bc

Dibalik Jurnal Ghania

book_age16+
1.5K
FOLLOW
7.8K
READ
possessive
time-travel
age gap
pregnant
mate
goodgirl
drama
sweet
bxg
coming of age
like
intro-logo
Blurb

"Sesuai kesepakatan kita, aku mau nagih janji ke kamu, aku sudah menyelesaikan pendidikan aku, aku juga sudah bisa memulai usaha sendiri. Mau nunggu apa lagi Mas? Kapan kamu akan menemui orang tua aku?"

Ghania Nimas Almahyra (24 tahun)

"Bukannya aku tidak ingin kita segera menikah, aku hanya ingin memberi kamu waktu untuk menikmati masa lajangmu, sebelum nantinya kamu akan disibukan mengurus aku dan anak-anak kita nanti."

Abidzar Daffa Aditama (34 tahun)

oOo

Kehidupan pernikahan yang menjadi pencapaian Ghania merubahan kehidupannya seratus delapan puluh derajat. Di mana Ghania harus bisa bersikap lebih dewasa dan matang untuk mengimbangi sang suami. Permasalahan dan perjuangan untuk keduanya menjadikan cinta semakin mempererat hubungan mereka. Ini lah perjalanan cinta Ghania dan Abizar, ditulis indah pada karya She Jasmine berjudul Dibalik Jurnal Ghania.

chap-preview
Free preview
Prolog
Ghania Point of view Memutuskan untuk menimba ilmu di kota orang dan berpisah dari orang tua adalah keputusan terbesar yang pernah aku ambil, semenjak SMA aku memutuskan untuk mencari ilmu di kota yang aku impikan. Yap, kota Semarang. Entah kenapa aku selalu tertarik dengan kota Semarang. Walaupun orang tua ku terutama Bapak Dhimas ku tercinta, enggan untuk memberikan izin padaku, namun pada akhirnya aku berhasil meyakinkan beliau untuk mengantongi izin ku bersekolah di kota orang, tentu hal ini juga berkat dukungan dari Ibu negara tercinta, Ibu Anindira sosok wanita yang paling spesial dalam hidupku, dia segalanya bagiku Sampai pada akhirnya, Bapak mempertemukan ku pada 'dia' yang saat itu berhasil membuat hatiku bergetar untuk pertama kalinya di umur ku yang menginjak remaja. Mas Abi Pria dewasa, tulus, bertanggung jawab dan idamanku. Bapak mengenalkanku Mas Abi yang saat itu masih bekerja kantoran dan sedang sibuk-sibuknya menyelesaikan pendidikan S2nya, ya masih ku ingat wajah stresnya saat makan malam kami untuk pertama kalinya, hal itu justru menjadi point plus bagi bocah yang berumur enam belas tahun, justru makin tergila - gila dengan om om seperti Om Abi, UPS! Bisa marah nih kalau sampai dia tahu aku panggil dia Om! Tidak paham lagi dengan jalan pikiranku, yang pasti aku beruntung, beruntung bisa menjalin hubungan dengan dia bahkan adanya Mas Abi dihidupku secara tidak langsung dia menjadi motivasi ku untuk bertahan dan berjuang, meraih impianku untuk memantaskan diri bersanding disampingnya. "Sayang.." "..." "Ghania..." "Ha? Iya, Mas?" Aku tersentak saat Mas Abi memanggil ku menyadarkan ku dari lamunan,"Kok melamun? Ada masalah di toko?" "Hmm, nggak kok, nggak ada, cuma kepikiran sesuatu aja." "Mau cerita?" Aku tersenyum mendengarnya, ini yang membuatku semakin tergila-gila dengan lelaki dihadapan ku ini, dia selalu menjadi pendengar yang baik untukku setelah Ibuku. "Nggak ada yang perlu diceritakan, nggak penting." "Kalau nggak penting, nggak mungkin kamu sampai melamun seperti tadi." Jawabnya datar sembari menikmati makanan yang ada di depannya. "Bahkan, mie ayam favorit kamu aja sampai dianggurin, nggak biasanya seperti itu." Sindirnya dengan nada datar tanpa melihat ku, ku tatap laki-laki yang selalu membuatku terpana. "Aku pengen nikah." Tanpa berfikir perkataan itu keluar begitu saja dari bibirku, sontak membuat Mas Abi tersedak dan menatapku dengan heran. Dia mengaduk es teh sebelum meminum dan menatapku dengan serius. "Kenapa tiba-tiba gini? Kamu hobi banget bikin aku kaget." Aku mengedikkan bahu dan memilih untuk mengaduk-aduk es jeruk yang belum aku minum sama sekali, "Sesuai kesepakatan kita dulu, aku mau nagih janji ke kamu, aku sudah menyelesaikan pendidikan aku, aku juga sudah bisa memulai usaha sendiri. Mau nunggu apa lagi Mas? Kapan kamu akan menemui orang tua aku?" Mas Abi menghela nafas beratnya dan masih menatapku dengan serius, jujur saja aku saat ini aku gugup baru kali ini aku punya keberanian untuk menyampaikan uneg-uneg ku selama ini. "Apa emang kamu belum ingin kita menikah?" Tanya ku ragu. Dia mengerutkan keningnya dan menarik tanganku yang masih memainkan sedotan di gelas. "Bukannya aku tidak ingin kita segera menikah, aku hanya ingin memberi kamu waktu untuk menikmati masa lajangmu, sebelum nantinya kamu akan disibukan mengurus aku dan anak-anak kita nanti." Tuturnya dengan tenang dan lembut membuat hatiku bergetar hebat. "Aku nggak ingin merenggut masa muda kamu, karena jarak umur kita yang terpaut cukup jauh, aku tidak ingin terburu-buru mengajak kamu menikah, dunia pernikahan tidak semudah apa yang kita pikirkan, Sayang. Aku ingin kamu puas-puasin waktu muda kamu untuk berkarir, berkarya, bahkan travelling. Sebab, saat kita menikah nanti seketika kehidupan kita akan berubah, banyak hal yang harus kita pertimbangkan, kewajiban serta tuntutan yang lain yang harus kita penuhi. Itu lah alasan aku mengapa sampai sekarang belum bisa menawarkan sebuah pernikahan untuk hubungan kita." Seperti mendapatkan mantra, aku selalu tenang setelah mendapatkan penjelasan bijak dari bibir manisnya. Mas Abi selalu berhasil membuatku jatuh hati untuk kesekian kali.                                                                                     oOo

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

TERNODA

read
199.1K
bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
30.9K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
189.3K
bc

B̶u̶k̶a̶n̶ Pacar Pura-Pura

read
155.9K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
234.0K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
66.7K
bc

My Secret Little Wife

read
132.3K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook