#1

1215 Words
      Aku menindih wanita bergaun pengantin, membekap mulutnya, mengangkat pisau dan bersiap menusuknya. Wajahnya meratap minta tolong. Wajah yang membuat Mama menderita. Jlebb! Pisau menancap pada wajahnya.  Aku masih membekapnya dan tanganku ikut terluka karenanya.  Dia berteriak dengan bibir tertutup rapat. Aku mengangkat pisau, bermaksud menghunusnya lagi, tapi tiba-tiba orang-orang berlarian di koridor, mendekat ke ruangan ini dan menggedor-gedor pintu. Televisi yang menggantung di sudut ruangan, tiba-tiba menyala. “Siaran langsung. Saat ini kami berada tepat di depan ruang makeup pengantin. Han Ji Eun di dalam. Seseorang misterius baru saja memasuki ruangan. Dari pantauan CCTV, diketahui Han Ji Eun diserang—“ CCTV? Aku tolah-toleh. Sialan! Benar. Ada sebuah CCTV di sudut ruangan. Untung saja, aku memakai tudung dan wajahku tertutup masker. Namun, tetap saja, bahaya. Televisi yang tiba-tiba menyala seolah peringatan bahwa aku sedang diawasi. Aku segera menyesali tindakanku. “Arrggh!” Han Ji Eun menggigit tanganku. Aku didorong. Dia bergegas berdiri dan berlari ke arah pintu. Aku panik. Aku harus kabur sebelum para reporter di depan menangkapku! “Tidak kutemukan kuncinya. Dobrak saja pintunya! Dobrak!” Han Ji Eun menggedor-gedor dari dalam. Aku menggigiti kuku, mengabaikan luka tusuk pada telapak tangan, mondar-mandir. Ponsel dalam saku hoodie bergetar. Nama Romeo muncul di layar. “Lompat dari jendela!” teriaknya, dari seberang sana. Aku berlari ke arah jendela. Romeo menunggu di bawah dengan sebuah balon pemadam kebakaran. “Anak Bodoh!” Han Ji Eun berteriak padaku, dalam bahasa Indonesia yang fasih. Aku menoleh. “Rasakan! Kau akan ditangkap! Seharusnya kau terima saja aku jadi ibu tirimu!” Wanita itu tertawa puas dengan wajah penuh darah. Muak. Menjijikkan. Bagaimana kalau kubunuh saja? Biar Mama tenang di alam sana. Publik pun akan tahu, anak Jordy Iskandar menusuk calon ibu tirinya. Wanita busuk ini pasti membocorkan identitasku. Ya... rusak saja masa depanku. Toh, aku tak bisa hidup tanpa Mama. “Anna! Tolong dengar dulu, Anna!” Romeo berteriak di telepon. Aku menodongkan pisau ke arah wanita itu sembari mendekatkan ponsel ke telinga. “Forest menyukai ilustrasi yang kamu kirim. Tolong! Tahan dirimu! Melompatlah! Aku akan membantumu!” Apa katanya? Forest? Aku melongok ke bawah. Romeo tampaknya tidak bohong. Penulis terkenal dunia itu menyukai ilustrasiku! “Aku Romeo, Anna! Kamu tahu, kan? Aku pewaris B&NANA. Aku bisa melakukan apa saja. Aku cukup berpengaruh!” Aku mendecih geli. Andai bisa kurekam ekspresi wajahnya saat mengatakan semua itu. Dia bukan Romeo yang biasanya. Segitunya mencemaskanku? “Hei, Anak Bodoh!” Han Ji Eun memanggil lagi. Pintu di belakangnya masih bergetar-getar. “Asal tahu saja, bukan salahku jika Jordy lebih memilihku. Salah ibumu! Dia selalu tampil lusuh di depan suaminya. Pikirmu, Jordy akan berselera melihatnya?” Jalang! Aku menggeram. Darahku mendidih naik ke kepala. Namun, Romeo memanggilku lagi. “Kita balas jalang itu nanti. Hmm? Pikirkan dulu dirimu sendiri!” Aku terkejut Romeo mengatainya ‘jalang’. Selama ini, cowok itu tidak pernah mendengarku dan malah memintaku introspeksi. Apa dia berada di pihakku sekarang? “Ya! Aku berada di pihakmu. Turunlah. Aku Romeo. Ingat, aku Romeo!” Aku memandang Han Ji Eun dan pintu bergantian. Kenopnya akan terlepas sebentar lagi. Wanita itu menyeringai menantangku. Namun... Bodo amat! Aku melompat. Terjun bebas dari lantai tiga gedung pernikahan. Selagi di udara, waktu rasanya membeku. Aku memejam merasakan hawa dingin. Baiklah. Semua akan baik-baik saja. Ada Romeo. Aku akan mengandalkannya. Masa depanku baik-baik saja sekarang. ** “Aku tidak apa-apa, kok.” Romeo tampak terkejut mendengar pernyataanku. Sepertinya itu yang ingin dia ketahui sejak tadi. Keadaanku. Dari balik kemudinya, Romeo berulang kali menoleh padaku lalu menelan ludah bulat-bulat hingga rahangnya mengeras. Dia lebih memilih meneguk kata-katanya seperti biasa. Wajar khawatir, tapi aku benar-benar baik-baik saja, meski telapak tangan di sela ibu jari dan telunjukku berdarah dan pendaratan di air bag tadi membuat lengan kiriku sedikit ngilu. Aku lebih mencemaskan masa depanku. “Forest benar menyukai gambarku?” “Apa itu penting?” Andai kau dengar nada suara Romeo saat itu. Keras bergemeletuk seperti mengunyah batu. Aku menghela napas jengah. Dia benar-benar kembali menjadi Romeo yang biasa. Selamat tinggal, cowok yang tadi amat mencemaskanku. Aku membuang muka menatap pemandangan sungai Han di luar jendela. Omong-omong, tadi Romeo sudah menukar mobil di terowongan demi mengelabui reporter dan pengawal-pengawal Han Ji Eun. Dia benar-benar bisa diandalkan. “Kamu bohong, ya?” Aku menyipit curiga ke arahnya. Bukan Romeo namanya, kalau ditanya langsung menjawab. “Bohong?” “Tidak. Untuk apa bohong?” “Jadi, benar? Forest akan memakai gambarku di buku terbarunya?” Romeo hanya bergumam menjawabnya. Yes! Masa depanku benar-benar cerah. Aku akan punya banyak uang! “Kamu yakin semuanya akan lancar?” Romeo meruntuhkan gedung ambisi yang barusan kubangun tinggi-tinggi. “Kamu baru saja melakukan percobaan pembunuhan.” Aku mendesah sebal, berpaling menatap luar. “Aku tidak berniat membunuhnya. Aku hanya perlu merusak wajah itu.” “Kamu puas?” Aku sontak menengok ke arahnya. “Apa sebenarnya yang mau kamu katakan, heh?” Romeo membanting setir, belok dengan kasar lantas mobil berjalan di jalur tepian sungai Han. Dia turun dan membanting pintu dengan keras, meninggalkanku yang mulai jengkel. Punggung cowok itu membelakangiku, menghadap hamparan sungai. Aku memutuskan untuk turun. Baiklah, baiklah. Aku harus minta maaf. Aku selalu merepotkannya. Aku turun lalu naik ke kap mobil, kurogoh saku, mengeluarkan rokok dan geretan. Darah mengering di telapak tangan. Aku menyekanya ke hoodie.  “Mau merokok?” Romeo menoleh demi menunjukkan mimik kesalnya, menyentil senyumku untuk mengembang. Aku selalu suka wajah itu. Aku cinta, tapi tidak dengannya. Serta-merta, dia menghampiri, meraih tanganku, melihat lukanya. Perasaanku berdesir hangat. Wajahnya yang menunduk amat dekat denganku. Dan bibir itu... bibir yang selalu berkata ketus padaku.... Aku segera menampik tangannya. Dia kembali ke mobil dan membuka bagasi, kemudian datang kepadaku membawa kotak obat. “Aku tidak bisa terus membantumu, Anna.” Dia membuang rokokku, meraih tanganku dan mulai membersihkan luka dengan kapas. “Berhenti berulah.” Aku bergeming. Paham. Dia sudah sangat sibuk belajar menjadi satu-satunya pewaris B&NANA, perusahaan multinasional terbesar di Indonesia. Aku sebagai tunangannya hanya bisa menyusahkannya. Balapan liar, membuat sebuah toko tutup karena menjual alkohol padaku yang saat itu masih di bawah umur dan masih banyak kenakalan lainnya. “Aku tidak bisa membuat Mama Yona terus kepikiran. Kamu tahu kan? Aku hanya anak haram.” Dia mengatakan itu sambil membalut lukaku, jadi, aku tidak dapat menatap matanya. Namun, suaranya berbeda setiap kali membicarakan itu. Getir. Membuatku nyeri. Dia sepantaran denganku, tapi ketenangannya bukan main-main. “Maaf,” kataku. “Ini yang terakhir. Aku tidak akan menyusahkanmu lagi.” Dia menatapku. Cuma dua detik. Lantas, dia menutup kotak obat dan mengembalikannya ke bagasi, kemudian membuka pintu kemudi. Sebelum masuk, cowok itu membacakan sesuatu dari ponselnya. “Han Ji Eun mendapat perawatan. Perawatan. Bukan operasi. Dia menolak operasi pada wajahnya, menganggap luka itu hukuman dari Buddha karena mengabaikan perasaanmu.” “What?” Aku tak percaya. Jalang licik! “Dia tidak membocorkan identitasmu. Orang-orang hanya tahu kamu anak Jordy Iskandar. Kamu masih bebas berkeliaran selama orang-orang tidak tahu kamu Anna. Annamaya Ditta Iskandar.” Aku membuka tudung dengan kasar. “Bagaimana Papa?” Romeo menggeleng. “Dia tidak memberi keterangan apa-apa. Dia hanya terus berusaha menghubungiku. Mungkin, dia tahu aku membantumu.” Aku susah payah menelan ludah. Apa Ahjussi  itu tidak bisa peduli padaku sedikit saja? “Rara akan menjemputmu di bandara. Dia akan membantumu terhubung dengan Forest. Dewasalah. Jangan terus memberontak.”                
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD