BAGIAN 7

1364 Words
Takdir tertulis untuk dijalani bukan dihindari. Dan sebaik-baiknya penolong, hanya Allah yang mampu menolong hamba-Nya.   * * *   MENDENGAR SEMUA   Syifa keluar dari kamarnya pagi-pagi sekali. Ia hanya berpamitan dengan Diva dan memilih tak berpamitan dengan Daniel. Setelah apa yang ia lakukan semalam di hadapan Daniel, rasanya ia membutuhkan waktu dan jarak dari Abi-nya sendiri. Syifa meminta sopir taksi berhenti di depan sebuah rumah. Setelah membayar ongkos, ia pun segera masuk ke halaman rumah itu. Tok..., tok..., tok...!!! "Assalamu'alaikum...," ujar Syifa. Suara langkah kaki terdengar dari dalam. "Wa'alaikum salam...," sahut Nilam. Ia pun membukakan pintu dan tersenyum saat melihat Syifa berada di depan pintunya. Ia mengajaknya masuk dan duduk bersama di ruang tamu. "Kamu mau minum apa sayang? Biar Bibi buatkan...," tanya Nilam. "Nggak usah Bi..., aku agak buru-buru hari ini, karena ada beberapa rumah lagi yang harus aku datangi," jawab Syifa, jujur. "Kenapa sampai buru-buru sih? Padahal ini pertama kalinya kamu datang ke rumah Bibi," ujar Nilam, agak kecewa. Syifa tersenyum, ia sangat mengerti perasaan Nilam. "Afwan Bi..., lain kali aku janji akan bertamu lebih lama dan bahkan menginap kalau perlu..., tapi hari ini aku benar-benar hanya punya sedikit waktu," jelas Syifa. Nilam tersenyum dan duduk kembali di samping Syifa. "Memangnya kamu ada perlu apa? Ayo beritahu Bibi." Rasya keluar dari kamarnya seraya menggendong Aris. Ia pun segera bergabung dengan Nilam dan Syifa. "Jadi begini..., kemarin aku pulang ke rumah, dan melihat kejadian buruk," ujar Syifa. "Kejadian buruk apa?," tanya Rasya. "Apa kalian masih ingat laki-laki kurang ajar yang membentak aku dan Akh Rahman di depan anak-anak yang sedang kami jaga?," tanya Syifa. "Ya tentu, kami masih ingat dia dengan baik," jawab Nilam, dengan nada yang menunjukkan bahwa ia masih kesal karena kejadian itu. "Kemarin dia datang ke rumah Abi dan Ummi-ku. Dia mengkhitbahku untuk menjadi isterinya," ujar Syifa. "Apa??? Astaghfirullah!!! Dia sudah tidak punya malu??? Lalu apa jawaban Abi dan Ummi-mu???," tanya Nilam, yang mendadak merasa lebih kesal. "Mereka menjawab bahwa mereka mungkin tidak akan menerima khitbah tersebut, karena beberapa menit sebelumnya ada orang lain yang sudah mengkhitbahku lebih dulu," jawab Syifa. "Siapa orang yang sudah mengkhitbahmu lebih dulu itu?," tanya Rasya, lagi. Syifa menarik nafas sesaat. "Akh Rahman." Rasya dan Nilam pun saling bertatapan beberapa saat. "Jadi, kemarin Paman Ardi, Bibi Risya, dan Ibu Marni datang membawa Rahman ke rumah Abi dan Ummi-ku untuk mengkhitbahku. Abi dan Ummi sudah menerima khitbah tersebut, hanya tinggal bagaimana jawabanku saja yang akan menentukannya. Tapi tak lama kemudian, orang itu datang dan mengkhitbahku juga. Dia membentak-bentak Ummi-ku dan mengatakan bahwa Ummi dan Abi-ku tidak adil jika aku tak diberi tahu tentang lamarannya. Aku emosi, dan akhirnya menjanjikan untuk memilih antara dia dan Akh Rahman hanya untuk membuatnya cepat pergi dari rumah kami. Dan saat ini…, aku menyesal karena telah menjanjikan hal tersebut padanya." Wajah Syifa sangat menunjukkan rasa sesal itu dengan jelas, Nilam pun segera memeluk Syifa dengan lembut. "Mau dengar saran Bibi?," tawar Nilam. Syifa menganggukan kepalanya. "Jangan terima laki-laki tidak beradab itu! Laki-laki itu harus mempunyai tata krama jika ingin dinilai baik di mata orang lain. Dan dia..., tidak memiliki sama sekali tata krama yang Bibi maksud. Asal kamu tahu, dulu Bibi dan Pamanmu ini sering berdebat hanya karena masalah sepele, tapi..., kami tetap menjaga lisan agar tidak ada yang sakit hati akibat dari perdebatan kami. Itu adalah alasan paling utama, mengapa Bibi mau menikah dengan Pamanmu," ujar Nilam. "Dan...," Rasya menambahkan, "..., dia terlalu kasar. Paman tidak mau kamu menikah dengan orang yang tidak bisa Paman percayai untuk menjaga dirimu. Karena kamu adalah wanita, yang diibaratkan sebagai tulang rusuk yang bengkok. Tidak bisa diluruskan karena akan patah, tapi tak bisa juga dibiarkan karena akan rusak. Maka jalan tengahnya adalah dengan terus menerus dibimbing agar tidak ada yang salah. Dan dia, tidak sama sekali memenuhi kriteria yang Paman paling garis bawahi untuk seorang laki-laki," tegasnya. Syifa mengangguk, pertanda bahwa ia mengerti dengan apa yang Nilam dan rasya sampaikan. "Baiklah Paman Rasya..., Bibi Nilam..., syukron atas nasehatnya. Insya Allah akan saya pikirkan baik-baik. Saya pamit dulu, karena saya harus menemui orang lain lagi," ujar Syifa. Nilam dan Rasya yang masih menggendong Aris pun mengantar Syifa sampai di pintu rumah. "Assalamu'alaikum Paman..., Bibi...," pamitnya. "Wa'alaikum salam...," jawab Rasya dan Nilam. Syifa pun segera menaiki taksi dan pergi ke rumah selanjutnya. Sementara Syifa sedang mencari jawaban yang tepat, di tempat lain Rahman sedang berada di ambang kegelisahan. Ya..., Daniel telah memberitahu Ardi keadaan apa yang tiba-tiba menimpa di tengah jalannya sebuah ikatan yang hampir terikat itu. Ardi menepuk pundak Rahman dengan tegas. "Jangan berpikiran macam-macam. Ingatlah terus namanya, sebut namanya dalam do'a-do'amu kepada Allah, dan yakini kalau kamu memang akan berjodoh dengannya," saran Ardi. Rahman pun akhirnya menjalani apa yang Ardi sarankan. Hingga dirinya terus saja meyakini bahwa Syifa memang akan menjadi jodohnya. Syifa akhirnya tiba di depan rumah Salwa dan Firman. Ia pun disambut dengan hangat oleh mereka. "Ada apa Syifa? Wajahmu tidak menunjukkan kalau dirimu baik-baik saja," tanya Firman. Syifa tersenyum pada Firman. "Paman terlalu mengenalku ya..., sehingga aku tidak bisa menyembunyikan sesuatu dari Paman," gurau Syifa. Firman duduk di sofa yang berhadapan dengan Syifa, sementara Salwa duduk di sampingnya dengan Syarif dalam pangkuannya. "Kamu sudah seperti anak kami sendiri..., bagian keluarga kami..., jadi mana mungkin ada Orang tua yang tidak tahu apapun tentang anaknya," ujar Salwa. Syifa pun akhirnya menceritakan segalanya pada Firman dan Salwa seperti yang ia ceritakan pada Nilam dan Rasya. Firman dan Salwa mendengarkan dengan baik apa yang Syifa katakan. "Syifa..., dengarkan Bibi baik-baik. Bibi bukan wanita sempurna, kamu tahu sendiri bahwa Bibi memiliki masa lalu yang sangat buruk. Tapi sejak Pamanmu menikahi Bibi..., Bibi merasa setiap hari dia membantu Bibi mengikis sedikit demi sedikit keburukan dalam diri Bibi. Dia menuntun Bibi dengan sabar. Dari awal kami menikah, Pamanmu belum pernah membentak Bibi. Dia tidak pernah menyakiti hati Bibi. Jadi..., Bibi juga menginginkan kamu agar mendapat pasangan yang mampu untuk membimbingmu, sabar terhadapmu, dan tidak melakukan hal kasar ataupun membentakmu," tegas Salwa. Syifa mengangguk. "Saran Paman untukmu hanya satu..., jangan pernah lihat seseorang dari masa lalunya. Lihat dia dari bagaimana caranya memperbaiki diri dan memegang teguh apa yang Allah ridhai. Karena pria yang memegang teguh agamanya, Insya Allah mampu menjadi Imam yang bertanggung jawab dalam rumah tangga," ujar Firman. Syifa tersenyum, ia mengerti dengan semua hal yang Firman dan Salwa sampaikan. Tak lama, Syifa pun berpamitan untuk pulang ke rumah Orang tuanya. Diva telah menunggunya di halaman dengan rasa khawatir, dan saat ia melihat puteri kesayangannya pulang, ia pun segera memeluknya dengan erat. "Puteri Ummi dari mana? Seharian ini pergi tapi tidak memberitahu dan hanya berpamitan saja," Diva tak bisa menyembunyikan rasa khawatirnya. Syifa tersenyum dan menarik lengan Diva untuk duduk berdua di teras bersamanya. "Syifa ingin dengar penilaian Ummi atas Akh Rahman dan Utsman," pinta Syifa. Diva menarik nafasnya dalam-dalam, ia merasa harus benar-benar berhati-hati untuk menyampaikan apa yang mengganjal di dalam lubuk hatinya terdalam terhadap masa depan Syifa. "Sejak awal Ummi tidak suka dengan sikap Utsman, dan kalau kamu memang mempertimbangkannya, ingat baik-baik apa yang Ummi katakan ini. Pria dinilai dari bagaimana caranya memperlakukan seorang wanita secara terhormat. Pria tidak boleh menuduh sembarangan terhadap wanita shalehah. Pria juga tidak boleh memperlihatkan kemarahannya di depan anak-anak, dan semua cela itu ada di dalam diri Utsman," ujar Diva. Syifa memperhatikan setiap hal yang Diva katakan. "Tapi apakah kamu menyadari sesuatu dari kejadian seminggu yang lalu di rumah Paman Salman?," tanya Diva. "Menyadari apa Mi?," Syifa bertanya balik. "Rahman lebih memilih menghalangi Utsman agar tidak bisa membentakmu secara langsung. Dia menggunakan dirinya sendiri untuk melindungimu. Itulah yang sering dilakukan Abi-mu pada Ummi," jawab Diva. Syifa tersenyum, hatinya merasa lega. "Ayo Mi..., kita masuk. Aku bantu Ummi masak makan malam," ajak Syifa. Diva menahannya sesaat. "Kamu tidak mau beristikhoroh saja?," tanya Diva. "Aku sudah beristikhoroh sebelum Ummi menanyakannya. Aku sudah punya jawabannya, tapi aku ingin tahu bagaimana pendapat dari seluruh keluargaku tentang hal ini," jawab Syifa. "Sudah tanya Paman Salman dan Bibi Kiana?." "Aku rasa mereka berdua tidak perlu kutanya lagi Mi..., jawaban mereka akan sama persis seperti jawaban yang Ummi katakan padaku." Diva tersenyum dan masuk bersama Syifa ke dalam rumah. 'Allah sudah memberiku jawaban, namun aku ingin kau menanyakannya sendiri padaku, dan aku akan menjawabnya.'   * * *
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD