Violeta terdiam. Ia tengah memikirkan saran dari sang kekasih. Apa yang Jerry katakan memanglah benar, jika dirinya menikah kontrak dengan Bram, maka ia akan memiliki banyak harta kekayaan. Dan itu bisa digunakan untuk kehidupan mereka berdua.
Hidupnya yang sejak kecil hingga dewasa selalu bergelimang harta, fasilitas lengkap, tapi tiba-tiba fasilitasnya ditarik dan dia diusir oleh sang papa, sungguh membuatnya gelap mata.
Violeta tentu saja tidak akan bisa jika hidup dalam kesulitan materi. Jadi, jalan pintas satu-satunya yang harus dilakukan adalah menerima tawaran dari Bram. Dia harus mempertimbangkan secara matang saran dari Jerry.
"Baby, gimana kalau malam ini kita pergi dugem aja. Aku lagi butuh hiburan, nih. Otakku lagi stres banget. Kita ke clubbing di tempat biasa aja bareng temen-temen." Akhirnya Violeta mengatakan itu, karena hanya itu yang ada dibenaknya.
"Oke, Baby. Dengan senang hati. Apa sih yang nggak buat bidadariku ini." Jerry menjawab seraya tersenyum smirk. Di dalam benaknya sudah tersimpan niat terselubung.
Violeta tak menyadari itu, karena baginya Jerry adalah lelaki yang sangat mencintainya dengan sepenuh jiwa. Maka dari itu, selama ini dia mau melakukan apa pun juga demi sang kekasih.
'Aku akan memilikimu seutuhnya malam ini, Baby. Udah lama aku menanti momen ini, tapi baru kali ini ada kesempatan.' Jerry membatin seraya menatap Violeta dengan menggigit bibir. 'Aahhh, aku udah gak sabar menunggu malam. Aku mau memiliki tubuh dan dirimu secara utuh, Vio.'
Malam itu, hiruk pikuk sangat riuh di sebuah night club. Perempuan dan laki-laki berlenggak-lenggok mengikuti irama musik yang memekakkan telinga. Suasana sangat ramai sekali.
Violeta dengan begitu lincahnya meliuk-liukkan tubuhnya yang tinggi semampai dengan menggunakan dress yang sangat seksi, sehingga menampakkan lekuk tubuhnya yang indah. Dia sedang menikmati musik DJ bersama sang kekasih dan teman-temannya. Mereka tertawa-tawa penuh kegembiraan.
Violeta sedang menumpahkan rasa pusingannya dengan dugem. Permintaan Bram untuk menikah kontrak dengannya dengan tenggat waktu lima tahun, sungguh sangat mengganggu pikiran dan membuatnya stres.
Dia melampiaskannya dengan cara ke clubbing seperti ini. Ditambah lagi Jerry yang begitu antusias mendukungnya agar melakukan pernikahan kontrak tersebut karena mengharapkan harta dari Bram.
Harga Bram yang banyak dan akan diberikan padanya 50 persen sungguh menggiurkan sekali. Hati siapa yang tidak tergoyah jika mendapat rezeki mendadak seperti itu. Begitu pula dengan Violeta.
“Baby, ayo, kita minum dulu. Ini kadar alkoholnya cuma sedikit banget, cuma 16 persen, kok. Jadi, kamu gak bakal mabuk.” Jerry berteriak di telinga Violeta, karena suara musik sangat kencang.
“No, Baby. Aku gak mau minum, meskipun kadar alkoholnya sedikit. Kamu kan tau prinsip aku, walaupun aku suka dugem, tapi kalau soal minum, no!” Violeta pun menjawab dengan berteriak. Dia memang tidak pernah mau menyentuh minuman haram itu, meskipun dia hobi dugem.
Wajah Jerry berubah memerah. Sudah dua tahun lamanya mereka menjalin hubungan sebagai sepasang kekasih, dan mereka selalu menghabiskan waktu bersama-sama di apartemen dan juga di klub, tetapi selama itu pula dia belum pernah menyentuh tubuh Violeta, dan bahkan minum alkohol pun gadis itu selalu menolak.
Sebagai lelaki dewasa dan normal, tentu saja Jerry sangat berhasrat terhadap Violeta. Wajahnya yang cantik, kulit putih mulus bak salju, dengan bentuk tubuh yang tinggi semampai bak model, pasti akan membuat kaum lelaki b*******h.
Sementara di zaman sekarang, pasangan kekasih sudah terbiasa melakukan free s*x, tetapi mengapa sangat sulit sekali untuk mendapatkan itu dari Violeta, sang kekasih.
Jerry tak kehabisan akal, bagaimana pun caranya malam ini dia harus berhasil menjerat Violeta. Sebab itu keinginannya sejak dulu. Sudah cukup lama dia bersabar menghadapi sikapnya.
Apalagi nanti Violeta akan menikah kontrak dengan pria lain, jadi dirinyalah yang harus menjadi lelaki pertama sebelum sang kekasih disentuh oleh pria lain yang berstatus sebagai suaminya.
“Baby, tunggu sebentar, ya. Aku mau ke toilet dulu. Aku kebelet pipis, nih.” Jerry pergi meninggalkan Violeta.
Violeta tak peduli. Ia terus saja asik menikmati alunan musik DJ. Tanpa ia sadari bahwa sejak tadi ada sepasang mata elang yang menatapnya tajam dari jarak yang tak begitu jauh. Pria tampan itu duduk sambil sesekali menenggak cocktail, tapi matanya tak pernah luput dari Violeta.
'Vio, Sayang. Tunggu aja malam ini kamu akan menjadi milikku seutuhnya. Aku gak akan membiarkanmu lepas barang sedikitpun. Oouuuhhh ... Vio ... kamu membuatku h***y, Baby ....'
Di dalam toilet, Jerry menghubungi seseorang. Dia memesan obat perangsang dosis tinggi. Lalu orang suruhannya itu diperintahkan untuk memberikan obat perangsang tersebut pada sang bartender.
Seorang bartender pria menghampiri Violeta. Dia menyodorkan gelas yang berisi air putih. “Nona Vio, ini air mineralnya. Tadi Jerry yang nyuruh aku ngasihin ke kamu.”
Violeta menoleh sekilas ke arah sang bartender. Dia sudah cukup lama mengenalnya, maka tanpa berpikir panjang dia pun langsung menenggak air tersebut hingga tandas. Tubuhnya tetap meliuk-liuk, berlenggak-lenggok dengan begitu lincah dan indah. Lelaki mana pun yang melihatnya, pasti akan b*******h.
Tak lama kemudian, Jerry kembali. Mereka kembali melanjutkan acara berjoget ria. Mereka terus asik meliuk-liukkan tubuh hingga 5 menit lamanya. Namun, Violeta terlihat berbeda. Dia sejak tadi tampak gelisah dan sesekali mengibas-ngibaskan tangan di depan d**a dan wajahnya.
“Baby, kamu kenapa?” Jerry memegang kedua pipi Violeta.
Violeta menatap Jerry dengan sayu. Matanya sejak tadi terus tertuju pada bibir sang kekasih. Ia meneguk ludah secara berulang kali dan sesekali menggigit bibir bawah yang sensual nan seksi.
Ingin rasanya ia menyentuh bibir Jerry. Namun, hatinya menolak. Jadi, antara hati dan otak tidak sinkron, tapi semakin ia menahan keinginan itu, maka semakin menjadi pula keinginannya.
Violeta memegang kepala yang tiba-tiba pusing dan pandangannya buram. Hampir saja tubuhnya jatuh tersungkur di lantai, tapi dengan sigap Jerry menahan tubuh indah sang kekasih dan memeluk pinggangnya yang ramping.
“Baby, apa kamu baik-baik aja?” Jerry merangkul, lalu memapah Violeta untuk keluar dari klub. “Ayo, aku antar kamu pulang.”
Violeta hanya menurut saja. Di dalam mobil dia tak bisa diam. Tubuhnya bergerak kesana-kemari, bibirnya kering dan wajahnya memucat. “Bawa mobilnya yang ngebut, Baby. Aku udah gak tahan.”
Sudut bibir Jerry terangkat, dia tersenyum smirk. “Oke, Baby. As you wish!”
Jerry memarkirkan mobilnya di sebuah hotel. Dia memapah Violeta, lalu melakukan check-in. Dibawanya tubuh molek sang kekasih untuk masuk ke kamar yang sudah dipesan dan direbahkan di ranjang.
Violeta semakin menjadi. Tangannya bergerak liar dari wajah, lalu turun ke leher, dan semakin turun ke d**a hingga perut dengan gerakan erotis. Dia tiada henti menggigit bibir.
“Panaaasss … a-aku … bu-tuh a-ir … a-ku … sa-ngat … da-ha-ga … aahhh ….”
Suara Violeta melemah, tapi terdengar menggoda. Jerry meneguk ludah dengan susah payah ketika melihat gaun Violeta yang tersingkap hingga menampakkan pahanya yang putih mulus.
"To-long ... a-ku ... Ba-by ... a-ku ... udah gak ta-han ... ooouuhhhhhh ...."
Perlahan Jerry duduk di sisi ranjang. Jari telunjuknya mengelus-elus lembut pipi dan bibir Violeta, lalu turun menyentuh lehernya yang jenjang. Tatapan mata Violeta semakin sayu.
“Baby, apakah kamu udah siap jika malam ini menghabiskan malam yang panjang denganku? Dan ingatlah, bahwa aku ini pacar kamu, Baby. Kita saling mencintai.” Deru napas Jerry menggebu-gebu.
Violeta mengangguk. Tangannya melingkar di leher Jerry. “Yes, Baby. Sentuh aku. Malam ini aku milikmu seutuhnya.”
Jerry tersenyum bahagia, akhirnya keinginannya selama dua tahun ini akan segera terwujud. Perlahan dia berdiri, lalu membuka baju, sehingga kini dia sudah bertelanjang d**a.
Mata Violeta tak luput dari tubuh Jerry yang terlihat menggoda. Dengan susah payah dia meneguk ludah dan tiada henti menggigit bibirnya yang semakin mengering.
“Baby, cepatlah.” Suara Violeta bergetar.
“Oke, Baby. Dengan senang hati!” Jerry melepas high heels dari kaki Violeta yang jenjang dan putih mulus.
Sebenarnya dia sudah tak tahan ingin segera melahap sang kekasih. Namun, karena ini merupakan yang pertama kali bagi Violeta, maka dia harus melakukan foreplay terlebih dahulu agar gadis tersebut lebih relax.
Dengan penuh gairah, Jerry mencium kaki jenjang sang kekasih. Dikecupnya kaki yang putih mulus tanpa cela itu, lalu dijilatinya dengan napas yang memburu. Perlahan dia menindih tubuh Violeta dan ingin mencumbunya.
Brak!
Bugh! Bugh!
"Dasar b******k! b******n!"