Terkadang Allah memberi cobaan kepada kita dengan cara yang tak terduga. Maka sebagai hamba-Nya yang beriman, kita harus menghadapinya dengan penuh ketenangan.
* * *
DUA KHITBAH
Rahman kembali pulang ke rumah, kali ini tanpa meminta di jemput oleh Ardi ataupun Risya. Ia disambut oleh Marni yang begitu bahagia melihat sosoknya.
"Kok kamu nggak minta jemput Dek?," tanya Ardi, kaget.
"Nggak apa-apa A'..., saya sekalian keluar bersama Akh Tio tadi," jawab Rahman.
"Kamu sudah makan Dek?," tanya Risya, khawatir.
"Sudah Teh..., tadi saya makan sama-sama Akh Tio sekalian," jawab Rahman seraya mengambil Zulfa dari gendongan Risya.
Ia mengajak Zulfa keluar dan bermain di teras. Risya mendekat pada Ardi.
"Coba Abi bicara sama Rahman, sepertinya ada yang dia sembunyikan...," pinta Risya.
Ardi tersenyum pada Risya dan mengecup kening isterinya dengan lembut. Ia sangat tahu kalau isterinya selalu memiliki perasaan yang peka terhadap siapapun.
Ardi segera keluar dan duduk bersama Rahman di teras.
"Kamu mau membicarakan sesuatu Dek?," tanya Ardi.
Rahman tersenyum.
"Saya merasa tidak enak A', pada kedua Orang tua Ukhti Syifa karena kejadian seminggu yang lalu. Akhir-akhir ini, saya jadi menghindari Ukhti Syifa di pesantren," jawab Rahman, jujur.
Ardi menatapnya dengan serius.
"Kenapa kamu harus bersikap begitu pada Syifa? Dia tidak salah Dek..., kamu pun begitu..., kalau kamu menjauh darinya, maka dia akan berpikir kalau kamu membencinya," ujar Ardi, menasehati.
"Saya tidak membencinya A'..., saya menyukainya...," Rahman segera menutup mulutnya yang keceplosan.
Ardi menatapnya dengan rasa tidak percaya, ia pun segera mengoda Rahman.
"Oh..., jadi wanita yang kamu suka itu Syifa??? Wah..., kenapa nggak bilang??? Ayo..., aku lamar dia buat kamu... ."
Ardi bergegas masuk ke dalam rumah untuk memberitahu Risya dan Marni. Rahman tersentak dan segera mengejar Ardi untuk menahannya agar tak mengatakan apapun. Namun terlambat, Ardi telah memberitahu Ibu dan Kakaknya.
"Masya Allah Dek..., kenapa tidak bilang kalau kamu suka sama Syifa??? Aku bisa membantumu untuk bicara pada Ummi dan Abi-nya," ujar Risya seraya mengusap rambut Rahman dengan lembut.
"Kamu keterlaluan ya..., berani betul kamu tidak bilang apa-apa pada Ibu tentang perasaanmu. Ayo..., Ibu sendiri yang akan melamarnya untukmu," ajak Marni.
Rahman tak mampu mengatakan apapun, semua orang di rumah itu malah bersiap-siap mengantarnya ke rumah Orang tua Syifa. Ardi dan Risya pun bahkan tak memberinya kesempatan untuk protes dengan menjadikan Zulfa yang berada dalam gendongannya sebagai tameng.
Mereka bergegas ke rumah Diva dan Daniel. Perasaan Rahman sudah tak menentu sejak tadi, ia merasa menyesal karena telah keceplosan bicara pada Ardi.
Mobil keluarga mereka tiba di rumah Orang tua Syifa, Daniel sendiri yang menyambut kedatangan mereka.
"Assalamu'alaikum Akh Daniel...," ujar Ardi.
"Wa'alaikum salam Akh Ardi," balas Daniel seraya memeluk Ardi.
Mereka dipersilahkan masuk ke dalam rumah dan Diva dengan cepat segera menyajikan minuman dan makanan untuk mereka.
"Tidak usah repot-repot Ukhti Diva," ujar Risya, merasa tidak enak.
"Apanya yang merepotkan Ukhti? Saya sama sekali tidak merasa direpotkan. Silahkan minum Ibu...," jawab Diva, sekaligus menyapa Marni.
"Terima kasih Nak...," balas Marni.
Rahman hanya bisa terdiam sambil mendekap Zulfa di pangkuannya.
"Silahkan diminum Akh Rahman...," tegur Diva.
Rahman merasa gugup secara tiba-tiba karena ditegur langsung oleh Diva, ia akhirnya hanya merespon dengan cara mengangguk dan tersenyum. Ardi menangkap hal tersebut dan berusaha untuk tidak tertawa melihat tingkah Rahman.
"Begini Akh Daniel, kami datang ke sini karena ada keperluan yang harus kami sampaikan kepada Akh Daniel dan Ukhti Diva," ujar Ardi membuka pembicaraan.
Rahman segera menundukkan kepalanya, wajahnya memerah karena menahan perasaannya.
"Keperluan apa itu Akh Ardi? Katakan saja..., kami akan mendengarkan," ujar Daniel.
"Begini Akh..., Rahman, Adik kami sudah cukup umurnya untuk menikah. Hidupnya mungkin belum terlalu mapan namun kami bisa menjamin kalau dia akan bekerja keras. Akhlaknya Alhamdulillah tidak mengecewakan, dan juga sudah mampu untuk membina keluarga sendiri," jelas Ardi.
Daniel dan Diva tersenyum lalu menatap ke arah Rahman yang terus saja menunduk dengan wajah memerah.
"Alhamdulillah Akh Ardi, kami juga sudah mengetahui hal tersebut. Kami bahkan sering melihat dengan mata kepala kami sendiri bagaimana Akhlaknya, bagaimana tanggung jawabnya, dan bagaimana dia berusaha dalam mencari nafkah," puji Daniel.
"Ya, dan maka dari itulah kami datang kemari, untuk meminta persetujuan dari Akh Daniel dan Ukhti Diva. Dengan mengucapkan Bismillahirrahmanirrahim, saya mewakili Ibu Mertua saya, dan berbicara kepada kalian untuk mengkhitbah Asyifa Herdiyan Kamil agar bisa menjadi isteri dari Adik kami, Rahman Sofyan."
Daniel dan Diva saling menatap beberapa saat.
"Alhamdulillah..., syukron atas lamaran Akh Ardi sekeluarga terhadap puteri kami. Insya Allah kami menerima lamaran ini, namun alangkah lebih baik jika Syifa sendirilah yang menjawabnya. Karena dia yang akan menjalani rumah tangga jika menikah dengan Rahman," jawab Daniel dengan wajah bahagia.
"Alhamdulillah Ya Allah..., syukron Ukhti...," Risya memeluk Diva dengan erat sebagai ucapan terima kasih.
Diva pun membalasnya dengan penuh kehangatan.
"Afwan Ukhti..., kita tidak bisa mengahalang-halangi kebaikan, dan menikah adalah sebuah kebaikan yang wajib kita penuhi untuk anak maupun Adik kita," ujar Diva.
Marni pun memeluk Diva setelah Risya melepas pelukannya.
"Terima kasih Nak, Allah akan membalas semua kebaikan dan ketulusanmu, Insya Allah," bisiknya.
Sore itu, Ardi membawa pulang keluarganya dengan hati diliputi rasa bahagia. Daniel dan Diva melepas kepulangan mereka dengan senyuman bahagia yang tidak redup sedikit pun.
"Seharusnya yang gugup dengan wajah memerah itu yang dilamar kan ya? Bukan yang melamar...," ujar Daniel.
Diva terkekeh seraya mencubit lengan Daniel.
"Memangnya Abi nggak merasa gugup waktu melamar Ibunya Syifa? Pastilah wajah Abi juga memerah waktu itu...," gurau Diva.
Daniel menatap Diva dengan senyum seakan terpaksa. Diva pun memeluk suaminya dengan lembut.
"Biar bagaimana pun, Almarhumah Ziona tetaplah pernah menjadi bagian hidup Abi, dan Syifa adalah buktinya. Maka sebaiknya Abi tidak boleh melupakannya begitu saja, karena hal itu akan membuat Syifa merasa tidak berarti," saran Diva.
Daniel menangkupkan kedua tangannya di wajah Diva yang selalu terbalut niqob. Kecantikan isterinya itu tak hanya terpatri jelas di wajahnya namun juga terpatri dengan kuat di hatinya.
"Abi cinta sama Ummi...," ungkap Daniel.
Diva tersenyum.
"Ummi juga cinta sama Abi," balasnya.
Mereka hendak masuk ke dalam rumah ketika sebuah mobil kembali masuk ke halaman rumah mereka. Daniel dan Diva menatap mobil itu.
"Assalamu'alaikum Akh Daniel...," ujar Arman saat keluar dari mobilnya bersama dengan Utsman.
"Wa'alaikum salam...," jawab Daniel dan Diva bersamaan.
Mereka berjabat tangan dengan Daniel sementara Diva hanya menangkupkan kedua tangannya di depan d**a.
"Silahkan duduk," Daniel mengajak mereka duduk di teras, bukan di dalam rumah.
Diva tidak pergi mengambilkan minum, ia hanya berdiri di dekat Daniel dengan wajah tanpa senyuman di balik niqob-nya. Hatinya tiba-tiba terasa tak tenang dengan kehadiran kedua orang itu.
"Begini Akh Daniel, maksud kedatangan kami kemari adalah untuk meminta maaf atas kesalah pahaman yang terjadi di rumah Akh Salman satu minggu yang lalu," ujar Arman.
Daniel menatap Diva, ia tahu isterinya tidak suka dengan kedatangan mereka.
"Ya, kami sudah memaafkan," jawab Daniel singkat.
Arman dan Utsman merasa lega, mereka merasa telah dimaafkan.
"Alhamdulillah..., kami juga ada keperluan kepada Akh Daniel dan Ukhti Diva. Sejujurnya, Utsman menegur Syifa dan Rahman seminggu yang lalu karena sebenarnya Utsman tidak suka kalau Syifa berdekatan dengan Rahman. Utsman memiliki perasaan terhadap Syifa dan hari ini saya sebagai Ayahnya, ingin mengkhitbah Syifa untuk menjadi isteri bagi anak saya, Utsman Alaydrus," jelas Arman.
Deg!!!
Daniel dan Diva merasa bagaikan baru saja tersambar petir.
"Afwan Akh Arman, tapi sayang sekali puteri kami telah dikhitbah lebih dulu oleh Rahman. Jadi kemungkinan, kami tidak bisa menerima khitbah dari Utsman," jawab Daniel, tegas.
Arman dan Utsman pun saling memandang satu sama lain, mereka merasa telah kecolongan.
"Apakah Syifa sudah menerima lamaran Rahman?," tanya Utsman, setengah membentak.
"Belum, kemungkinan malam ini dia akan menjawab lamaran tersebut," jawab Diva, tak kalah tegas.
"Bukankah tidak adil jika kalian hanya menyampaikan lamaran dari Rahman tapi tidak menyampaikan lamaran dari saya? Bukankah Syifa berhak memilih?," tanya Utsman, kali ini benar-benar membentak Diva.
"Ya…, saya akan memilih, jika itu yang kamu mau!!!"
Suara bentakan itu membuat semua mata tertuju pada Syifa yang sedang berdiri di ambang pagar rumah.
"Syifa? Kamu pulang?," tanya Diva, terkejut.
Syifa tak menjawab.
"Assalamu'alaikum Mi...," ujar Syifa sambil mencium tangan Diva dengan lembut.
"Wa'alaikum salam sayang...," jawab Diva.
Syifa pun mencium tangan Daniel. Ia meletakkan tasnya di kursi dan menatap tajam ke arah Utsman.
"Apalagi??? Tidak pulang??? Sudah saya jawab kan kalau saya akan memilih...," Syifa berbicara tanpa pikir panjang.
Arman dan Utsman pun bangkit dari duduknya.
"Kalau begitu kami pulang dulu..., Assalamu'alaikum," ujar Arman.
"Wa'alaikum salam," jawab Daniel dan Diva.
Syifa segera meraih tasnya dan masuk ke dalam rumah. Daniel dan Diva mengikutinya dengan cepat.
"Syifa..., kamu kenapa Nak? Kenapa sikapmu begini?," tanya Daniel.
Syifa menatap Daniel dengan tajam, Diva berdiri di sampingnya.
"Apa yang Abi lakukan??? Kenapa membiarkan laki-laki itu membentak Ummi??? Kenapa Abi tidak mencegahnya???," tanya Syifa, keras.
Diva meraih tubuh Syifa ke dalam pelukannya. Ia berusaha menenangkan puterinya.
"Abi nggak seharusnya membiarkan dia membentak Ummi..., Abi harusnya menjaga Ummi selama aku nggak ada di rumah..., kalau aku nggak pulang, aku nggak akan tahu kelakuan Iblis si laki-laki sinting itu!!!," Syifa menangis dalam pelukan Diva.
Daniel mendekat dan mengambil Syifa lalu memeluknya.
"Maafin Abi ya sayang..., maafin Abi...," pinta Daniel.
* * *