Pagi ini, hujan turun dengan lebatnya. mika yang sejak tadi duduk kebingungan. ia dengan cemasnya beberapa kali mengecek arloji miliknya , hujan tak kunjung reda sejak kemarin bahkan semalam begitu deras sampai mika basah kuyup meski sudah memakai mantel hujan. Mika hendak berdiri meyakinkan dirinya jika hujan bukanklah masalah besar, ia meraih windbreaker berwarna tawny di sampingnya yang sudah ia persiapkan. menuju garasi memakai mantel transparan yang menutupi dirinya dari ujung kepala sampai ujung kakinya.
"huuuuuh dinginya.." ujar mika yang seketika menggigil karena semilir membawa dinginnya angin karena saking derasnya hujan pagi ini.
Mika tidak ingin berlama-lama berkeluh kesah karena cuaca yang tidak bersabahat kali ini, ia menstarter motornya bersiap menerjang jalanan kota yang saat ini sudah hampir tergenang karena hujan tidak berhenti sejak kemarin.
.
.
Di dalam selimut tebal dua insan saling mempererat pelukannya, sesekali sang pria mengecup mesra puncak kepala sang wanita. terdengar dari luar gemercik air semakin terdengar nyaring. Fahri meraih ponsel pintarnya sekedar mengecek ramalan cuaca hari ini yang menunjukkan jika hari ini langit begitu cerah begitu kata ramalan aplikasi cuaca, tapi saat fahri membuka mata yang di dengarnnya hanyalah gemercik air yang semakin hebat berasal dari luar balkon kamarnya. Ia meletakkan ponselnya dengan malas lalu sesuatu pemandangan menakjubkan tepat di sampingnya, seorang gadis cantik tanpa makeup dengan bibir semu pink terlihat masih terjaga dalam tidurnya. Fahri memandangi wanita pujaannya dari ujung mata sampai berhenti pada bibir kecil yang terlihat begitu menggoda. ia mendekat untuk mencuri kecupan pagi, membuat wanita di sampingnya menggeliat manja, gairah fahri tiba-tiba bertambah seakan ia masih menginginkan sang wanita itu meski mereka sudah melakukannya semalaman suntuk, ingatan fahri tentang semalam membuatnya tersenyum jahil, mengingat dirinya dan salma di selimuti gairah rindu yang sudah lama tidak tersalurkan karena pertemuan mereka yang tidak sesering dulu.
"emmmhhh" Salma menggosok-gosokan kedua mata dengan tangannya, mengerjabkan matanya agar pandangannya lebih jelas. pemandangan pertama yang di lihatnya adalah senyum tulus fahri yang menambah ketampananya. Salma pun tersipu malu ia buru-buru meraih selimut unutk menutupi wajah nya yang pasti sudah semerah tomat, tetapi fahri lebih cepat ia menahan salma yang hendak bersembunyi darinya, lalu membisikan sesuatu yang membuat salma tambah salah tingkah, Fahri begitu puas menjahili wanita yang dicintainya itu.
"udah, udah. ayo bersih-bersih dulu terus sarapan, kamu pasti laper kan. kan semalem energi kamu habis sampai minta ampun segala" goda Fahri, ia terkekeh melihat eskpresi salma yang sudah memoncongkan bibirnya karena kesal fahri terus menerus menggodanya.
"jangan marah dong sayang" fahri mengikuti salma yang sedang berpura-pura marah tidak menggubris candaan fahri.
.
.
Hatchiiii!!
Mika berulang kali menggosokan selembar tisu pada hidungnya yang di rasa lebih gatal dan merasakan jika suhu tubuhnya yang menurun. hawa dingin begitu kerasa saat mika bersenggolan dengan sesuatu yang terbuat dari baja besi, mika sepertinya sadar jika dirinya akan terkena flu . karena kehujanan dua hari berturut turut.
"Ini.." Sebuah tangan mengulurkan segelas yang berisikan sesuatu yang hangat, mika terperanjat lalu mendongakkan terdapat romi yang cemas terlihat dari raut mukannya.
"eh, kak. ini" mika mencoba mengecek isi dari mug berwana hijau yang berisikan coklat panas, dengan segan mika mencoba menolak namun balasan romi mmebuat mika berkecil hati.
"Kamu kan bekerja disini, jika kamu sakit kamu itu akan merugikan orang lain juga. jadi minumlah ini, aku sungguh tidak bermaksud apa-apa" jelas romi terdengar tegas namun tersirat kekhawatiran dari perkataan romi.
mika hanya mengangguk, menuruti perintah romi sekilas tersenyum manis lalu pergi meninggalkan mika yang masih membeku karena perhatian yang di berikan romi, dia selalu menyadari lebih awal dari padaku. batin mika. lalu menggeleng kuat-kuat agar tidak terlena oleh perhatian yang orang luar berikan.
"Mas Fahri bagaimana ya kabarnya?, hujan terus menerus. aku harap dia baik-baik saja" kata mika sambil menyeruput coklat panas pemberian romi.
ponsel mika berdering, mika dengan buru-buru mengecek siapa yang sedang menelpon barangkali sang suami , dengan antusias ia melihat panggilan masuk yang tertera adalah ibuku , ada perasaan kecewa tapi mika langsung beristigfar mengingat jika saat ini ia merasa kurang ajar terhadap ibunya.
"Assalam'mualaikum ibu.." sapa mika setelah ia menerima telpon.
"waalaikum'sallam, ndukk. lagi apa kamu?" terdengar suara di sebrang terdengar khawatir. mika menyadari nya.
"ibu ada apa?, kenapa suaranya gitu?" tanya mika balik.
"ah, enggak kok. ibu cuma kangen kamu saja nduk. apalagi ini musim hujan, kamu gak sakit kan?"
"alhamdulillah mika sehat ibu, bagaimana kabar ibu sama bapak? sehat?"
"jangan sampai sakit lo, cuaca kayak gini bikin orang sakit, ibu keinget kamu kalau dulu kamu sering sakit kalau habis hujan-hujanan" kata rumini lembut. mika tak mampu menahan airmata yang sudah membasahi pipinya. ia merasa kerinduan yang amat besar apalagi ibunya mengingat kebiasaannya ketika kehujanan, namun dirinya malah kecewa karena yang menelponnya buka fahri melainkan ibunnya. mika merasa menyesal.
"mika inget banget pesan ibu kok tenang saja.." mika mencoba menenangkan rumini.
"sering-sering telpon ibu ya, kalau kamu butuh sesuatu. bicara sama ibu" tutur rumini. Namun mika tidak menjawabnya rumini sekali lagi memanggil mika karena tidak terdengar jawaban dari putri kesayangannya. terlihat mika sedang berpikir sesuatu ada tekanan yang membuatt alis keduanya menyatu.
"Ibu, hari ini mika boleh kesana. mas fahri ada perjalanan bisnis, jadi mika pasti kesepian " tanya mika meminta izin dengan perasaan gugup karena ini pertama kalinya dirinya meminta izin apakah boleh mengunjungi kediaman orang tuanya. gantian rumini yang tidak menjawab mika. mika menunggu jawaban rumini dengan tegang. sampai pada rumini mengiyakan mika untuk pulang.
"kalau kamu pulang hati-hati, nanti ibu buatin sup kesukaan kamu" mika senang mendengarnya, sup kacang ijo kesukaan nya memang paling enak di makan ketika hujan lebat seperti saat ini.
mika menatap langit yang masih di penuhi awan gelap saling bertabrakan membuat nya semakin menghitam , pertanda jika hujan tidak akan reda dalam waktu dekat. fokusnya mengarah pada rintikan hujan yang jatuh dari atap begitu juga semilir angin yang terbawa terasa dingin ketika menyentuh kulit wajah mika.
Aku hanya memikirkan diriku, membuat orang-orang di terdekatku merasa kesepian.
Aku hanya sedih karena memiliki harapan, tetapi tak bisa mengubah apapun.
.
.
bersambung...