolak Fahri dengan melambaikan tangannya cepat. "iya aku tahu kok mas, aku dulu ambil jurusan managemen tauk"kata mika sambil memijat dagunya yang tidak terasa sakit. "benarkah?" selidik fahri. namun fahri tetap menolak ia merasa sangat ragu. keduanya pun bersikeras sampai ahirnya Fahri menerima tawaran mika , kepalanya yang terasa berat membuatnya susah walau hanya sejedar untuk duduk. . . tak. tak .tak. tak.. suara keyboard terdengar pada rungu Fahri yang masih setengah tersadar. Fahri mengerjapkan matanya karena silau lampu yang menyeruak masuk kedalam matanya , selimut tebal berwarna krem menutupi tubuhnya sampai d**a. ia tampak menelisik sekeliling tanpa membuat suara. Fahri tak ingin seorang gadis tak jauh darinya itu mengetahui dirinya yang sudah terbangun dari tidurnya. pukul tujuh,artinya ia sudah terlelap selama tiga jam. setelah mengusap pelan wajah nya agar tersadar dengan sempurna, perlahan ia memalingkan tubuhnya menghadap pada gadis yang berajarak satu meter darinya dengan hati-hati, memandang lurus ke arah gadis yang terlihat begitu serius dengan jemari yang begitu lihai dengan mata yang menatap lurus ke arah layar laptop. Rambut nya yang panjang hampir menyentuh pinggang, dengan alis yang tebal alami, bulu mata yang lentik nan panjang itu membuat fahri terkesima di tambah pandanganya berakhir pada bibir berwarna pink alami yang terlihat lembab. Fahri baru menyadari gadis yang di nikahkan orangtuanya itu mempunyai daya tarik sendiri yang tidak bisa di temukan dalam sekali pertemuan. cantik gumam fahri. Mika pun menoleh mencari sumber suara meski terdengar samar-samar. keduanya sama-sama terkejut setelah mendapati Fahri yang menatap mika dengan tatapan yang tidak pernah mika lihat sebelumnya. Fahri sadar akan kelengahannya lalu beranjak bangun dari sofa. "Saya laper, " kata Fahri dingin . meningggalkan mika yang masih dengan tatapan yang bertanya-tanya. kamu mungkin tidak bisa menyiram bunga yang layu dan berharap ia akan mekar kembali. tetapi kamu bisa menanam bunga yang baru dengan harapan yang lebih baik dari sebelumnya. bersambung...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD