Perasaan yang paling lapang adalah ketika Allah menunjukkan sebuah kebahagiaan sebagai jawaban atas do'amu.
* * *
PERTEMUAN
Ardi mengemudikan mobilnya malam itu bersama Rasya yang duduk di bagian depan. Di belakang, Nilam duduk bersama Risya dan Marni. Rahman berada paling belakang bersama Aris dan Zulfa.
Daniel menelepon sore tadi dan meminta mereka sekeluarga untuk datang ke rumahnya. Firman pun menghubungi Rasya dan mengatakan bahwa ia dan Salwa sudah berada di sana bersama Salman dan Kiana.
Marni berulang-ulang kali melihat ke belakang untuk mengecek apakah Zulfa dan Aris baik-baik saja dalam pangkuan Rahman. Nyatanya, kedua bayi mungil nan montok itu lebih tenang saat bersama Rahman ketimbang bersama Ibu mereka masing-masing.
Halaman parkir rumah Daniel sudah di penuhi oleh beberapa mobil milik Salman dan juga Firman. Ardi memarkirkan mobilnya di dekat mobil milik Salman, sehingga agak tersembunyi.
"Assalamu'alaikum... ."
"Wa'alaikum salam... ."
Mereka di sambut dengan wajah-wajah penuh kebahagiaan.
"Silahkan masuk, kita akan berkumpul di dalam," ujar Daniel, seraya merangkul Ardi.
Diva menyambut, Marni, Nilam, dan Risya. Kiana menyajikan minuman serta makanan untuk para tamu.
"Di mana si kembar?," tanya Diva, pada Nilam dan Risya.
"Digendong oleh Rahman..., mereka lebih tenang jika Rahman yang menggendong," jawab Nilam.
Diva tertawa.
"Sama seperti Syarif ya..., dia cuma tenang kalau Syifa yang menggendongnya," ujar Diva.
"Ya..., itu benar sekali," balas Risya.
Salwa sedang membantu Syifa memakai pakaiannya. Gamis panjang berwarna hijau tosca dipadukan dengan hijab panjang berwarna salem dan niqob yang sesuai dengan warna gamisnya.
"Wah..., kamu ternyata sudah besar ya. Sudah jadi wanita dewasa yang shalehah dan sebentar lagi akan membina keluarga sendiri. Rasanya baru kemarin Bibi melihatmu memakai seragam MTs," ujar Salwa, mengenang.
Syifa tersenyum, ia menatap Salwa lalu memeluknya dengan hangat.
"Bibi..., aku sudah menentukan pilihanku, tapi entah mengapa perasaanku sangat tidak baik. Seakan-akan ada sesuatu yang akan terjadi," ungkap Syifa.
Kiana yang baru saja masuk ke dalam kamar itu pun mendengar apa yang Syifa katakan. Ia mendekat.
"Apakah kamu merasa tidak nyaman, seperti sesuatu mengganjal dalam hatimu?," tanya Kiana.
"Iya Bi..., aku merasa begitu," jawab Syifa.
"Apa kamu terus kepikiran dengan orang yang kamu akan kamu pilih?," tanya Kiana lagi.
Syifa mengangguk. Kiana menatap Salwa.
"Ini firasat tidak baik. Percayalah, saya pernah mengalaminya saat akan menikah dengan Abi-nya Lia," ujar Kiana.
Salwa segera merangkul Syifa agar tenang.
"Begini sayang..., kita hanya manusia biasa, kita hanya bisa berencana, dan Allah lah yang memutuskan. Tapi..., jangan pernah lupa akan kekuatan dari sebuah do'a, karena do'a-do'a orang beriman selalu diijabah oleh Allah," Salwa mengingatkan.
Syifa mengangguk.
"Insya Allah Bi, aku akan terus berdo'a malam ini untuk orang yang aku pilih," balas Syifa.
Tok..., tok..., tok...!!!
Firman muncul di ambang pintu.
"Keluarga Utsman juga sudah datang. Bawalah Syifa ke bawah," pinta Firman.
Kiana dan Salwa mengangguk, mereka pun segera membawa Syifa keluar dari kamarnya dan turun ke bawah untuk menemui semua orang yang hadir. Malam itu, Rahman duduk di samping Ardi yang mewakili Ibunya. Pria itu terlihat tampak biasa saja dengan baju koko berwarna hijau mint dan peci berwarna hitam. Dia menundukkan pandangannya saat melihat kedatangan Syifa.
Utsman juga ada di sana malam itu bersama Ayahnya. Dia datang dengan penampilan paling mencolok di bandingkan dengan pria lain yang ada dalam ruangan itu. Bajunya terbuat dari sutera berwarna merah dengan hiasan benang-benang emas di setiap bordirannya. Mata pria itu tak pernah luput dari Syifa ketika wanita itu duduk di antara kedua Orang tuanya.
"Baiklah, sepertinya kita akan langsung saja pada inti dari berkumpulnya kita malam ini," ujar Salman, yang menjadi perantara antara tiga keluarga malam itu.
Semua orang menyaksikan dengan khidmat jalannya perkumpulan itu.
"Jadi, karena ada dua khitbah yang datang pada puteri kami, maka puteri kami diperbolehkan memilih siapapun yang menurutnya baik untuk menikah dengannya. Puteri kami juga sudah beristikhoroh dan meminta jawaban dari Allah subhanahu wa ta'ala. Dan apapun jawabannya, siapapun yang ia terima, maka tidak ada pihak manapun yang bisa mengganggu gugat keputusannya," tegas Salman.
Semua mata kini menatap ke arah Syifa yang sedari tadi menundukkan pandangannya. Wanita itu menarik nafasnya dalam-dalam seraya terus berdo’a dan bertasbih di dalam hatinya.
Utsman melirik pada Ayahnya yang sudah memberinya tanda bahwa pasti Syifa akan menerima lamaran mereka. Bahkan dengan percaya diri, mereka sudah memamerkan cincin yang akan dipakaikan oleh Utsman di jari manis Syifa malam ini.
Rahman hanya beristighfar dalam hati, ia pasrah kepada Allah dan apapun keputusan yang akan di ambil oleh Syifa. Ia tak mempunyai persiapan apapun, dan bahkan tak terpikir olehnya untuk membawakan cincin sebagai pengikat.
"Saya telah menemukan jawaban, bahkan sebelum saya mengetahui bahwa saya telah dikhitbah. Saya sudah tahu kemana arah hati saya lebih condong. Saya juga sudah tahu, seperti apa jalan yang saya inginkan. Allah pun memberikan jawaban yang sama dengan apa yang saya sebut dalam do'a setiap kali menghadap kepada-Nya," ujar Syifa.
Jantungnya berdebar hebat, kedua tangannya begitu dingin karena merasa gugup. Diva menggenggam tangannya seolah tahu, bahwa Syifa memang sedang membutuhkan kekuatan yang banyak malam itu.
Dengan hati mantap, Syifa pun mengangkat wajahnya dan menatap ke arah Rahman yang masih saja menunduk.
"Bismillahirrahmannirrahiim..., Allah menyaksikan ini dengan segala ridha dan cinta-Nya kepada hamba-hamba-Nya yang beriman. Saya memutuskan, memilih Akh Rahman Sofyan untuk menjadi Imam yang Allah pilihkan untuk saya," jawab Syifa, dengan hati penuh kelegaan.
Rahman mengangkat wajahnya dengan perasaan paling lega yang pernah terjadi dalam hidupnya. Marni memeluk Risya dengan erat sambil berlinang airmata bahagia.
"Alhamdulillah...," ujar semua orang yang hadir malam itu.
Utsman mengepalkan tangannya kuat-kuat. Ia berdiri dari tempatnya duduk dan menatap tajam ke arah Syifa.
"Apa yang kamu lihat dari pria kampung ini??? Dia mantan narapidana!!! Pernah membunuh Bapaknya sendiri!!! Apa kamu tahu hal itu???," bentak Utsman dengan kasar.
Daniel hendak menghalanginya, namun Syifa sendiri yang menarik tangan Abi-nya. Ia mengangkat wajahnya tanpa rasa takut terhadap Utsman.
"Apa kamu tahu, kalau saya lahir dari rahim seorang pembunuh?!! Apa kamu tahu, kalau saya lahir saat Ibu kandung saya berada di penjara?!! Apa kamu tahu, kalau saya bukan anak kandung Ummi saya melainkan anak dari wanita yang merebut Abi saya dari Ummi saya?!!."
Utsman terlihat berpikir keras untuk membalas. Rahman menatap Syifa dan ingin menghentikannya agar tak membahas lukanya sendiri. Namun Risya menahannya.
"Ketahuilah wahai hamba Allah yang suka bergunjing tentang keburukan orang lain..., kamu tidak lebih baik dari seorang yang pernah berada dalam penjara. Allah tidak menilai hamba-Nya dari bagaimana caranya berpakaian, Allah juga tidak menilai hamba-Nya dari kemampuannya, tapi Allah menilai hamba-Nya dari caranya berserah diri, memperbaiki diri, dan bertaubat untuk tidak lagi mengulang kesalahannya!!! Dan kamu..., tidak termasuk hamba-Nya yang berserah diri!!! Maka dari itu, saya memilih Akh Rahman yang notabene adalah pria kampung dengan identitas mantan narapidana, ketimbang kamu yang berderajat tinggi di dunia, tapi menyombongkan diri dengan harta yang sudah jelas tidak akan kamu bawa mati!!!," tegas Syifa.
"Masya Allah...," lirih Rasya dengan perasaan bangga setelah mendengar semua yang Syifa utarakan.
Nilam dan Salwa segera menarik Syifa untuk di bawa ke dalam. Rasya dan Ardi menghalangi Utsman yang hendak memaksa Syifa. Arman segera bangkit dari duduknya dan berhadapan dengan Daniel.
"Ini adalah sebuah penghinaan besar untuk saya dan keluarga saya. Saya tidak akan melupakan penolakan ini seumur hidup!!!," tegasnya.
Arman pun segera menarik Utsman keluar dari rumah itu dan pergi. Daniel segera merangkul Rahman.
"Ayo masuk ke dalam, ini saatnya kamu melihat wajah calon isterimu," ajak Daniel.
Jantung Rahman kembali berdebar hebat, ia benar-benar tak mempersiapkan diri sama sekali. Daniel dan Salman membawanya ke ruang dalam, di mana Salwa dan Nilam telah menunggu untuk membuka niqob yang Syifa pakai di wajahnya.
Rahman di minta duduk berhadapan dengan Syifa yang duduk di seberang meja mungil di ruang tengah rumah itu, Marni mengeluarkan sebuah cincin dalam kotak berwarna merah dan menyerahkannya pada Risya.
"Baiklah, sekarang kamu boleh melihat wajah calon isterimu," ujar Diva.
Salwa dan Nilam membuka niqob dari wajah Syifa. Rahman merasakan tubuhnya bergetar hebat saat menatap wajah cantik yang selama ini tersembunyi dengan rapat di balik niqob.
"Masya Allah...," lirihnya, pelan.
"Wajahnya persis sekali dengan Almarhumah Ibunya..., cantik dan bercahaya. Begitupula hatinya, dan sebagai Ummi-nya, saya yakin kamu pun sudah tahu bagaimana sifat calon isterimu ini," jelas Diva.
Risya menyerahkan kotak cincin yang sudah terbuka pada Rahman. Rahman yang terkejut karena disodorkan cincin ke hadapannya pun mengambil cincin tersebut lalu menyerahkannya pada Diva agar bisa memakaikan cincin tersebut pada Syifa. Diva pun meraih tangan kiri Syifa agar ia bisa memakaikan cincin itu di jari manisnya. Marni telah mempersiapkan ini untuk Rahman.
"Barrakallah...!!!," ujar para pria yang ada dalam ruangan itu.
Mereka semua berbahagia dengan keputusan yang dibuat oleh Syifa. Sekali lagi, Rahman mencuri pandang ke arah Syifa yang wajahnya sudah memerah sejak tadi.
'Betapa sempurnanya Allah sehingga menciptakanmu sebagai wanita yang cantik dan shalehah. Insya Allah, aku akan menjagamu dengan segenap kekuatan yang aku miliki.'
* * *