part 15

1287 Words
Suara sendok dan piring yang saling berbenturan, menjadi pemecah kesunyian malam ini. Dua insan yang masih setia dalam diam itu hanya fokus pada makanannya masing-masing. sesekali sang pria menatap sekilas Gadis di hadapanya yang terlihat kurang berselera dengan makananya. fahri pov. aku ahirnya menikmati makan makanan rumah sejak seminggu lalu aku di sibukkan dengan berbagai hal, sampai sampai aku tidak pulang. aku bangun sedikit terlambat namun aku masih bisa menyantap sarapanku beserta kopi di pagi hari , tentu saja mika yang menyiapkannya sebelum ia berangkat bekerja. kami belum mengobrol lagi atau bertukar salam sejak aku tidak pulang untuk pertama kalinya. aku pulang ketika sudah dini hari , lalu saat aku bangun hanya ada makanan yang sudah tersaji rapi di atas meja makan tanpa ku temui pembuatnya. malam ini terasa lebih sunyi dari biasanya. entah terasa sedikit aneh. terlebih pada sosok istri yang ku nikahi hampir tiga bulan lalu. ia hanya menatap malas makananya tak berselera. ketika aku berbasa basi ia hanya menjawabku singkat. apa ada yang salah dengannya? "ini aku nitip, makasih" kataku sambil memberikan piring kotorku disaat kulihat ia sedangdi sibukkan mencuci bekas makan malam kami. "ehmmm" jawabnya singkat. huh ? aku merasa sedikit aneh dengan sikapnya saat ini , tapi aku tidak terlalu ambil pusing. barangkali ia sedang PMS , wanita kalau sedang harinya moodnya selalu berubah-ubah, seperti salma yang suka ngambek hanya hal sepele ketika sedang tanggal merah. Cough..cough.. tenggorokanku terasa begitu perih, panas dan aku sedikit kesulitan minum bahkan untuk menelan saliva. ku akui aku kurang beristirahat ahir-ahir ini, kurang tidur dan lelah yang luar biasa. namun anehnya aku ingin beristirahat sejenak di rumah dan menimati makanan rumahan yang hangat. aku mengambil air untuk meredakan batukku, namun melalui ekor mataku aku menangkap siluet tubuh yang sedang menatapku intens aku mentapnya sekilas mencari jawaban, tapi pandangan itu sedikit membuatku tak nyaman. tatapan sendu itu seperti seolah memastikan bahwa aku baik-baik saja. *** "Mas, kamu sakit" tanya Mika mendekat ke arah Fahri. "ehh, enggak cuman batuk saja" jawab Fahri, namun tiba-tiba sebuah tangan menjulur mengarah ke kening Fahri seolah mengecek suhu tubuh Fahri, spontan Fahri menepis tangan Mika karena terkejut dengan sikap mika yang tidak terduga. "Tapi kening kamu hangat mas" Kata mika cemas. "udah saya gak apa-apa. saya hanya kecapekan saja. saya mau balik ke kamar dulu" Fahri beranjak pergi meninggalkan mika yang bingung dengan apa yang akan ia lakukan, ia terlihat menyesal karena seminggu ini menghindari Fahri , bahkan malam ini Fahri makan malam dirumah namun mika enggan menatap mata sang suami ketika sedang berbicara. ia memilih untuk tetap diam . karena ia sedikit dilema sang suami sering tidak pulang seminggu ini, namun ia tak bisa melakukan apa-apa meski hanya sekedar beertanya diamanakah ia sekarang?, apa yang sedang ia lakukan. Mika tidak nyenyak dalam tidurnya , meski ia sudah mencoba memejamkan matanya namun ia sulit untuk terlelap. ada perasaan tidak nyaman dan gelisah menguasainya, di lihatnya jam menunjukkan pukul 12 malam ia terlihat menimang-nimang keputusan apa yang akan ia ambil .tanpa ambil pusing mika beranjak bergegas turun dari ranjangnya dan bergegas pergi keluar dari kamarnya. Tokk..tok.. Suara ketukan tanpa henti dari arah pintu membuat Fahri dengan terpaksa membukanya dengan wajah kesalnya. "Mas, kamu gak apa-apa?" tanya mika tambah cemas ketika menyadari Fahri yang terlihat pucat pasi itu dengan wajah yang kemerah-merahan karena suhu tubuhnya yang tinggi. "Kamu ngapain, sudah ku bilang jangan bangunin saya kalu gak penting banget" Fahri terengar kesal. "aku bikinin kamu teh jahe, sekalian mastiin kamu bai-baik saja" Mika membawa sebuah cup besar yang berada di genggamannya. fahri menatap sekilas sesuatu yang di bawa mika. namun ia segera menutup pintu mencoba mengabaikan mika. Mika yang tidak puas kembali menggedor-gedor pintu kamar Fahri, Fahri yang naik pitam dengan kasar membuka pintunya dengan amarah yang memuncak. "kamu tuli ya, saya bilang jangan ganggu saya..kamu....ngerti gak s........." belum sempat menyelesaikan kalimatnya Fahri yang lemas ambruk ke depan dengan sigap mika menahan Fahri yang kini bersandar di pundaknya. Mika yang panik tanpa pikir panjang memapah Fahri yang begitu lemas ke atas kasur. Fahri perlahan membuka mata, ketika matanya tertuju pintu kamarnya yang terbuka lebar ia mencoba bangkit tapi sesuatu yang berat dan dingin terasa di keningnya ia meraihnya sebelum bangkit sebuah kain kompres di lengkapi sebuah baskom tepat berada di samping nakas nya Fahri pun berusaha mengingat-ingat kembali apa yang ia lewatkan. begitu mengingatnya Mika tengah berdiri di depan pintu sembari membawa sebuah nampan berisi mangkuk bubur dan sebuah cup berisi s**u hangat. "Mas Fahri sudah bangun" tanya mika yang tetap masih berdiri di depan pintu. "hemmm.. iya" Jawab Fahri seraya menatap sekilas baskom berisi air dan kain. Fahri nampak bingung karena mika yang masih setia di depan pintu dengan raut muka takut membuatnya mengernyitkan keningnya, ada apa dengannya? "Mas, sebelum itu aku minta maaf aku ngelanggar perjanjian kita dengan tidak memasuki ruangan mas Fahri, dan lagi aku juga akan melanggar lagi karna aku harus masuk kedalam untuk ngasih ini. Mas Fahri bisa marah sama aku nanti tapi mas Fahri harus punya tenaga dulu buat marah" jelas Mika yang sedikit gugup ketika mengutarakan maksudnya. Fahri pun terlihat sedikit kaget karena lupa akan perjanjiannya untuk melarang mika memasuki ruangannya untuk alasan apapun itu. terlihat Fahri yang bergantian menatap Mika dan kain basah yang ada di genggamannya. Kemudian ia mempersilahakan mika yang masih menunggu izinnya dengan sabar. dengan sigap Mika memasuki lalu ia mengambil duduk di kursi tepat di sebelah fahri. "Kamu yang ngerawat saya semaleman?" Tanya Fahri sambil mengambil posisi duduk bersandar di tembok. "iya, kamu deman tinggi. kenapa mas gak ngomong sama aku sih, kalau aku gak ngecek kamu semalem pasti kamu masih kesakitan sampai pagi ini" protes mika yang mengaduk-aduk bubur yang terlihat masih panas. Fahri tidak merespon mika ia hanya memperhatikan istrinya yang sedang mengomel itu. di luar dugaan kali ini Fahri tidak menggelegar seperti biasa malah ia terkekeh setelah ia mendengar istrinya mengomel panjang lebar dengan wajah cemberut bibir yang memoncong kedepan mebuat siapa ssja ingin mencubitnya. Mika yang speechless dengan reaksi Fahri menatap lekat mata dalam itu dengan penuh arti. Kita tidak berdebar karena senang biasanya kita akan berdebar saat berpikir punya kesempatan memiliki sesuatu yang di harapkan. hubungan yang dingin dengan jarak yang masih tak tertembus itu, pagi ini terlihat menghangat Fahri tidak sedikitpun protes dengan perlakuan yang di berikan sang istri meski tidak memungkiri jika mungkin karena sakit jadi dia sedikit lelah untuk harus besikap dingin dan acuh. ia menerima ukuran bantuan dari sang istri. ada perasaan lega karena istrinya tak lagi banyak diam seperti hari-hari yang lalu bahkan ia tak mau menatap Fahri sebelumnya ketika berbicara Fahri tak peduli jika mika bersikap demikian namun perasaan lega itu membuat Fahri bertanya-tanya. Dua sifat yang berbeda, dua prinsip yang berbeda, kau dan aku dua dari miliaran orang didunia yang bertemu dengan cara yang tak terduga, kelak harus berpisah untuk satu tujuan. Kamu perempuan baik seharusnya kamu bisa mendapatkan lelaki yang mampu mencintaimu dengan sepenuh hati bukan seperti aku yang hati dan jiwaku terikat oleh satu nama yaitu 'salma' . "Kamu gak kerja, ini udah jamnya kan?" tanya Fahri memastikan setelah ia melihat terik matahari mulai naik tinggi ke permukaan. "Aku udah izin sama kak romi gak masuk hari ini mas" kata mika sambil menata mangkuk yang sudah kosong, ia pun tersenyum melihat fahri menghabiskan makanan yang dibuatnya. kak romi batin Fahri yang baru kali ini mendengar nama itu. tapi ia tak ambil pusing siapa orang itu. lantas Fahri menatap punggung mika yang beranjak pergi dari kamarnya dengan tatapan kasian. kenapa gadis polos itu bisa terjebak dengan pernikahan ini dengannya, namun simpatinya tidak menyurutkan egonya yang masih mempertahankan untuk tidak ingin tahu segala tentang Mika, tidak ingin terbawa perasaan ketika mendapatkan perlakuan dari mika. ia selalu meningat bahwa ada salma yang menjadi tujuan ahir pernikahan ini. . . . bersambung....
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD