Part 22

1016 Words
Mika pov. "Shadaqallahul-'adzim' aku merangkup wajahku lebih dalam, mengusap mataku yang sedikit berat. ku tatap lekat sajadah di depanku bergambar kubah hijau yang meneduhkan pandanganku. aku melihat sekilas jam dinding yang menunjukkan waktu subuh akan segera berakhir. ku tadahkan ke atas kedua tanganku diam entah sedang mencari sesuatu yang sebenarnya apa yang sedang ingin ku curhatkan kepada sang pemilik hidup ini. aku ragu akan berkeluh kesah tapi mengingat Allah adalah sebaik-baiknya tempat kita mengadu. "Segala Puji milik Allah, Rabb seluruh semesta alam. Sampai detik ini segalanya terjadi atas Izin-Mu, Engkau mengetahuin sedang aku tidak. Apakah aku terlalu terlena dengan Dunia yang hanya sementara, yang sejatinya semua Milik Engkau. Keresahan di hatiku membuat ku tidak nyaman, Jika ini berkaitan dengan dia. Mohon lindungi ia dalam lindunganmu Yaa Rabb-ku. itu sudah lebih dari cukup" Kurasakan air mataku yang sudah bersiap meluncur melewati pipi. namun mampu ku tahan. Kira-kira sudah berapa kali aku menangis setelah menikah, tak dapat ku bayangkan pernikahanku yang seperti ini, tetapi sepertinya Allah sedang menyiapkan sesuatu di balik pernikahan kami, benarkah? Aroma sedap terdeteksi oleh panca indra ku, sudah ku tebak pasti ibu sedang memulai acara memasak. ini adalah aroma yang selalu ku sukai setelah pindah dengan Mas fahri hal yang kurindukan adalah aroma sedap yang selalu mendobrak masuk lewat cela-cela pintu kamar.aku segera merapikan mukena ku sajadah yang ku lipat menjadi 2 lipatan agar nanti di pakai lagi tidak perlu bongkar pasang lagi. Aku berjalan mengarah ke meja yang berdekatan dengan ranjangku , meraih ponselku. harap-harap aku dapat menemukan pesan dari seseorang yang sudah empat hari ini tidak ada kabarnya, hanya pesan "baik, salam buat ibu" sebagai balasan setelah aku meminta izinnya untuk menginap di rumah ibunya. setelah itu tidak ada lagi pesan maupun history panggilan masuk berasal darinya. aku meringis mengingat harapan kecil yang belum juga padam ini. . . "wah .. aromanya enak banget" kataku mengambil tempat di samping beliau. Beliau hanya tersenyum mengarah padaku. Aku menuju wastafel yang tak jauh dari ibuku, ada beberapa piring dan mangkuk kotor . aku menggulung lengan panjangku bersiap-siap mencuci ketika sebuah pertanyaan ibu yang membuatku membeku. "Nduk...Kamu gak apa-apa kan?" tanya ibu terdengar ragu-ragu. teringat suamiku yang sudah empat hari ini tidak ada kabarnya aku bahkan tidak tau harus bagaimana pesan ku juga tidak di balas, sedang apa dia, sudah makan apa belum, kekhawatiranku yang semakin menggunung. "Mika baik-baik saja bu, hanya kan gak ada mas Fahri di rumah jadi ya aku mutusin nginep sini. toh Mika juga sudah izin kok bu" kataku lancar tampa hambatan. ".....benar ya. karena tumben nginepnya kok sampai empat hari" jawabnya halus. aku hanya tersenyum meski tanganku sedang sibuk mencuci piring kotor aku tidak boleh terlihat ragu dengan jawabanku, ada rasa penyesalan karena telah berbohong kepada beliau. "Bapak belum kembali dari tokonya bu?" tanyaku setelah menelisik sekitar yang tak ku temukan sosok bapak di rumah. "belum nanti mungkin jam 7 nduk" katanya yang sempat terhenti. aku mengangguk-angguk tanda mengerti. Kami bertiga menikmati sarapan pagi yang enak, bercanda seperti ini mengigatkanku beberapa bulan lalu ini adalah rutinitas kami sehari-hari, namun setelah menikah aku baru sadar jika aku kehilangan sesuatu yang tidak bisa di gantikan. "Mas akbar enggak pulang ya bu, pak?" tanyaku setelah itu ku masukkan satu sendok full makanan ke dalam mulutkku. "Masmu itu repot sekali nduk, apalagi sekarang istrinya sekarang lagi hamil, mestinya gak bis apulang sering-sering" jelas ibu. "Bener, nanti waktu giliran kamu hamil, jangan sampai kecapekan" nasihat bapak. aku hanya tersenyum tipis, bagaimana bisa sampai tahap itu sedangkan bergandengan tangan dengan suamiku sendiri sangat mustahil, pikirku. "Mika nanti pulang hari ini" tuturku pelan-pelan takut membuat mereka kecewa. ada rasa kaget terlihat pada wajah mereka berdua. aku tersenyum miris menatap keduanya. sebenarnya jarak kami hanya satu jam sampai satu setengah jam, namun lihatlah ibu terlihat kesepian dan sedih membuatku takut untuk meninggalkan mereka. *** . pesan terkirim.. aku mengirimi Romi sebuah pesan untuk mendapatkan izin tidak masuk, cukup lama aku menunggu balasan, tingg.. suara pesan masuk, namun tertera nama Sinta yang chat nya berupa keluhan karena dirinya berpesan jika dirinya tidak masuk. kenapa gak masuk, awas ya luuuuuu, aku terkekeh melihat pesan masuk dari sahabatku, aku hanya membalas dengan emotikon tertawa. "Oke siap-siap beberes yukk.." segera ku mencari alat-alat untuk merapikan rumah, dan mulai bebersih. . . Di tempat lain, seorang pria yang sedang duduk di atas Bambe Lounge dengan bertelanjang d**a sedang berbicara formal melalui sambungan telepon genggamnya. tak jauh dari sana salma juga di sibukkan dengan dengan belajar berenang di dalam sebuah kolam renang ukuran 7x4 m2 meski tidak sejago Fahri, ia mencoba mencapai ujung ke ujung dengan gaya bebas yang di ajarkan fahri di awal. "Baiklah kalau begitu,pak. nanti akan saya coba cek ulang.. iya..baik...." Fahri menghembuskan nafas kasar sembari memastikan ia sudah mengahiri panggilanya. ia mengulurkan tangannya meraih minuman di meja di sampingnya , mengecek pesan masuk terdapat tiga pesan masuk yang belum terbaca. Fahri mengerutkan keningnya ia ragu apakah membukanya ide bagus atau tidak, lalu jari jempolnya menekan pesan yang di kirim oleh sangg istri. "Mas, surabaya hujan lebat, kamu bawa jaket kan?" "Mas Fahri, Aku mampir ke tempat ibu ya." ibu mana? ah pasti ibunya, batin fahri. "Mas, gak cuma mampir. aku menginap sekalian ya. kamu hati-hati jangan lupa minum suplemen dan vitamin" Fahri tidak bergeming, entah apa yang sedang ia pikirkan sampai membuat eskpresi yang entah...sulit di jelaskan. sebuah panggilan membuyarkan lamunan fahri, ia sedikit tersentak kaget yang ternyata salma sedang memanggil-manggil dirinya yang tak tertangkap oleh rungu fahri. Salma terlihat bingung namun segan untuk menanyakannya. "sini ajarin aku renang lagi" salma melambaikan tangannya sebagai perintah. "iya aku kesana" balas fahri tenang. namun tidak dapat di pungkiri entah suatu sebab ia merasa berenang tidak terlalu menarik seperti beberapa menit yang lalu. ia merasa aneh ada sesuatu beban tapi ia tidak mengetahui jawabannya. setelahnya sebuah ingatan tiba-tiba seketika muncul tanpa panggilan sebuah memori tentang Mika yang bersikeras memaksanya untuk membawa jaket tepat sebelum dirinya berangkat kemari. "tch.. Dia sudah terlihat seperti emak-emak indo saja" guman Fahri namun detik berikutnya ia terkekeh karena ingatan yang tiba-tiba muncul, pemandangan ini tak luput dari dari salma yang sedang memperhatikannya. . . bersambung....
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD