Siang itu, Bram tak bisa fokus bekerja. Pikirannya sedang kalut memikirkan percintaannya tadi malam yang hampir mencapai finish, tetapi dihancurkan sepihak oleh Violeta. Dia sangat stres memikirkannya. Bagaimana tidak, setiap birahinya sudah di ujung tanduk, tetapi selalu saja gagal total. Lelaki mana yang tidak stres jika selalu begitu. “Aku bener-bener gak ngerti sama jalan pikirannya Vio. Karna udah dua kali dia membalas ciumanku, tapi pas aku akan melakukan penyatuan, dia selalu menolak.” Bram bermonolog sambil bertopang dagu. “Ahhh, aku stres kalau kayak gini terus. Setiap hasratku udah di puncak, tapi Vio selalu menghentikan secara sepihak.” Bram bangkit, dia berjalan kesana-kemari sambil berbicara sendiri. Sejak tadi pagi pekerjaannya yang menumpuk tidak selesai, karena dia benar

