“Viooooo …!” Bram berteriak histeris, dia memeluk tubuh Violeta dan mengangkatnya ke permukaan. Bram menangis dan semakin mengeratkan pelukannya. “Vio, aku tau kalau kamu banyak beban pikiran. Tapi tolong jangan ngelakuin hal bodoh kayak gini.” Bram terisak. “Aku gak akan bisa maafin diriku sendiri kalau sampai terjadi apa-apa sama kamu.” “Om, lepasin! Aku engap gak bisa napas!” Suara Violeta mengejutkan Bram. Bram pun langsung melepaskan pelukannya seraya menatap lekat wajah sang istri yang terlihat biasa saja. Keningnya mengernyit seperti orang yang tak percaya dengan pemandangan di hadapannya. Sementara Violeta sibuk merapikan rambut yang acak-acakan akibat ulah Bram, karena memeluknya sangat erat sambil mengusap kepala. Bibirnya tampak cemberut. “Huh, gara-gara kamu nih, Om. Ram

