Hari ini aku bangun pagi-pagi sekali, aku menyiapkan bekal makan siang untukku dan Kyo dengan menata masakan ibu di dalam wadah plastik yang sudah kusiapkan sebelumnya. Karena Kyo akan datang ke sekolah hari ini jadi kuputuskan untuk menyiapkan dua bekal makan siang agar dia tidak mengganggu bekalku. Memang aku ingat dia memintaku untuk memasak sendiri tapi aku belum sepercaya diri itu karena menyadari sepenuhnya masakanku tak seenak masakan ibu. Jujur aku belum siap mendengar Kyo mengejekku nanti. Karena itu yang kulakukan pagi ini hanya membantu ibu menata masakannya di dalam wadah plastik ini. Ibu hanya tersenyum melihatku sibuk sendiri.
Setelah semua aktivitasku selesai. Seperti; mandi, mengenakan seragam sekolah, memastikan buku pelajaran hari ini telah masuk ke dalam tas, tak lupa aku menyempatkan diri untuk sarapan, aku pun segera berangkat ke sekolah. Rasanya ingin sekali aku segera tiba di sekolah dan bertemu dengannya.
Seperti biasa aku berangkat dengan menaiki bus umum dan begitu tiba di sekolah, aku pergi ke kelasku untuk menaruh tas. Kemudian aku bergegas menuju gerbang untuk menunggu kedatangan Kyo. Satu per satu terlihat siswa memasuki gerbang dengan mengendarai kendaraan mewah mereka tentunya, tapi sosok Kyo masih belum terlihat.
Cukup lama aku menunggunya bahkan bel tanda pelajaran dimulai pun telah terdengar. Sempat aku berpikir dia tidak datang lagi ke sekolah hari ini dan berniat kembali ke kelasku. Namun aku segera mengurungkan niat begitu terdengar suara motor memasuki gerbang. Motor sport merah itu, aku yakin itu memang motor Kyo. Entah karena tidak menyadari kehadiranku atau dia memang ingin segera memarkirkan motornya, dia terus melajukan motornya menuju tempat parkir tanpa menyapaku sedikitpun. Sudah sengaja menunggu lama, aku justru diabaikan. Tentu aku kesal tapi kucoba memakluminya mungkin dia memang tak melihatku. Aku segera berlari menuju tempat parkir karena sejujurnya rasa rinduku padanya berhasil mengalahkan kekesalanku tadi padanya.
Di tempat parkir, aku melihat Kyo turun dari motor dan melepas helm merahnya. Kini wajah tampannya yang sangat aku rindukan dapat aku lihat dengan jelas. Dia terlihat lebih keren dari sebelumnya, atau mungkin ini hanya perasaanku saja karena aku sudah lama tidak melihatnya.
“Hai, kenapa menatapku begitu?”
Suaranya yang sangat aku rindukan ini akhirnya dapat aku dengar. Entahlah, aku merasa sudah begitu lama tidak melihatnya padahal sebenarnya hanya dua minggu saja tidak bertemu dengannya. Tapi bagiku dua minggu itu serasa dua tahun, lama sekali.
“Hanna, kau baik-baik saja?”
Aku terkesiap dan seketika kembali tersadar dari lamunanku begitu Kyo menjentikan dua jarinya tepat di depan wajahku.
“Kyo, ternyata kau benar-benar masuk sekolah. Aku pikir kau tidak masuk lagi hari ini.”
Kyo mendengus, “Haah, aku kan sudah bilang hari ini akan kembali ke sekolah. Aku ini selalu menepati kata-kataku. Bagaimana? Apa kau merindukanku?” tanyanya sambil mengedipkan sebelah mata, menggodaku. Tapi entah apa yang terjadi padaku karena sebuah pertanyaan itu sukses membuat air mataku menetes dengan sendirinya.
“Oi, kenapa menangis? Masa ditanya begitu saja menangis?”
Sekali lagi pertanyaannya membuatku tak sanggup untuk menahan air mata yang tak hentinya mengalir ini. Aku tersentak ketika kurasakan Kyo tiba-tiba mengusap puncak kepalaku dengan lembut.
“Sepertinya kau memang sangat merindukanku. Apa kau sebegitu kesepiannya tanpa aku di sekolah?”
Aku mendengus, lalu kupukul pelan bahunya. Walau sebenarnya ingin kuutarakan memang rasanya sangat sepi tanpa kehadiannya di sekolah. Tapi urung kukatakan karena tak ingin dia mencurigai apa pun apalagi sampai menyadari diam-diam aku memendam rasa cinta kepadanya.
***
“Waah, makanan ini enak sekali.”
Itulah yang diucapkan Kyo begitu mencicipi bekal makan siang yang sengaja aku bawakan untuknya. Sebenarnya saat ini kami sedang menghabiskan waktu istirahat bersama, tentu saja dengan memakan bekal makan siang kami di tempat favoritku.
“Ibumu memang pandai memasak ya?” ucapnya, seperti biasa memuji masakan ibuku yang memang sangat lezat. Sesuatu yang hampir selalu dia ucapkan setiap kali memakan bekal yang kubawa. Dan entah kenapa aku tiba-tiba ingin menjahilinya sekarang.
“Itu aku yang memasaknya,” ucapku tanpa beban padahal jelas-jelas aku membohonginya.
“Uhuuuk ... Uhuuk ... Uhuuuk ... Air .. A ... ir.”
Aku segera menyerahkan botol minumanku padanya. Aku sangat terkejut tiba-tiba dia tersedak seperti itu. Apa itu karena dia begitu terkejut mendengar akulah yang memasak makanan ini? Aku hanya tertawa melihat raut wajahnya kini yang memicing curiga dan memerah karena efek tersedak tadi.
“Sungguh kau yang memasaknya?”
“Tentu saja. Bukankah kau bilang ingin mencicipi masakanku?” balasku sembari menaik-turunkan kedua alis. Aku pikir Kyo akan langsung menyadari bahwa aku sedang berbohong. Tapi ...
“Waah, hebat. Ternyata masakanmu tidak kalah enaknya dengan ibumu. Sepertinya kau akan menjadi istri idaman jika sudah dewasa nanti,” katanya sambil meneruskan kembali melahap makanannya. Dan sekarang gantian aku yang tersedak karena ucapannya ini sungguh sangat mengejutkan.
“Kenapa kau jadi ikut-ikutan tersedak? Ini, minum!”
Dia mengulurkan botol minum yang airnya tadi dia minum. Tanpa ragu aku meneguk air sampai nyaris tak bersisa karena tenggorokanku rasanya begitu sakit serasa ada makanan yang masih menyangkut di sana.
“Kau meminumnya tanpa ragu ya, aku salut padamu.”
Aku mengernyit bingung sambil menatap botol minum yang masih berada dalam pegangan tanganku. “Memangnya kenapa? Ada yang salah dengan air minum ini?”
Kyo menggelengkan kepala, “Bukan airnya yang bermasalah, tapi botolnya.”
“Haah? Kenapa?” Kembali kuperhatikan botol minum yang berbahan plastik itu. Botol minum yang nyaris selalu kubawa setiap hari.
“Kau masih belum menyadarinya?”
“Menyadari apa? Jangan bicara yang aneh-aneh, katakan dengan jelas agar aku mengerti.”
Kyo mendengus, tampak jengkel. “Orang bilang kau ini cerdas, masa hal seperti ini saja tidak mengerti,” katanya, yang hanya kubalas dengan delikan tajam. “Botol itu kan bekas bibirku, kau juga minum di sana bukankah artinya kita berciuman secara tidak langsung?”
Detik itu juga aku mematung di tempat sambil menatap horor pada kepala botol di mana bibirku dan bibir Kyo memang sempat menempel di sana. Kyo tiba-tiba tertawa terbahak-bahak, aku menoleh sambil menatap curiga padanya.
“Kenapa kau tertawa?”
“Lucu saja. Kebohongan seperti ini saja kau percayai. Masa karena minum di botol yang sama dianggap berciuman. Konyol sekali.”
“Bukankah kau tadi yang mengatakan seperti itu?”
“Aku hanya sedang mengetes reaksimu, tak kusangka kau mempercayainya begitu saja. Hanna, Hanna, aku baru sekarang bertemu dengan gadis polos sepertimu. Sangat mudah tertipu.” Dan dia pun kembali tertawa. Aku rasanya ingin mencakar wajahnya yang tampan itu namun tak jadi karena seseorang yang kulihat sedang berjalan menghampiri kami.
“Oi, Kyo, di sini kau rupanya. Aku mencarimu dari tadi.”
Sebuah suara sepertinya mengejutkan Kyo karena orang itu memang muncul dari arah belakang Kyo, berbeda denganku yang sudah tahu orang ini akan menghampiri kami karena melihatnya saat berjalan santai menuju tempat kami berada. Orang itu tidak lain merupakan teman baik Kyo, Siky.
“Oh, rupanya ada Hanna juga di sini. Maaf aku mengganggu kencan kalian,” katanya sambil mengedipkan sebelah mata padaku, penuh godaan.
“Tidak apa-apa. Sama sekali tidak mengganggu. Lagi pula kami hanya sedang memakan bekal, bukan sedang berkencan,” jawabku seramah mungkin.
“Siapa bilang tidak mengganggu? Kau memang sangat mengganggu kami yang sedang berpacaran.”
Kyo-lah yang mengatakan itu, membuatku mendelik tajam ke arahnya. Apa-apaan dia? Aku tidak menyangka dia akan mengatakan kebohongan seperti itu pada Siky.
“Hahahaha ... maaf, maaf.”
Melihat reaksi Siky yang hanya tertawa, kuharap dia tidak salah paham dan menganggap kebohongan Kyo sebagai kebenaran.
“Ada apa kau mencariku?”
Namun Siky mengabaikan pertanyaan Kyo, dia mengambil bekal makan siangku yang kuletakkan di tanah berumput. Lalu tanpa meminta izin padaku, dia melahap makananku yang masih tersisa cukup banyak.
“Waah, enak sekali makanan ini. Lebih enak dari makanan di Cafe sekolah. Beruntung sekali kau bisa memakan makanan seenak ini setiap hari, Kyo.”
“Hei, bodoh ... itu makanan pacarku!”
Kyo bermaksud merebut bekal makan siangku yang kini berada di tangan Siky, namun Siky berusaha terus menghindarinya. Tingkah laku mereka terlihat lucu bagiku, kendati demikian sama sekali tak membuatku tertawa karena aku terlalu syok mendengar ucapan Kyo tadi. Kenapa dia mengatakan aku pacarnya di depan Siky? Aku menggelengkan kepala, semakin khawatir Siky akan termakan kebohongannya.
“Kau tidak lihat dia baru memakannya sedikit? Kembalikan pada Hanna, Siky. Sebagai temanku, kau membuatku malu.”
Setelah mendengar ucapan Kyo itu, Siky menoleh padaku dan raut wajahnya terlihat penuh penyesalan. “Maaf, maaf. Ini aku kembalikan makananmu, Hanna. Terima kasih. Rasanya enak sekali.”
Aku menggelengkan kepala sembari mendorong bekal makan siang yang Siky ulurkan padaku. “Tidak apa-apa, kau habiskan saja makanannya, Siky. Aku sudah kenyang,” kataku, tulus.
“Tidak. Kau saja yang habiskan. Sepertinya kau baru memakannya sedikit.” Siky kembali mengulurkan bekal makan siang di tangannya padaku. Aku bermaksud menerimanya namun aku segera mengurungkannya setelah mendengar perkataan Kyo.
“Tidak, tidak! Jangan kau makan lagi. Nanti penyakit dia menular padamu, Hanna!”
Siky seketika mendelik tajam pada Kyo. “Kau jahat sekali, Kyo. Memang aku punya penyakit apa? Lagi pula, tadi kau yang menyuruhku mengembalikan makanannya karena baru Hanna makan sedikit.”
Kyo menggeleng dengan tegas, “Sudah. Kau habiskan saja makanannya. Kasihan Hanna memakan makanan bekas kau makan. Sudah tidak steril lagi, pasti banyak kumannya sekarang.”
Siky berdecak jengkel, tapi toh pada akhirnya dia sendiri yang memakan makanan itu. Siky melahap kembali makanannya hingga makanan itu pun habis tak bersisa.
“Haah, kenyang sekali,” kata Siky sembari mengusap-usap perutnya yang kekenyangan. “Hanna, terima kasih makanannya. Aku akan kembali ke kelasku, aku tidak akan mengganggu kalian lagi.” Siky beranjak bangun dan bersiap melangkahkan kaki, benar-benar akan pergi meninggalkan kami.
“Hei, kenapa kau mencariku? Kau belum menjawabnya?” tanya Kyo, yang membuat Siky mengurungkan niat untuk pergi.
“Oh, iya, hampir lupa. Nanti malam kau dating, kan? Teman-teman kita menanyakanmu.”
Kyo tertegun sepersekian detik, sebelum kepalanya tiba-tiba terangguk, “Tentu aku akan datang.”
“OK.” Siky memasang jari-jari tangannya membentuk kata OK, kemudian dia pun melanjutkan langkah hingga lenyap dari pandangan kami. Entah apa yang dibicarakan mereka tadi, membuat rasa penasaran mulai naik ke permukaan dan memenuhi pikiranku.
“Memangnya nanti malam kalian akan pergi kemana?” tanyaku pada Kyo yang sedang menyandarkan tubuhnya pada pohon.
“Kau benar ingin tahu?”
Aku mengangguk tanpa ragu, “Tentu saja,” jawabku tegas.
Aku mulai mencurigai sesuatu. Sebenarnya apa yang dilakukan dua pria ini di malam hari? Tentu saja aku sangat ingin mengetahui jawaban dari pertanyaanku ini.
“Baiklah. Nanti malam aku akan mengajakmu,” kata Kyo, mengizinkanku untuk ikut.
Rasa penasaran ini semakin besar kurasakan. Ya, aku tidak memiliki pilihan selain ikut dengan Kyo nanti malam jika aku memang ingin mengetahuinya.
***
Setelah aku menyelesaikan pekerjaanku di mini market, aku pun segera menghampiri sebuah motor yang sejak tadi terparkir tidak jauh dari mini market. Pemilik motor itu tentu saja adalah Kyo. Seperti yang dia katakan di sekolah tadi, malam ini dia akan mengajakku ke suatu tempat. Entah tempat seperti apa itu? Aku berharap bukan tempat terlarang yang tidak seharusnya didatangi pelajar seperti kami.
Seperti biasa Kyo mengendarai motornya dengan mengebut sehingga tidak lama perjalanan kami, akhirnya kami pun tiba di sebuah jalan raya yang sangat ramai. Tempat ini hanya sebuah lahan kosong dan hanya ada jalan beraspal di sini. Kenapa Kyo mengajakku ke tempat ini? Itulah pertanyaan yang terus berputar-putar di kepalaku.
Begitu turun dari motor, Kyo menggandeng tanganku lalu kami menghampiri beberapa orang yang sedang berkerumun. Jika melihat penampilan mereka yang urakan, tampaknya mereka berandalan. Tentu saja rasa takut mulai kurasakan sehingga aku sedikit enggan untuk menghampiri mereka. Namun menyadari tak ada jalan untuk kembali, aku dengan terpaksa tetap melangkah mengikuti Kyo.
“Oi, Kyo ... akhirnya kau datang juga!” teriak salah seorang pria dari kerumunan itu.
“Maaf, aku terlambat,” balas Kyo.
Tatapan mereka kini tertuju padaku membuatku refleks melingkarkan tangan di lengan Kyo dan memeluknya erat tanpa sadar untuk mencari perlindingan.
“Siapa wanita itu? Apa dia pacar barumu?”
Seseorang bertanya demikian pada Kyo sambil menunjuk ke arahku.
“Anggap saja begitu. Namanya Hanna,” jawab Kyo. Kedua mataku membulat sempurna mendengar jawabannya ini namun tak berani membantah karena mungkin ini jawaban yang terbaik agar pria-pria berandalan itu tidak mengangguku jika berpikir aku ini pacarnya Kyo. Karena itu, aku hanya diam tanpa berkomentar apa pun.
Kini kami pun sudah bergabung dengan kerumunan itu. Menatap mereka semua, aku merasa semakin takut. Inikah alasan Kyo berpenampilan urakan karena dia bergaul dengan berandalan-berandalan ini?
“Hai, Hanna, senang bertemu denganmu. Perkenalkan namaku Amane Chika.”
Seorang wanita tiba-tiba mengenalkan diri sambil mengulurkan tangan kanannya padaku. Aku tidak menyangka di sini ada wanita yang ikut serta. Meskipun setelah aku tatap satu per satu, memang ada beberapa wanita di antara mereka.
“Sakuragi Hanna,” jawabku, ikut memperkenalkan diri sambil menerima uluran tangannya.
“Hai, Hanna ... Chika ini pacarku,” ujar seseorang yang berdiri di samping Chika yang baru kusadari adalah Siky. Melihat penampilan Chika yang tampak dewasa itu, aku merasa dia bukanlah siswa senior high school sepertiku. Tapi dia sangat cantik dan ramah, dia juga terlihat begitu serasi dengan Siky.
“Hanna, kau tunggu di sini bersama Chika ya. Aku akan segera kembali.”
Kyo mengatakan itu dan melepaskan genggaman tanganku padanya. Dia berjalan ke arah motornya, disusul dengan beberapa pria termasuk Siky. Kini Kyo, Siky dan beberapa pria menunggangi motor mereka yang berderet di jalanan. Situasi seperti ini, mungkinkah mereka akan melakukan balapan motor?
“C-Chika, apa mereka akan melakukan balapan?” tanyaku pada Chika, berharap pemikiranku ini salah.
Namun yang kudapati adalah Chika mengangguk tanpa ragu, “Benar. Apa Kyo tidak memberitahumu sebelumnya, hampir setiap malam mereka balapan di sini? Kau pasti akan terkejut melihatnya, Kyo ... dia yang tercepat.”
Aku tak mampu berkata-kata lagi setelah jawaban Chika menegaskan bahwa pemikiranku tadi memang benar.
Kyo dan beberapa pria lainnya menyalakan mesin motor masing-masing, bersiap untuk memulai balapan sehingga di tempat ini terdengar sangat bising. Semua orang saling bersahutan membuat tempat ini semakin ramai. Seorang wanita berpakaian seksi terlihat memegang sebuah bendera, dia berjalan dan berhenti untuk sesaat di tengah jalan, tepat di depan semua peserta balapan. Setelah wanita itu berdiri di pinggir jalan dan mengibar-ngibarkan benderanya, balapan itu pun dimulai. Mereka melajukan motor dengan sangat kencang. Semua orang bersorak seakan-akan sangat menikmati balapan ini.
Teriakan mereka semakin menggema ketika beberapa peserta balapan mengalami kecelakaan. Beberapa dari mereka terjatuh dan jika melihat cara mereka terjatuh sepertinya kecelakaan mereka cukup serius. Aku tidak mengerti dengan orang-orang ini, bagaimana mungkin mereka menikmati balapan yang mengerikan ini? Bahkan nyawalah yang dipertaruhkan.
“Kau lihat, Hanna, Kyo memimpin balapan?”
Aku bahkan tidak menanggapi perkataan Chika. Aku tidak sanggup lebih lama lagi menyaksikan balapan ini. Mereka melajukan motornya seakan-akan mereka sedang kerasukan, begitu pun dengan Kyo.
Inikah alasan Kyo selalu terlambat datang ke sekolah? Karena setiap malam dia mengikuti balapan ini hingga begadang semalaman. Satu hal lagi yang kuketahui tentang Kyo, namun kenyataan ini membuatku tak sanggup menerimanya karena ternyata aku jatuh cinta pada seorang berandalan.