“Aku heran kenapa kamu selalu datang. Masih berkhayal menjadi kekasihku, heh? Aku yang menghamilimu?” Winter, Handsome Grim Reaper, seorang artis terkenal dan si pembunuh sadis, tertawa menghina. Aku duduk berhadapan dengannya, pembatas mirip jeruji besi di tengah-tengah kami. Aku berpaling dan menghela napas. Ruangan terasa lembap dan sesak. Di dalam sel tahanan pasti lebih mencekik daripada ini. Namun, Winter pantas mendapatkannya. Dia mengaku bersalah dan itu mempercepat proses hukum. Sidang demi sidang yang dilalui memberinya vonis seumur hidup. Pembunuhan keji, pembunuhan yang dikecam dan membuat masyarakat trauma. Sikap Winter yang tak menunjukkan penyesalan pun memaksa jaksa untuk menuntutnya selama itu. Dia benar-benar sudah hancur. “Aku selalu ingin membicarakan Winter denganmu

