Apakah aku bisa melakukan ini? Berkencan dengan Romeo, maksudku. Cermin memantulkan bayangan diriku dalam balutan serba putih—gaun berpotongan lurus dengan detil brukat di bagian tulang belikat, sepatu hak tinggi labu dan jepit mutiara putih menyemat kedua sisi poni. Aku telah bersiap, tapi raut wajah di dalam cermin menampakkan keraguan. Kulit bibir berlapis lipstik merah muda nyaris mengelupas saking aku menggigitnya terus-terusan. Pukul tujuh kurang lima. Sebentar lagi Rara menjemput. Aku praktis mondar-mandir, menggigiti kuku. Haruskah aku beralasan sakit? Terlambat. Rara mengetuk pintu. Aku menarik kenop untuknya dan wajah dibingkai kacamata bulat dan poni keriting menyambutku dengan semringah. “Yuk?” ajaknya. Aku menelan ludah. Belum benar betul rasa yakinku, Rara menarikku pergi.

