“Oh, Tuhan. Ini sungguhan?” Mama Yona tidak dapat menahan semringah yang membuncah. Dia tersenyum lebar dan matanya berkaca-kaca, bahkan wanita paruh baya itu melepaskan sendok dalam genggamannya hingga terjatuh ke lantai. Pelayan yang bersiaga di dekat meja makan memungut dan mengambilkan sendok yang baru. Aku dan Romeo penyebabnya. Di tengah-tengah sarapan sebelum berangkat sekolah, kami serempak mengangkat telapak tangan demi menunjukkan cincin pertunangan. “Ya, ampun. Anna—“ Mama Yona tidak melanjutkan kalimatnya, kemudian sibuk menangis. Aku berpindah duduk ke sebelahnya untuk merangkul, mengusap-usap punggungnya. Dia balas memeluk sangat erat. Kulirik Romeo yang meneruskan sarapan dengan tenang. Dia sedang bersikap sok keren, kan? “Romeo yang dingin telah mencair, Ma,” sindirku,

