1

1223 Words
    GGstore toko fashion yang aku usahakan semenjak aku masih kuliah di semester akhir bersama Mbak Gendhis, anak sahabat dari Ibu ku, yang memang sudah aku anggap seperti saudara aku sendiri. Memang aku berbeda passion dengan Bapak dan Ibuku. Bapak di hukum sedangkan Ibu ku lebih ke ekonomi, ya aku lebih tertarik pada dunia fashion. Menurutku terlalu rumit untuk menguasai tentang dunia kerja kedua orang tua ku. Terlebih pada dunia kerja Bapak, dimana keluarga besar dari Bapak seperti sudah mendarah daging pada dunia hukum. Mulai dari kakek, pak Dhe Diaz, Bapak Dhimas, Papa Hammas, dan belum lagi Oom Bagas, seluruh anak Kakek mengikuti jejak kakek di dunia hukum, ya sedikit berbeda di Ibu ku, keluarga Ibu ku lebih ke dunia ekonomi pada perbisnisan, ya dengan begitu hampir keseluruhan kerapihan tatanan keuangan GGstore berkat uluran tangan Ibu Anin tercinta dengan Mas Abi juga tentunya. Hari ini pekerjaan ku tidak banyak, hanya mengecek stok bahan dan juga sore nanti bertemu dengan client, jadi aku mengiyakan tawaran Mas Abi untuk makan siang bersama. "Mbak Gendhis, nggak makan siang?" Melihat mbak Mbak Gendhis yang masih mengawasi pengemasan produk yang akan dikirim nanti sore bersama Nana, salah satu karyawan kami.  "Kamu mau makan siang sama siapa, Dek? Mas Abi, ya?" Aku tersenyum sebelum menjawab, memang benar aku sudah janjian dengan Mas Abi untuk makan siang hari ini, entah dia bilang ada yang ingin dibicarakan juga nantinya. "Iya, mau nitip sesuatu kah?" "Hmm beliin rujak ya, Dek? Lagi kepengen nih." Ujarnya memasang wajah melas dan mengelus perut buncitnya yang sudah menginjak bulan ke delapan. "Ngidam eh?" "Iya pengen ngerjain aunty nya." "Baiklah, nanti aku cariin buat baby girl kita." Jawab ku dan membuat Mbak Gendhis tersenyum lebar. Melihat mobil Mas Abi yang sudah berada di parkiran toko aku pun segera pamit sebelum dia mengomel karena harus menunggu ku terlalu lama. "Selamat siang, Om Abi." goda ku dan sontak dia melirik tajam ke arah ku, "Hehe.. canda, Mas. Maaf, nggak nunggu lama kan?"  "Nggak. Baru juga sepuluh menit." Datar sih, tapi aku tau dia sebal, baginya sepuluh menit itu ibarat satu jam bagiku, ya begini lah kalau berurusan dengan orang-orang disiplin. "Ya sorry, lagian aku kan nggak minta di jemput, kamu aja yang maksa." Dia hanya berdecak dan mulai menjalankan mobil pajero sport miliknya membelah jalanan semarang yang terik. Makan siang ala aku dan Mas Abi kali ini sangatlah sederhana, hanya di warteg langganan aku waktu SMA. Kebersihan, kelezatan dan cita rasa di warteg ini sangat diutamakan membuat pelanggan akan nyaman jika makan di warteg.  "Kan, coba kalau tadi telat dikit, udah pasti kita nggak dapat meja." gumam Mas Abi saat akan keluar dari mobil, seperti biasa aku bertugas memesan makanan sedangkan dia akan mencari meja untuk kami. "Aku nanti sore berangkat ke Medan." ujar Mas Abi disela kami makan  "Medan?" Dia mengangguk dan meletakkan sendoknya lalu menatapku sebelum dia minum, "Kok mendadak? Ada apa?" "Tiba-tiba aja rindu Mama, udah lama juga nggak ziarah ke makam Mama Mita." "Sendiri?" "Iya, Paman Agam udah disana lebih dulu ternyata." "Jadi malam tahun baru nanti kita nggak barengan?" Seketika aku sedih mengingat setiap malam tahun baru kami tidak pernah bersama, ada saja acara yang mengharuskan kami tidak bisa merayakan bersama. Seperti tahun lalu, tiba-tiba Mas Abi ada pekerjaan di Jakarta dan mengharuskan dia berangkat hari itu juga, sehingga secara otomatis lenyap sudah rencana yang telah kami susun sebelumnya dan berakhirlah aku mendekam di apartemen sendiri. "Aku usahakan, sebelum malam tahun baru aku sudah balik ke Semarang." jawabnya dengan senyum, "Ya, semogalah." "Nggak usah sedih, sana main ke rumah. Bunda dari kemarin nanyain kamu, katanya minta diajarin buat rendang." "Mana ada? orang aku tadi habis wasapan sama Bunda kok, nggak nyuruh main tuh. Kamu aja kali yang kangen aku main ke rumah." Jawabku membuat Mas Abi tertawa  "Gimana laporan keuangannya? Kayaknya udah jago nih, nggak ada yang gangguin aku lagi." Sindirnya halus, "Jadi selama ini aku gangguin kamu?" "Gangguin, banget. Sampai aku nggak bisa tidur, habisnya kamu muncul terus di otak aku. Bisa nggak sih, ilang bentar aja, capek tau mikirin kamu." Keluhnya membuatku mengulum senyum, "Kamu lagi gombalin aku?" "Nggak. Ngeluh." "Soalnya nggak pantas banget kamu kalau gombal, secara nggak langsung tadi kamu bilang kalau setiap saat pasti mikirin aku kan?" Ujarku menahan diri untuk tidak tertawa terbahak melihat wajah Abi yang kembali menatapnya datar. "Ish, mirip banget sama Ayah Hafiz sih kalau kayak gitu." "Wajar lah, aku anaknya." "Bener kata Bunda Kinan, kamu sama Ayah Hafiz itu emang nggak pantas buat kasih gombalan-gombalan gitu, kalian itu terlalu serius dalam menghadapi wanita." Ujar ku mengingat perkataan Bunda Kinan setiap kali aku curhat dengan beliau mengenai Mas Abi, "Jadi gimana pertanyaan aku tadi?" "Apa? Laporan keuangannya? Kamu santai aja, aku kayaknya udah mulai paham pembukuannya, jadi tinggal nanti kamu cek lagi, kali aja ada yang kurang teliti." "Makanya jangan ceroboh." "Ish, iyaa-iya. Mr perfectionist." "Mau oleh-oleh apa?" Tanyanya membuat ku berfikir, "Hmm, kalaupun ada emang kamu mau beliin?" "Ya kalau bisa aku beli kenapa nggak? Apa? Kain ulos sama batik lagi?" Jawabnya percaya diri dan menebak apa yang aku inginkan, "Nggak usah deh, yang penting kamu cepat pulang aja." Dia tersenyum dan menarik ujung hidungku sampai aku sulit bernafas, "Mas! Nggak bisa nafas." Pekikku saat berhasil melepas tangannya, bukannya merasa bersalah dia malah tertawa dan melanjutkan makannya. "Habisnya gemesin sih." -°-°-°-°-°- Setelah mendapat pesanan Mbak Gendhis pun Mas Abi mengantarkan ku ke toko. Ada rasa tidak rela saat kami akan berpisah, entahlah baru kali ini aku merasa berat ditinggal Mas Abi pergi keluar kota. "Udah nggak usah cemberut." "Siapa yang cemberut? Biasa aja tuh." Sanggahku tanpa menatapnya dan dia tertawa kecil lalu menarik tanganku untuk digenggam, "Mau ikut?" Sontak aku menatapnya. "Kemana?" "Ke pelaminan." Celetuknya tanpa berpikir membuatku kesal, "Mas!" Tawanya semakin keras saat melihatku tambah kesal. "Iya-iya, maaf. Janji cuma lima hari." "Lima hari? Itu lamaaa."Ujarku manja, "Lha terus berapa? Tumben kamu begini. Tanggal berapa sih, hari ini?" Dia mengambil ponselnya dan mengangguk-angguk menatapku, "Pantas aja, moodnya jelek. Hari pertama ya?" Aku menggeleng, "Belum. Mau sih kayaknya." "Yaudah, nanti aku kirimin coklat biar nggak badmood lagi." Seperti biasa setiap aku kedatangan tamu spesial setiap bulan Mas Abi selalu memberi pengertian kalau misalkan aku suka marah-marah dan tiba-tiba sedih nggak jelas, dia selalu menyogok aku dengan membelikan beberapa kotak coklat sebagai pereda mood ku yang naik turun tidak jelas. "Maaf ya Mas, nggak bisa nganterin ke Bandara." "Gapapa, gampang nanti aku bisa minta tolong Sabil buat nganterin. Semangat kerjanya, jangan badmood nanti client kamu kabur gara-gara kamu pasang wajah cemberut gini." Tutur Mas Abi lalu mencium punggung tangan ku berkali-kali. "Ya udah, aku masuk dulu. Kamu hati-hati ya, jangan lupa kasih kabar, dan cepat pulang." "Iyaa, seperti biasa, jangan lupa makan tepat waktu, jangan ceroboh kalau naruh-naruh sesuatu, jangan begadang, jangan-" "Jangan suka mandi malam dan jangan lupa charger ponsel biar kamu nggak kebingungan kalau aku nggak ada kabar." Terus ku yang sudah hafal dengan pesan-pesan Mas Abi. "Pintar udah hafal. Udah sana masuk, kasihan Gendhis nunggu rujaknya kelamaan." "Hati-hati ya?" Pesamku sendu, "Iyaa, Sayang..." Jawabnya lalu aku membuka pintu mobil dan bersiap akan turun, namun seketika aku terkejut saat Mas Abi menarik tangan ku dan menempelkan bibir kami. Seolah waktu terhenti beberapa saat untukku mencerna apa yang telah dia lakukan untuk pertama kalinya, "Maaf, aku tidak bisa menahan lagi. Maafkan aku, Ghan."                                                                             oOo
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD