CHAPTER 10

2053 Words
Setelah selesai mengerjakan tugas sekolah dan belajar sebentar, biasanya aku akan segera menuju tempat tidur untuk tidur. Tapi tidak dengan malam ini. Entah mengapa pikiranku tak henti-hentinya memikirkan pembicaraan hari ini dengan Kaori. Aku masih tak menyangka Kyo memiliki banyak mantan kekasih, dan yang membuatku takjub adalah dia memiliki hubungan yang baik sampai sekarang dengan mantan-mantan kekasihnya. Setidaknya itulah yang kudengar dari Kaori hari ini.  Kyo yang selama ini selalu baik padaku, rupanya dia pun baik pada semua wanita. Mungkinkah seandainya aku menyatakan cinta padanya, dia pun akan menerimanya? Segera kugelengkan kepala, tak pernah kuduga pemikiran seperti ini akan terlintas di benakku. Sejujurnya aku kecewa mendengar dia selalu bersikap baik pada semua wanita. Semula aku mengira, dia hanya bersikap baik padaku. Kutatap jaket hitamnya yang menggantung di dinding. Rasa rindu ini pun terasa tak tertahankan lagi. Baru dua minggu saja tidak melihatnya membuatku merasa tersiksa seperti ini.  Sebenarnya bisa saja aku menghubunginya lewat telepon, tapi mengingat kemungkinan dia sedang sibuk hari ini membuatku segera menepis keinginan dan pemikiranku itu.   “Aku rasa dia memilikinya. Rasanya mustahil seorang Kyo tidak memiliki kekasih karena kau pun pasti tahu banyak wanita yang mengincarnya.”  Perkataan Kaori tadi tiba-tiba terlintas di pikiranku. Sebuah perkataan yang sebenarnya sejak tadi menggangguku. Tak dapat dipungkiri begitu inginnya aku menanyakan hal ini pada Kyo. Tapi aku sadar, mustahil menanyakan itu padanya karena kami bahkan tidak memiliki hubungan yang spesial. Dia menawarkan diri untuk menjadi pelindungku pastilah karena dia merasa kasihan padaku.  Dengan malas aku pun beranjak meninggalkan meja belajar dan berjalan menuju tempat tidurku yang empuk. Kuputuskan untuk berhenti memikirkan hal ini. Setelah merebahkan diri, kupejamkan kedua mata berharap bisa segera tertidur. Akan tetapi, di luar kendaliku, bayangan wajah Kyo selalu terbayang sehingga sekeras apa pun aku mencoba tertidur, sedikit pun aku tak mampu melakukannya.  Wajah Kyo yang tampan, senyumnya yang memesona, sikap menyebalkannya yang suka seenaknya tanpa meminta izin terlebih dahulu, perhatian dan kebaikannya, aku bahkan tak bisa menghitung sudah berapa kali ditolong olehnya. Serta penampilannya yang urakan tapi justru membuat dia terlihat semakin keren. Semua hal tentang Kyo terus melintas di kepalaku tanpa permisi.  Kubuka kembali kedua mata dan kutatap sebuah jam yang terpajang di dinding. Waktu menunjukkan pukul 10 malam. Kuambil handphone yang kuletakkan di meja belajar, jariku sudah berada tepat di tombol angka 1. Jika aku menekannya tentu saja aku akan tersambung dengan nomor handphone Kyo. Bukankah rasa rinduku ini setidaknya bisa sedikit terobati  jika aku mendengar suaranya? Tetapi aku kembali tersadar, meneleponnya sekarang hanya akan membuatnya terganggu karena mungkin saja dia sudah tertidur lelap.  Kutatap layar handphone, selama dua minggu ini dia bahkan tidak pernah sekalipun menghubungiku. Sebenarnya dia memang tak pernah sekalipun menghubungiku. Pertama dan terakhir kalinya aku berbicara di telepon dengannya adalah ketika aku meminta bantuannya. Meminta bantuannya di saat aku bersembunyi dari kejaran dua pria yang ingin menodaiku.  Sempat aku berpikir untuk meletakkan kembali handphone di atas meja, namun sekali lagi wajah Kyo melintas di kepalaku. Aku masih ragu tapi jelas saat ini aku sudah tak sanggup lagi menahan rasa rinduku padanya. Dengan berani kutekan tombol angka 1 sembari memejamkan mata, dengan gugup kuletakkan handphone di telinga. Teleponnya tersambung tapi Kyo belum mengangkatnya. Cukup lama aku menunggu tapi Kyo masih tidak mengangkat teleponku. Aku pun menyerah tampaknya dia memang sudah tertidur saat ini.  Kuletakkan kembali handphone di atas meja belajar lalu berniat kembali merebahkan diri di kasur, namun belum sempat tubuhku kembali berbaring nyaman, aku segera bangun dan mengambil handphone ketika mendengar suara getaran yang kuyakini berasal dari handphoneku. Nama yang tertera di layar handphone telah berhasil membuat jantungku kembali berdetak melebihi kapasitasnya. Sebuah perasaan dimana bukan pertama kalinya aku rasakan. Kyo ... kini dia sedang meneleponku, tanpa ragu aku pun menerima teleponnya.  “Ha-Hallo,” ucapku dengan terbata-bata. “Hallo, Hanna. Kau barusan meneleponku ya? Ada apa? Kau baik-baik saja, kan?” Suaranya yang sangat kurindukan itu  terdengar panik, sepertinya dia mengira aku meneleponnya karena aku sedang berada dalam kesulitan. Mungkin dia teringat pada kejadian malam itu. Aku menggeleng, lupa jika dia tak mungkin bisa melihat responku ini. “Tidak. Aku baik-baik saja. Aku sedang di kamarku sekarang.” “Oh, syukurlah kalau begitu. Apa ada temanmu yang mengganggumu lagi di sekolah?” tanyanya.. “Tidak ada. Berkat Kyo, sekarang teman-teman di kelas sangat baik padaku.” “Hm, baguslah,” katanya. “Lalu kenapa kau meneleponku?” Pertanyaannya itu semakin membuatku gugup karena sungguh aku tidak tahu harus mengatakan apa padanya. Rasanya tidak mungkin jika kukatakan alasan meneleponnya karena aku merindukannya.  “A-Apa aku mengganggumu, Kyo? Kau sudah tidur ya?” tanyaku, mencoba mengalihkan pembicaraan kami. “Tidak. Kau tidak mengganggu. Aku juga belum tidur. Jadi kenapa kau meneleponku?”  Aku sadar usahaku untuk mengalihkan pembicaraan kami tidak berhasil karena dia kembali menanyakan hal itu. Kini aku tidak memiliki pilihan selain menjawabnya. “T-Tidak kenapa-napa, aku hanya ingin menanyakan sesuatu padamu.” “Oh, apa itu?” Aku terdiam, lebih tepatnya sedang memutar otak untuk mencari pertanyaan yang harus kulontarkan padanya karena aku terlanjur berkata demikian. “Aku penasaran ...” Aku menghentikan perkataanku karena keraguan yang kembali menyerangku. Rasanya malu sekali jika aku menanyakan hal yang memang sejak awal membuatku sangat penasaran. “Penasaran ... apa? Ck, kalau bicara jangan setengah-setengah, bisa kan?” katanya, terdengar kesal.  Aku meneguk ludah, sepertinya memang harus kulanjutkan ucapanku. “Ma-Maaf. Aku penasaran kenapa saat itu kau tahu keberadaanku?” “Saat itu?” Nada suaranya terdengar sangat kebingungan, membuatku tersenyum sendiri mendengarnya. “Saat itu ... kapan maksudmu? Hai, jika sedang bicara, katakan yang jelas ya. Jangan membuatku pusing”   Aku yakin dia kesal setengah mati dengan sikapku ini. Aku beruntung karena sebuah pemikiran tiba-tiba terlintas di pikiranku sehingga aku bisa mengubah topik pembicaraan yang tadi nyaris kukatakan padanya.  “Saat aku meneleponmu. Malam itu ketika aku dikejar oleh dua pria suruhan Akemi, padahal aku belum memberitahukan tempatku berada.” Sebenarnya hal ini juga memang mengganjal pikiranku. Entah mengapa saat itu dia bisa mengetahui keberadaanku? Beruntung aku mengingat pertanyaan ini sehingga aku bisa mengalihkan pertanyaan yang awalnya ingin kutanyakan padanya.  “Kau tidak sadar aku menyalakan GPS di handphonemu?” Perkataannya membuatku terkejut, aku memang jarang memegang handphone. Aku bahkan tidak memeriksa apa yang telah Kyo lakukan pada handphoneku ketika dia meminjamnya di tempat favoritku hari itu.  Aku menggeleng, lagi-lagi lupa dia tak mungkin melihat responku ini. “Aku tidak tahu. Aku pikir kau hanya memasukkan nomor teleponmu.” “Tentu saja tidak. Aku sengaja menyalakan GPS handphonemu agar aku bisa mengetahui keberadaanmu.”  Suasana tiba-tiba hening di antara kami, aku masih terdiam mendengar penjelasannya. Aku tidak mengira dia begitu serius ingin menjadi pelindungku sehingga sampai berbuat demikian.  “Hanya itu yang ingin kau tanyakan padaku? Jika tidak ada lagi yang ingin kau tanyakan, aku akan memutus teleponnya.” “Tunggu, Kyo, masih ada hal lain yang ingin aku tanyakan.” Perkataan itu terlontar dengan sendirinya dari mulutku, aku sendiri sangat terkejut ketika menyadari kesalahan besar yang baru saja aku katakan pada Kyo.  “Hm, apa lagi?” katanya terdengar malas.  Aku pikir, sekarang sudah tidak bisa mengelak lagi karena aku tak berhasil menemukan pertanyaan lain untuk mengalihkan pertanyaan sebenarnya yang sejak tadi ingin aku ungkapkan tapi berusaha mati-matian aku tahan. Dengan mengumpulkan segenap keberanian, aku pun akhirnya mengutarakan pertanyaan yang membuatku gugup setengah mati.  “B-Begini, Kyo, aku dengar dari Kaori, katanya kau sering bergonta ganti pacar ya? Apa itu benar?” “Haah? Kaori menceritakan itu padamu?” tanyanya, terdengar terkejut. “Ya. Aku menanyakannya karena aku pikir perbuatanmu itu buruk sekali. Bagaimana mungkin kau tega mempermainkan mereka begitu? Aku tidak menyangka kau itu seorang playboy.” Suara dengusan Kyo terdengar kencang di telingaku. “Playboy? Enak saja kau menyebutku playboy. Aku tidak pernah mendekati mereka, merekalah yang menyatakan cinta padaku.” Di sini aku memutar bola mata, “Kenapa kau menerimanya?” “Aku tidak tega menolak mereka. Kenapa memangnya? Tidak boleh?”  Aku menggeram dalam hati, entah kenapa hatiku kesal sekali mendengar jawabannya yang terkesan terlalu santai dan enteng itu seolah baginya bergonta-ganti pasangan sama sekali bukan perbuatan yang buruk.  “Tentu saja tidak boleh. Lagi pula seharusnya kau berpacaran dengan wanita yang kau sukai, bukannya dengan setiap wanita yang menyatakan cinta padamu. Bukankah itu artinya sama saja kau mempermainkan mereka? Kau hanya kasihan pada mereka, kan?” Kyo hanya terdiam, aku bahkan tidak mendengar suaranya sedikit pun. Mungkinkah dia marah padaku karena beraninya aku mengatakan ini padanya?  “Hei, Kyo ... maaf. Apa kau marah?” tanyaku pelan dan berusaha terdengar seramah mungkin. “Mungkin selama ini aku belum menemukan wanita yang kusukai,” jawabnya, sungguh berhasil membuatku tersentak. “K-Kau belum pernah jatuh cinta pada seseorang?”  Aku terbawa suasana sehingga pertanyaanku mulai sangat berani padanya. Padahal jika dipikir-pikir pertanyaanku terlalu berlebihan karena ini menyangkut privasinya. Aku sadar sudah melewati batas wajar karena mengingat hubungan kami yang hanya sebatas teman biasa, tapi aku sudah berani menanyakan kehidupan pribadinya. Bahkan kata teman pun belum pernah terlontar dari mulutnya maupun mulutku. Aku ingat yang dia katakan hanya ingin menjadi pelindungku, bukan temanku.  “Hei, apa kita benar-benar harus membahas masalah seperti ini? Kau ini kenapa tiba-tiba menanyakan tentang mantan-mantan kekasihku?”  Sudah kuduga pertanyaanku ini memang membuatnya tidak nyaman. Aku menghela napas panjang, meski penasaran dengan jawabannya atas pertanyaanku tadi, aku memutuskan untuk menghentikan pembahasan ini.  “Jika kau tidak mau menjawabnya, ya sudah. Kita tidak perlu membahasnya lagi. Lagi pula, aku hanya penasaran saja karena Kaori tiba-tiba menceritakan tentang masa lalu kalian.” “Oh, kau sudah tahu dulu kami sepasang kekasih?” tanya Kyo, tak terdengar terkejut mendengar Kaori menceritakan tentang masa lalu mereka padaku. “Iya, aku sudah mengetahuinya. Pantas saja kalian terlihat dekat.” “Aku dan Kaori pernah menjalani masa-masa menyenangkan berdua. Jadi ya, aku tidak ingin memiliki hubungan buruk dengannya walau kisah kami sudah berakhir.” “Aku dengar kau yang memutuskan hubungan kalian?” “Ya, begitulah,” jawabnya tak membantah sedikit pun. “Kenapa kau meminta putus?”  Lagi, tanpa sadar aku terlalu berlebihan mengorek informasi tentang kehidupan pribadinya. Aku menggigit bibir, merutuki kebodohanku yang terlalu penasaran jika sudah berhubungan dengan Kyo. Aku jadi khawatir, lambat laun perasaanku ini akan disadari olehnya.  “Karena ada gadis lain yang menyatakan cinta padaku. Aku tidak ingin mengkhianati Kaori karena itu aku memutuskan hubungan kami sebelum aku resmi berpacaran dengan gadis itu.”  Aku menggelengkan kepala, benar-benar tak habis pikir dengan jalan pikiran Kyo. “Kau memang aneh ya. Mana ada pria yang menerima dan berpacaran dengan semua wanita yang menyatakan cinta padanya.” “Buktinya ada, kan? Kau bahkan mengenalnya sekarang. Pria b******k itu aku,” katanya sambil terkekeh. “Kau harus lebih tegas, Kyo. Kau harus menjalin hubungan serius dengan satu wanita. Jangan berganti-ganti pasangan seperti itu karena kesannya kau ini pria playboy tidak tahu diri yang senang mempermainkan perasaan wanita.” “Wah, aku sedang diceramahi.”  Aku membekap mulut. Nah, entah untuk keberapa kalinya aku terlalu terbawa suasana karena sebal mendengar kelakuannya yang melenceng menurutku.  “Untuk menjawab pertanyaanmu tadi. Tentu aku akan berhenti berpacaran dengan sembarang wanita jika aku sudah menemukan seseorang yang berhasil membuatku jatuh cinta. Karena saat ini aku belum menemukannya, jadi ya, aku akan menjalani hidup seperti ini karena aku menikmatinya.”  Tanpa sadar aku mengepalkan tangan di sini, jawaban Kyo ini bagiku merupakan penegasan bahwa cintaku padanya memang bertepuk sebelah tangan. Hanya aku yang jatuh cinta padanya sedangkan dia ... entahlah, aku tak tahu sebenarnya dia menganggapku apa.  “Ada lagi yang ingin kau tanyakan, Hanna?” tanyanya, pikiranku yang sempat melanglang buana pun kini telah kembali pada realita yang menyakitkan ini.  “Kapan kau kembali ke sekolah?” Meski hatiku sakit seolah ada belati tak kasat mata yang menancap di sana, aku berusaha bersikap senormal mungkin. “Hm, mungkin besok. Aku usahakan besok.”  Aku mengangguk, karena rasanya aku ingin sekali menangis sekarang jadi kuputuskan untuk mengakhiri pembicaraan ini.  “Baguslah. Sampai bertemu besok di sekolah, Kyo.” “Tapi aku tidak janji datang ke sekolah besok. Kita lihat saja nanti ya.” “OK,” sahutku. “Kyo, sudah malam. Aku sudah mengantuk. Aku tutup dulu ya.” “Ya. Semoga mimpi indah, Hanna.”  “Aku rindu ...” Gerakan tanganku yang hendak menekan tombol untuk memutuskan sambungan telepon pun terhenti begitu samar-samar mendengar ucapannya. Hei, barusan aku tidak salah mendengar, kan?  “Rindu? Kau rindu pada siapa?” tanyaku, memastikan indera pendengaranku masih berfungsi dengan baik. “Rindu pada masakan ibumu yang lezat itu. Dan lagi aku menagih janjimu, bawakan aku makanan buatanmu sendiri. Jangan lupa.”  Sudah cukup, aku pun memutus sambungan telepon karena tak ingin terlalu banyak berharap lagi karena salah mengartikan ucapan Kyo. Aku pun membenamkan wajah pada bantal untuk meredam suara isak tangisku yang mulai keluar.  Jadi seperti ini ya rasanya cintaku kandas sebelum dimulai? Ternyata mengetahui pria yang kucintai tidak memiliki perasaan yang sama denganku itu sesakit ini.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD