Hingga malam pun tiba, Berlin masih saja terus menangis. Dengan susah payah Bram berusaha mendiamkannya, tetapi tidak bisa, sebab Berlin hanya ingin Violeta. Mata bocah itu bengkak karena kebanyakan menangis. Bram sungguh tak tega melihatnya. “Mama … Berlin maunya sama Mama. Mama ke mana …?” Berlin meraung-raung. “Berlin, Sayang. Mungkin mama lagi ada keperluan di luar. Kan ini ada papa, Nak. Berlin sama papa aja, ya. Bobo sama papa.” Bram menggendong sang putra. “Gak mau, Pa. Berlin maunya sama Mama.” Bram menghela napas dengan berat. Tubuhnya seketika lemas. Dia memilih duduk di sofa sambil menggendong Berlin. Ditatapnya jam di dinding yang menunjukkan pukul 11 malam. Bram termenung memikirkan keadaan sang putra yang sedang tantrum. Berlin memang selalu seperti itu jika keinginanny

