Bibir Violeta gemetar. Matanya berkaca-kaca ketika ia menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri, di mana Bram yang sedang berdiri sembari menelepon seseorang. Pria itu berdiri tegak tanpa bantuan kursi roda. Tanpa terasa air mata jatuh membasahi pipi. Hatinya sakit dan kecewa yang mendalam sebab merasa telah ditipu oleh Bram. Selama beberapa hari ini dia rela begadang dan bekerja dua kali lipat, yaitu mengurus Berlin dan Bram. ‘Jadi ternyata selama ini Om Bram udah bohong dan nipu aku. Tega banget dia ngelakuin ini sama aku. Aku bener-bener kecewa dan sakit banget.’ Violeta membatin. Rantang yang berisi makan siang untuk Bram, kini sudah tergeletak di lantai. Bram tak kalah terkejutnya melihat kehadiran Violeta yang tiba-tiba tanpa sepengetahuannya. Jantungnya berdetak cepat. Bram mela

