Mengancam

1024 Words

Pertengkaran pun semakin menjadi, hingga membuat Berlin terbangun. Bocah itu langsung keluar dan memeluk Violeta, lalu Violeta menggendongnya. “Mama sama Papa ada apa, kok berisik banget? Berlin jadi kebangun, nih.” Berlin cemberut. “Maafin mama sama Papa, ya, Sayang. Karna udah ngeganggu tidurmu. Nggak ada apa-apa, kok.” Violeta mencium pipi Berlin. “Iya, Mama. Berlin sayang Mama.” Berlin pun mencium kedua pipi Violeta. Darah Bianca mendidih melihat pemandangan tersebut. Tangannya terkepal erat. Rasa benci pada Violeta kian berkali-kali lipat. Bagaimana bisa, anak kandungnya lebih menyayangi Violeta yang hanya sebagai ibu sambung, sedangkan terhadap dirinya yang merupakan ibu kandung, Berlin justru tak mau mengenalnya. “Berlin, Sayang. Ini mama kamu, Nak. Bukan dia!” Jari telunjuk B

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD