Bram kembali terkejut mendengar persyaratan dari Violeta. Bagaimana tidak, keinginan gadis tersebut tak kira-kira, yaitu meminta separuh hartanya. Bukankah itu sama saja dengan pemerasan?
Otaknya sedang berpikir keras atas persyaratan tersebut. Jika dia menyetujui begitu saja, itu sama saja bahwa dirinya seperti orang yang teramat sangat bodoh.
‘Gila, gadis ini bener-bener gak kira-kira ngasih syarat. Ini sama aja memeras aku. Dia kira aku ini orang yang bodoh yang bisa diperas. Aih, mendingan aku nyari perempuan lain aja buat jadi ibu sambungnya Berlin.’ Bram sedang berperang batin.
Violeta menatap pria tampan di hadapannya dengan bibir terangkat sinis. Dia sangat yakin kalau Bram sedang dilema atas persyaratan yang diberikannya.
‘Hhh, aku tau Om piktor ini pasti keberatan sama syarat yang aku ajuin. Dasar Om piktor pelit, medit. Gaya doang pengen nambah istri, tapi nyatanya gak mampu dalam hal materi!' Violeta menatap remeh.
“Nona, apa gak salah sama keinginanmu itu? Kamu mau memerasku, begitu?” Akhirnya pertanyaan itu lolos juga dari mulut Bram.
“No, Om! Itu udah mutlak persyaratan dariku yang udah gak bisa diganggu gugat lagi. Kalau Om setuju, aku mau hitam di atas putih, tanda tangan di atas materai.” Violeta tersenyum smirk. "Tapi kalo Om gak setuju juga gak apa-apa, tapi jangan bilang kalo aku memeras Om. Okey?!"
Bram tampak tengah berpikir keras. Dia benar-benar sedang dilema. Di tengah kebingungannya, tiba-tiba Berlin keluar dari kamar dan berlari ke arah Violeta. Bocah itu langsung memeluknya.
“Mama … kenapa Mama gak nemenin Berlin bobo? Berlin takut bobo sendiri di kamar.” Berlin menyusupkan wajah di d**a Violeta.
Gadis itu kembali kesal dan merasa risih akan sikap Berlin. Dia berusaha melepaskan tubuh kecil itu dari dadanya. Namun, Berlin sangatlah kuat memeluk, sehingga sangat sulit dilepaskan.
Bram menatap sendu, hatinya sedih melihat sikap sang putra yang begitu menginginkan kasih sayang dari Violeta. Awalnya dia keberatan dengan persyaratan yang diberikan oleh gadis itu.
Akan tetapi, ketika dia kembali melihat bagaimana sang putra begitu menginginkan dan menganggap Violeta sebagai ibu, hatinya pun luluh. Harta bukanlah yang utama baginya, tetapi sang putra yang merupakan prioritas utama.
‘Harta masih bisa kucari, meskipun aku akan kembali merintisnya dari nol lagi. Tapi yang terpenting adalah kebahagiaan putraku, karena dialah nyawa dan hidupku.’ Mata Bram berkaca-kaca menatap Berlin.
“Berlin, Sayang. Sini, Nak. Duduk sama papa.” Bram tersenyum.
Berlin menggeleng. “Berlin cuma mau sama Mama. Berlin masih kangen sama Mama.”
Violeta menghela napas dengan berat. Kepalanya terasa ingin pecah karena stres menghadapi Berlin yang sangat keras kepala. ‘Omg, aku butuh hiburan kalo stres gini. Malam ini aku harus ke clubbing bareng Jerry dan temen-temen.’
Violeta tak bergerak, ataupun bersuara lagi. Dia mencoba bersabar menghadapi bocah dipelukannya. Hingga tanpa terasa, suara dengkuran halus terdengar, ternyata Berlin kembali tertidur dengan pulas.
Bram berinisiatif untuk mengambil alih sang putra, tapi Violeta mencegahnya, sebab dia khawatir jika nanti Berlin akan kembali terbangun dan merengek-rengek. Violeta tak ingin semakin pusing dibuatnya.
“Om, udah biarin aja. Aku masih kuat kok sambil menggendong. Kita lanjut aja obrolan kita yang tadi tertunda.” Violeta kembali membuka suara.
“Oke. Aku setuju sama syarat yang kamu ajuin. 50 persen hartaku akan aku kasih ke kamu sebagai imbalan. Tapi, itu aku kasihnya kalau kontrak kerja kita udah selesai.” Bram menatap Violeta dengan serius.
“Maksud Om gimana? Kontrak kerja apa maksudmu, Om?” Wajah Violeta menegang.
“Maksudku adalah ... kontrak nikah kita kalau udah selesai. Bukankah itu sama aja seperti kontrak kerja?”
“Oh, iya. Emangnya Om mau berapa lama nikah kontrak sama aku?”
Bram tercenung mendapat pertanyaan tersebut. Sejujurnya dia juga masih bingung dan belum memiliki persiapan apa pun juga. Namun, jika dipikir-pikir, tak akan mungkin jika kontrak nikah mereka hanya satu atau dua tahun saja, sebab Bram memikirkan mental sang putra.
Violeta semakin tegang menunggu jawaban Bram. Dia was-was dan khawatir, bagaimana jika pria itu memanfaatkan keadaan dengan menjeratnya dalam sandiwara pernikahan yang lama, sementara dia memiliki kekasih, lalu bagaimana jika dirinya ketahuan oleh publik sudah menikah, meskipun hanya menikah kontrak.
“Nona, aku akan menjawab setelah asistenku datang kemari membawa keperluan untuk surat perjanjian.”
Bram mengeluarkan ponsel, lalu menghubungi seseorang. Selama menunggu asistennya datang, Bram terus mengajak Violeta mengobrol.
“Om, tapi aku mau aku yang menulis isi perjanjian di surat perjanjian nanti. Karna aku gak mau kalau Om yang menulis persyaratannya.” Violeta mengutarakan isi hatinya.
“Oke!”
Hanya kata-kata itu yang Bram ucapkan. Namun, jauh di dalam lubuk hatinya dia merasa sedang dimanfaatkan oleh Violeta, sehingga dirinya tak bisa berkutik sebab menyangkut sang putra.
Tatapan Bram tajam terhadap Violeta yang masih dengan setia menggendong Berlin. Pemandangan tersebut yang selalu membuatnya dilema dan luluh, sebab demi sang putra.
‘Bagaikan makan buah Simalakama. Ini yang sekarang lagi kurasakan. Tapi, demi kebahagiaan dan mental putraku, mau gak mau aku harus lakuin ini. Semoga apa yang aku lakuin ini gak akan berdampak buruk ke depannya.’
Tak berapa lama kemudian, asisten Bram datang. Dia langsung memberikan kertas kosong kepada sang bos. Bram memberikan kertas A4 dan bolpoin pada Violeta, lalu dia mengambil alih Berlin, kemudian diletakkan di kamar.
Violeta dengan begitu serius menulis poin-poin penting di atas kertas. Setelah semua persyaratan dicantumkan, lalu ia memberikannya pada Bram untuk menandatangani di atas materai.
Bram membaca poin demi poin dengan seksama dan teliti sebelum dia membubuhkan tanda tangan. Namun, sebelum menandatangani surat perjanjian itu, dia ingin mengatakan tentang tenggat waktu pernikahan kontrak mereka.
“Nona, aku udah baca poin-poin yang kamu tulis. Dan sekarang aku mau mengatakan tenggat waktu pernikahan kontrak kita.”
“Katakan aja, Om. Berapa lama tenggat waktunya.”
“Aku mau kita nikah kontrak selama lima tahun!”
“A-apa? Li-ma ta-hun?”
“Hmm.”
Violeta tak langsung menjawab. Ia meminta waktu untuk berpikir. Bram pun menyetujuinya. Lalu setelah itu, Violeta berpamitan untuk pergi dari vila tersebut. Motornya tadi sudah dibawakan oleh anak buah Bram, jadi ia bisa pergi sendiri.
Pikiran Violeta benar-benar sangat pusing. Masalah kini semakin bertubi-tubi mendatanginya. Fasilitas dicabut oleh sang ayah, diusir dari rumah, dan kini ditambah memikirkan penawaran kerja sama dengan Bram.
Awalnya ia setuju karena berpikir bisa mengelabui Bram. Namun, ternyata Bram bukanlah pria bodoh yang bisa ditipu, sebab dia memberikan tenggat waktu lima tahun barulah separuh hartanya akan diberikan pada Violeta.
‘Aku harus ke apartemen Jerry. Aku harus bicarain masalah ini sama dia karna dia adalah pacarku, jadi semua permasalahanku dia wajib tau.’ Violeta menuju apartemen sang kekasih.
Jerry saat itu masih tidur pulas. Violeta yang mengetahui password apartemennya bisa langsung masuk. Dia sudah terbiasa keluar masuk di tempat tinggal Jerry. Jerry seketika terbangun dari tidur lelapnya ketika mendengar suara langkah kaki sang kekasih.
“Baby, tumben siang-siang gini kamu udah ke sini. Dan … kenapa kamu masih pakai baju tidur?” Jerry duduk sambil menatap wajah cantik Violeta.
Violeta menghela napas. Lalu dia menceritakan semua kejadian yang menimpanya. Tentu saja Jerry sangat terkejut mendengar sang kekasih yang diusir oleh papanya dan semua fasilitas dicabut, karena selama ini dirinya bisa hidup enak semua itu berkat Violeta yang selalu memberinya uang.
“Baby, kamu jangan bercanda, deh! Masa iya papa kamu mencabut semua fasilitas dan bahkan mengusirmu? Karna kamu ‘kan anak semata wayangnya yang sangat disayangi.” Jerry memegang bahu Violeta.
“Aku serius, Baby. Buat apa aku bohong? Tapi sekarang aku lagi bingung, karna ada seorang pria tua yang menawarkan kerja sama denganku.”
“Kerja sama apa maksudmu, Baby?”
“Pria tua itu mengajak aku nikah kontrak selama lima tahun dengan imbalan 50 persen hartanya nanti untukku.”
Jerry terbelalak, lagi dan lagi ia dibuat terkejut oleh penuturan sang kekasih. Namun, untuk kali ini ia harus menyetujui dan memberi support, karena semua itu demi kelangsungan hidupnya.
“Oke, Baby. Aku setuju. Kamu terima aja tawaran pria tua itu buat nikah kontrak yang penting separuh hartanya nanti jadi milik kamu, milik kita. Kita tetap akan memiliki banyak uang!”