“Hai, Anna. Tumben sekali?” Rara berpapasan denganku di ruang makan keluarga Aditama. Aku memberinya senyum basa-basi, seraya menanyakan keberadaan Mama Yona. “Beliau di kamarnya. Penjaga di depan pasti sudah memberi tahu kedatanganmu.” “Anna, menantuku!” Mama Yona setengah berlari menuruni tangga, membuatku sedikit ngeri membayangkan dirinya jatuh. “Hati-hati, Nyonya.” Rara menghampiri, lalu memapahnya. “Nyonya pasti senang. Jarang-jarang calon menantunya datang ke sini.” Mama Yona tertawa. “Benar. Dia jahat sekali membiarkan orang tua ini selalu menunggunya, Ra. Setelah resmi jadi menantuku, dia harus tinggal di sini dan tidak boleh ke mana-mana.” “Setuju, Nyonya. Kurung dia.” Kami tertawa. Aku merasa pening. Menantu, menantu, menantu. Apa Mama Yona masih mau bilang begitu jika tah

