“Aku ingat.” Aku tidak ingin menyangkalnya. Biarkan Romeo tahu, maka aku pun akan segera tahu perasaannya padaku. “Aku ingat itu,” ulangku. “Dan sampai sekarang aku bingung. Kenapa kamu melakukannya? Kenapa... kamu menciumku?” Romeo menatapku dalam. Aku melihat jakunnya bergerak-gerak, naik dan turun. Adakah dia menelan kata-kata yang seharusnya diucapkan padaku? Sedetik lalu dua detik. Aku menarik pandangan darinya, memalingkan wajah, karena dia tidak kunjung mengakuinya. Rasa kesal memenuhi d**a dan membuat sesak. Aku berbalik, berpikir meninggalkannya, tapi dia meraih tanganku dan membuatku tertahan. “Tahu apa yang paling kusyukuri?” Dia malah bertanya. Aku melepaskan tangannya perlahan-lahan, lalu berdiam, memilih mendengarkan. Romeo seperti bukan Romeo, malam ini. Dia menunduk, p

