bc

KOMPAS YANG BERBELOK

book_age12+
0
FOLLOW
1K
READ
BE
sweet
campus
like
intro-logo
Blurb

Seorang mahasiswa yang mengimpikan suatu Perguruan Tinggi Negeri dan Jurusan Impian. Dia sudah sangat berjuang untuk mendapatkan Perguruan Tinggi Negeri dan Jurusan yang ia impikan. Tetapi pada akhirnya, Ia harus menerima kenyataan bahwa dia tidak di Perguruan Tinggi Negeri dan Jurusan Impian itu

chap-preview
Free preview
AMBIS DI ATAS MEJA BELAJAR
Dinding kamar itu bukan sekadar sekumpulan batu bata berpintal semen dan cat putih yang melupas di sudutnya. Baginya, dinding di atas meja belajarnya adalah kanvas besar tempat ia melukiskan seluruh masa depannya. Sejak hari pertama ia mengenakan seragam putih-abu di kelas sepuluh, sebuah cetakan kertas A4 bersimbol lambang universitas ternama telah bertengger di sana. Di bawah logo gagah itu, tertera tulisan yang diketik dengan huruf tebal dan digarisbawahi menggunakan spidol hitam: Teknik Industri. Baginya, tiga tahun masa SMA bukanlah tentang nongkrong hingga larut malam di kafe-kafe kekinian, berbincang tanpa arah di pinggir jalan, atau menghabiskan akhir pekan dengan gim daring bersama teman-teman sebayanya. Ketika teman-temannya sibuk merencanakan liburan semester atau membicarakan konser musik, Dia memilih untuk mengurung diri di kamar. Waktunya terukur dari detak jarum jam dinding yang menemani lembar demi lembar buku soal. Meja belajarnya tak pernah rapi selalu ada tumpukan modul bimbingan belajar, kertas latihan soal yang penuh dengan corak rumus matematika, serta deretan catatan analisis materi yang ia buat sendiri. Setiap kali rasa jenuh menyergap, ketika matanya mulai berat dan kepalanya berdenyut karena kelelahan di tengah malam yang sunyi, Dia selalu melakukan ritual yang sama. Ia akan bersandar pada kursi kayunya, menengadah, dan menatap logo universitas di dinding tersebut. Pandangan mata itu seolah menyerap kembali energi yang sempat menguap. Ia meyakinkan dirinya sendiri bahwa setiap detik ketidaknyamanan yang ia rasakan saat ini adalah investasi untuk kejayaan masa depan. Ia menyusun peta jalannya dengan amat presisi menjaga nilai rapor semester demi semester agar grafiknya selalu menanjak, menolak berbagai ajakan berhura-hura, dan menanamkan keyakinan tunggal bahwa takdir selalu adil pada mereka yang bekerja keras tanpa henti. Namun, dunia tidak selalu berputar sesuai dengan rumus-rumus presisi yang dipelajarinya. Sore di hari pengumuman itu menjadi titik di mana seluruh fondasi yang ia bangun dengan cermat mendadak retak. Jarum jam di dinding menunjuk tepat pukul tiga sore. Udara di dalam kamar terasa mendadak tebal dan membekukan, meski kipas angin berputar kencang. Dengan jemari yang basah oleh keringat dingin dan d**a yang bergemuruh hebat, Dia menatap layar laptop di hadapannya. Halaman situs pengumuman seleksi nasional sudah terbuka. Ia menghela napas panjang, mencoba menenangkan detak jantungnya yang melonjak tak beraturan, lalu perlahan memasukkan nomor peserta beserta tanggal lahirnya. Layar monitor menampilkan hitung mundur beberapa detik yang terasa memakan waktu bertahun-tahun. Ketika waktu habis, dengan genggaman tangan yang gemetar, ia mengarahkan kursor dan menekan tombol masuk. Sekejap mata, warna layar berubah. Bukan warna hijau hangat dengan kembang api digital atau tulisan "Selamat" yang menyambutnya. Layar itu justru diselimuti kotak warna merah menyala yang dingin dan menusuk mata. Di dalamnya, tertera sebuah kalimat singkat yang meruntuhkan segalanya dalam hitungan detik: Anda dinyatakan tidak lolos seleksi. Keheningan melingkupi kamar itu. Dia tidak berteriak, tidak pula menangis meluap-luap. Ia hanya terpaku, menatap layar merah itu tanpa berkedip. Dunia di sekitarnya seolah mendadak bisu. Semua ingatan tentang malam-malam tanpa tidur, tumpukan buku soal yang ia khatamkan, dan pengorbanannya selama tiga tahun mendadak terbentang di depan matanya seperti sebuah lelucon pahit. Rasa kecewa itu bukan lagi berupa amarah, melainkan kehampaan yang mengendap jauh di dasar d**a. Dalam rentang waktu berikutnya, Dia berusaha bangkit. Ia mengikuti berbagai tes seleksi mandiri, bepergian ke luar kota dengan sisa-sisa tenaga dan harapan yang kian menipis untuk melakoni ujian demi ujian. Namun, seolah takdir telah mengunci pintunya rapat-rapat, setiap pengumuman yang ia buka selalu berakhir dengan hasil yang sama: kegagalan. Peta masa depan yang telah ia gambar dengan penuh ketelitian selama ribuan hari lebur seketika, menyisakan dirinya yang berdiri linglung di tengah puing-puing mimpinya sendiri.

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Gairah Lama Kembali Membakar

read
4.5K
bc

NIKAH??? BOHONGAN???!!!

read
3.3K
bc

Putri Haram Konglomerat untuk Tuan Muda Cacat

read
17.8K
bc

Kuliah Malam Bersama Dosen Hot

read
156.5K
bc

Orang Ketiga

read
36.9K
bc

B̶u̶k̶a̶n̶ Pilihan Hatimu

read
114.4K
bc

Babysitter Canduku

read
20.1K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook