“Sari, di sini!” Aku melambai dari meja paling dekat dengan jendela di sebuah kafe. Gadis bertubuh mungil dengan rambut selalu dikuncir kuda itu tersenyum lebar dan melangkah ke arahku. “Tumben sekali mengajak minum kopi. Bosan di rumah terus?” Sari menarik kursi di depanku, kemudian mendaratkan bokongnya di sana. Aku mengangguk, mencebik manja. “Bosan sekali. Rasanya mau mati.” “Mainlah ke rumahku kapan-kapan. Kei dan Kai pasti senang.” “Mereka sama siapa?” “Aman di rumah. Mereka sudah besar, tahu.” “Oke. Aku harus membelikan mereka mainan karena meminjammu hari ini. Biar kuhitung-hitung. Tabunganku—“ Aku menghitung jari. Sari tertawa. “Sudah, jangan mengada-ada. Sekalian biayai hidupku dan mereka, kalau mau.” Aku berdehem dan menegakkan punggung, berusaha fokus menyampaikan maksu

