Keturunan Piktor

1100 Words

“Ma, Pa, Berlin pengen foto bareng Tante yang jualan es teh itu. Boleh, ya?” Wajah Berlin memelas, memohon pada kedua orangtuanya. “Penjual es tehnya cantik banget, hihi.” “Tentu aja boleh dong, Sayang. Berlin mau foto bareng sama semua cewek cantik di sini, papa pasti izinin.” Bram tersenyum. “Nanti kalo Berlin nikah, mau nyari istri yang cantik kayak Mama.” “Papa akan selalu support kamu, Sayang.” Violeta menepuk jidat. Sejak tadi kepalanya dibuat pusing oleh tingkah laku Berlin, apalagi didukung penuh oleh Bram. Jika ia melarang, pasti Berlin akan merajuk, sedangkan sekarang sedang merayakan ulang tahunnya. Tidak akan mungkin jika ia akan merusak momen bahagia tersebut. Bram benar-benar menuruti keinginan Berlin. Dia sibuk memotret sang putra dengan para gadis cantik. Sementara Vio

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD