Penyelamat

1309 Words
Bram yang sejak di klub mengikuti Jerry dan Violeta, langsung menghajarnya dengan membabi-buta. Jerry sangat terkejut karena mendapat serangan mendadak dari orang yang tak dikenal. Ingin rasanya dia melawan, tapi tak mampu, sebab tenaga dan kekuatan Bram berkali-kali lipat darinya. Akhirnya, dia hanya bisa pasrah dan menerima semua perlakuan Bram terhadapnya. Bugh! Bugh! "Dasar lelaki b******k! b*****h! j*****m! Kelakuanmu seperti banci, seperti pecundang! Dasar tak tau malu, b******n k*****t!" Bram mengeluarkan segala sumpah serapahnya. Umpatan dan caci-maki ia lontarkan. Entah mengapa darahnya mendidih dan emosinya tak terkendali melihat Violeta yang akan dinodai oleh lelaki lain. Walaupun dia baru mengenal gadis itu, dan belum mengenalnya dengan dekat, tapi tak tahu mengapa dia begitu marah dan emosi ketika mengetahui ada lelaki lain yang mengganggu calon istri kontraknya. Sementara Jerry terperangah mendengarnya. Dia merasa aneh dan heran, kenapa Bram begitu membabi-buta menghajar dan mencacinya, sedangkan mereka tidak saling mengenal. “Siapa kamu, Bung? Kenapa tiba-tiba kamu menghajarku? Kita gak saling mengenal dan gak ada urusan, jadi berhenti menghajarku!” Jerry menyeka darah di sudut bibirnya. Matanya tak luput dari wajah Bram yang memerah. “Siapa aku, kamu gak perlu tau! Tapi perbuatanmu ini udah di luar batas. Kamu sengaja masukin obat perangsang dosis tinggi di air mineral yang Vio minum!” Bram terus memukul wajah dan perut Jerry. "Kenapa kamu tega berbuat tak senonoh begini pada Vio? Aku rasa ini emang udah kamu rencanakan buat ngelakuin hal biadab yang menjijikkan ini padanya. Sialan!" Jerry jatuh tersungkur. Dia menatap wajah pria dewasa di hadapannya. Di dalam hati dia bertanya-tanya, siapakah Bram? mengapa dia tahu dengan semua yang dilakukannya? Jerry berpikir bahwa Bram bukanlah orang sembarangan, dia pasti merupakan orang yang sangat berpengaruh, sebab bisa dinilai dari penampilan dan caranya. Jerry bangkit, dia menatap ke arah ranjang, di mana Violeta masih dalam pengaruh obat perangsang. Tubuh gadis itu berguling-guling dengan erotis di sana. Jerry sungguh sangat geram pada Bram yang telah mengacaukan rencananya. ‘Sialan! Padahal tinggal dikit lagi aku berhasil merawanin Vio. Tapi gara-gara orang resek ini akhirnya jadi gatot! Aku penasaran banget sama orang ini, siapa sebenarnya dia?' Jerry mengumpat sekaligus bertanya-tanya di dalam hati. “Vio adalah pacar aku, jadi itu terserah aku mau apakan dia. Toh, kami sama-sama saling cinta! Emangnya kamu siapa ikut campur urusanku?!” Jerry berteriak. “b******k! Kamu cuma pacarnya, tapi bukan suaminya! Jadi, kamu gak berhak menyentuhnya dengan alasan saling cinta!” Bram kembali memukul wajah Jerry dengan brutal. "Siapa aku, itu gak penting buatmu! Yang terpenting adalah, kamu lepasin Vio! Dan jangan pernah lagi mengganggunya! Paham!" Bram masih belum puas memberi pelajaran pada Jerry yang menantangnya. Bukannya meminta maaf, tetapi justru berkata lancang mengenai hubungannya yang terjalin dengan Violeta. Tiba-tiba dua orang pria berperawakan tinggi besar dengan mengenakan pakaian serba hitam datang dan langsung meringkus kedua tangan Jerry. Jerry meronta-ronta meminta dilepaskan, tetapi dia justru dibawa paksa keluar. Jerry berteriak-teriak, sumpah serapah ia lontarkan kepada Bram. Namun, Bram tak menggubrisnya. Dia menyuruh kedua anak buahnya itu untuk membawa Jerry keluar dan memberinya pelajaran. Jerry sungguh merasa terhina atas sikap Bram dan anak buah yang meringkusnya. Seandainya bisa melawan, Bram pasti sudah dibunuhnya. Namun, jangankan membunuhnya, melawan saja dia tak mampu. Setelah itu, Bram langsung menutup pintu dan menghampiri Violeta yang semakin tak karuan, bahkan gaunnya kini semakin tersingkap ke atas, sehingga menampilkan pahanya yang putih mulus. Tubuhnya yang indah dan molek, tentu saja mengganggu fokus dan pikiran Bram sebagai pria yang normal. Darahnya berdesir melihat pemandangan indah di hadapannya. Dengan susah payah dia berusaha menahan hasrat yang tiba-tiba bangkit tanpa diminta. Bram tampak gusar dan tak tenang. Sekuat tenaga dia menahan hasratnya yang tiba-tiba bangkit. Celana bagian depan miliknya sudah mengembang minta dikeluarkan dari sarangnya. 'Ah, sial! Kenapa aku tiba-tiba h***y begini hanya gara-gara melihat lekukan tubuhnya yang indah dan molek itu. s**t! Aku kesiksa banget kalau kayak gini!' Bram menggerutu di dalam hati. “Baby, kenapa kamu lama banget, sih? Cepetan, aku udah gak tahan … aahhh … jangan siksa aku kayak gini, Baby.” Suara Violeta bergetar dan serak menahan hasrat. Tubuhnya yang indah menggelinjang kesana-kemari. Bram menatap iba. Sambil bersusah payah menahan hasrat dan gairah yang menggebu-gebu, akhirnya dia duduk di sisi ranjang. Ditatapnya wajah cantik gadis tersebut yang kini semakin memucat. Dia sangat tahu seperti apa dampaknya jika meminum obat perangsang, sebab dulu dia pernah diberi obat perangsang oleh Bianca, sang mantan istri. Dan jika hasrat yang menggebu-gebu tidak tersalurkan, maka akan sangat menyiksa, karena syaraf-syaraf terasa nyeri dan sakit. Mata Violeta menatap Bram dengan sayu. Ditariknya baju Bram hingga pria tersebut jatuh di atas tubuhnya. Matanya menyipit, antara sadar dan tidak dia mengenali sosok di hadapannya. Pandangan matanya sejak tadi tertuju pada bibir Bram yang terlihat sangat seksi dan menggoda. Violeta meneguk ludah. Perasaan apa yang kini menyelimuti dirinya, dia sendiri tak tahu. “Om piktor …?” Violeta bergumam. Tangannya melambai berusaha meraih wajah Bram. Bram hanya diam sambil terus menatap wajah cantik di bawah tubuhnya. Namun, tanpa diduga, kedua tangan Violeta mengalung di lehernya. Gadis tersebut ingin bangkit, tetapi kesulitan. “Om … a-ku … da-ha-ga … pa-nas … a-aku —” Violeta meneguk ludah dengan susah payah. “To-long a-ku Om … a-ku udah gak tahan ... a-ku udah gak kuat ... Om ....” “Vio, ayo, aku antar kamu pulang.” Bram membantu Violeta duduk. Violeta semakin merasakan hawa panas di tubuhnya yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata, apalagi ketika kulitnya secara tak sengaja bersentuhan dengan kulit Bram, membuat darahnya berdesir. Dengan begitu beraninya Violeta memeluk tubuh Bram. Dia ingin menyentuh bibir Bram yang sangat seksi di matanya. “Om piktor, ayo, sentuh aku. Bukankah kamu emang suka piktor?” Dalam keadaan seperti itu pun, Violeta masih bisa berkata pedas. Tanpa banyak bicara, Bram langsung membopong tubuh tinggi semampai Violeta, lalu dibawanya pulang. Bram tak bisa fokus mengendarai mobil, sebab Violeta selalu mengganggunya. Tangan gadis itu tiada henti menggerayangi wajah dan dadanya. Dan yang lebih gila lagi, kini Violeta beralih duduk di pangkuannya dengan posisi menghadap ke arahnya, sehingga membuat Bram semakin kesulitan mengendarai mobil. “Vio, turun dari pangkuanku. Nanti kita bisa celaka!” Bram menitahnya dengan tegas. Akan tetapi, Violeta tak mempedulikannya. Dia justru semakin mengeratkan pelukan di tubuh kekar nan atletis pria tampan di hadapannya. Kini, gaunnya sudah diturunkan di bagian bahu, sehingga menampilkan bahu dan dadanya yang sangat putih mulus. Dengan susah payah Bram berusaha menahan sesuatu yang bergejolak tak menentu di d**a, dan sesuatu yang telah lama bersemedi di bawah sana, tetapi kini tiba-tiba bangkit dari persemedian. “Vio, aku mohon turunlah dan duduk lagi di samping!” Sekali lagi Bram menitah. “No, Om! Sebelum kamu menyentuhku, aku gak mau turun. A-aku … aahhhh … aku … ingin —” Akhirnya, Bram terpaksa menghentikan mobil di pinggir jalan yang sepi. Dia bisa saja memenuhi keinginan Violeta di mobil pada saat itu juga. Namun, dia masih bisa menahan hasratnya karena tak ingin merusak anak gadis orang, apalagi pada saat itu Violeta sedang dalam pengaruh obat perangsang, jadi dia dalam keadaan tak sadar. Bram mengangkat tubuh Violeta secara perlahan, lalu diletakkannya di kursi samping. Dipasangnya seat belt agar tubuhnya bisa diam. Namun, tetap saja gadis tersebut tak mau diam. Bram melihat jam yang menunjukkan pukul 01.00 WIB. “Udah dini hari. Aku bingung mau nganterin gadis ini ke mana, karna aku gak tau alamatnya. Terpaksa kubawa ke rumah aja kalau kayak gini.” Bram bermonolog. Lalu, dia membawa Violeta ke rumahnya. Dibopongnya tubuh Violeta, lalu dibawa ke kamar tamu. Sesampainya di sana, ia meletakkan tubuhnya di ranjang. Namun, gadis itu kembali meliuk-liukkan tubuhnya dengan erotis. “Pa-nas … a-ku da-ha-ga ….” Violeta terus meracau. Bram tak tega melihatnya, lalu dia terpaksa membawa gadis tersebut ke kamar mandi. Tubuh Violeta diguyurnya di bawah shower, sehingga kini sang gadis terduduk meringkuk di lantai. “Maafkan aku, Vio. Aku terpaksa melakukan ini. Tapi seenggaknya ini bisa mengurangi hawa panas di tubuhmu.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD