Thalia tersenyum senang karena dia bisa berangkat bersama Eric seterusnya mulai hari ini.
"Ayah, ibu aku berangkat dulu ya, kali ini aku berangkat dengan Eric," ucap Thalia dengan wajah ceria.
"Kamu berangkat dengan Eric? Baiklah, hati-hati kalau begitu Thalia, kamu bisa menggunakan sepeda yang ada di gudang."
Smith lalu mengantarkan Thalia menuju gudang, di sana ada sepeda berwarna merah muda yang cantik. Thalia begitu senang, untuk pertama kalinya dia naik sepeda. Untung saja kemarin dia sudah belajar dari Eric. Kini Thalia jauh lebih lancar saat menggunakannya.
"Mom, Dad, aku berangkat dulu!" ucap Thalia melambaikan tangannya.
Eric melihat Thalia yang sudah berangkat, dia mengejat gadis itu dan menjajarinya.
"Sepeda baru?" tanya Eric.
"Tidak, ini milik Mom. Ayo kita balapan!" ucap Thalia tertawa. Dia lalu menaiki sepeda dengan mengebut. Eric berulang kali memanggil Thalia, sayangnya gadis itu tidak mendengarkan Eric, dia malah bercanda, terus mengayuh sepedanya.
Mobil berkecepatan penuh hampir saja menabraknya jika Alrez tidak mencegahnya. Alrez menggunakan kekuatannya, menghentikan waktu sejenak, terbang menggendong Thalia dan membawanya ke pinggir.
"Thalia!" teriak Eric. Dia segera berlari menghampiri Thalia yang terlihat shock. Sedangkan Alrez masih menggendong Thalia. Hanya sepeda Thalia yang remuk.
Beberapa orang berhenti melihat Thalia dan Alrez. Ada sirat wajah cemburu di wajah Eric, dia cemburu melihat Thalia yang digendong oleh Alrez.
Beberapa detik kemudian Thalia meronta, meminta turun dari gendongan Alrez.
"Kau tidak apa-apa?" tanya Alrez. Dia menatap Thalia dengan tatapan khawatir. Thalia mengangguk, dia lalu berdiri di belakang Eric.
"Thalia Leveraine!! Kau tau apa yang sudah kamu langgar? Cepat pulang." Alrez menatapnya tajam. Lelaki tinggi dengan kulit putih, bibirnya merah merona, matanya tajam, irisnya berwarna biru laut, sangat tampan dan mencolok. Orang yang melewatinya menatap Alrez dengan tatapan memuja.
"Tidak, aku tidak mau pulang. Biarkan aku di sini, ini tempatku." Thalia lalu menggandeng Eric, meminta Eric menyelamatkannya dari situasi ini. Alrez begitu marah karena ditentang, dia menarik tangan Thalia. Eric lalu mendorong Alrez, hampir saja dia tersungkur.
"Kau dengar kan apa katanya? Pergi dan jangan dekati lagi Thalia." Eric menatap tajam Alrez.
"Hei manusia, kamu tidak perlu ikut campur, ini urusan kami." Alrez hendak menyakiti Eric dengan sihirnya, namun Thalia mencegahnya.
"Alrez! Hentikan! Apa kau lupa peraturan bahwa guard dilarang menyakiti manusia? Makhluk paling mulia, apa kau sudah lupa?!" bentak Thalia. Alrez menghela nafasnya kasar, dia lelah dengan perdebatan yang berujung mengalahkan posisinya.
"Aku hanya harus membawamu pulang Thalia," ucap Alrez.
Thalia menggeleng, dia sudah bahagia di dunia.
"Aku bahagia di sini, aku suka ada di sini, jadi jangan memaksa aku untuk pulang. Setidaknya beri aku waktu."
Alrez menatap Thalia dengan kasian, dia menarik nafas dan membuangnya dengan kasar.
"Baiklah, ingat ucapanku. Kau di sini hanya punya waktu 109 hari. Di setiap purnama kau harus kembali ke lautan. Kau juga dilarang menggunakan sihir untuk menyakiti manusia. Gelang yang kau curi, sebaiknya cepat kembalikan sebelum ratu mengetahuinya."
Dalam sekejap Alrez lalu menghilang, Thalia mematung seketika. Ada perasaan sedih dan bersalah menghantuinya. Seharusnya sejak dulu dia tidak nekat kemari. Hanya karena mendengar ibunya adalah manusia, membuat Thalia nekat ke daratan. Padahal daratan begitu luas, dia bahkan tidak tau siapa ibunya.
***
Eric bernafas lega ketika melihat Thalia yang baik-baik saja dan terlihat ceria sekarang. Hari ini hari pertama Thalia memilih ektrakulikuler. Thalia sedang bingung memilih apa, dia menyenggol lengan Eric.
"Ric, enaknya aku ikut apa ya?" tanya Thalia bingung sembari menggigit jarinya.
"Paduan suara aja, suara kamu kan bagus," ucap Eric. Thalia tersenyum mendengarnya, dia memang memiliki suara merdu, bahkan diantara para duyung lainnya, suaranya lah yang paling merdu.
Thalia memang menyukai menyanyi, tapi sejujurnya dia jauh lebih tertarik dengan bermain basket, karena ada Eric di sana.
"Boleh enggak kalau ambil dua ekskul?" tanya Thalia kepada Eric.
"Boleh aja, tapi emangnya kamu kuat? Enggak capek apa?"
Thalia menggeleng, tentu saja tidak, dia pasti semangat mengikuti paduan suara di hari Senin dan basket di hari Rabu dan Jumat. Setelah Thalia memutuskan, dia mengumpulkan formulir yang dia pegang dan memberikannya kepada wali kelas.
Hari ini Senin, Thalia harus latihan paduan suara, teman sekelasnya tidak ada yang menjadi anak paduan suara. Thalia agak ragu mengetuk aula paduan suara, dia takut jika seleksi awal dia ditolak.
"Halo, permisi," ucap Thalia. Seketika aula hening, semua orang memperhatikan Thalia, menatapnya dengan tatapan kagum karena kecantikannya.
"Silahkan bergabung," ucap Salma, salah satu anggota paduan suara sekaligus ketua paduan suara. Thalia tersenyum berterima kasih lalu berdiri di samping gurunya, Miss Devina. Dia mulai menyanyikan sebuah lagu dan tes nada.
But I'm only human
And I bleed when I fall down
I'm only human
And I crash and I break down
Your words in my head, knives in my heart
You build me up and then I fall apart
'Cause I'm only human
"Wow, suara kamu sangat merdu," puji Miss Devina. Bahkan semua murid paduan suara terpukau dengan suara Thalia.
"Wah, kalau begitu kamu yang cocok menjadi penyanyi solo nanti saat festival ulang tahun sekolah," ucap Miss Devina lagi. Anna yang tadinya terpilih menjadi penyanyi solo seketika menjadi murung.
Thalia mengangguk senang mendengar hal itu, dia langsung setuju dan bisa bergabung dengan tim untuk latihan bersama. Anna merasa tidak diperhatikan lagi, dia kesal dan memilih pulang sebelum selesai latihan. Bahkan saat dia memutuskan untuk pulang, tidak ada yang mencoba mengejarnya. Dia kecewa, semua orang kini hanya terpukau dengan Thalia, padahal dulu Ana adalah bintangnya. Anna yang biasanya menjadi penyanyi solo dan dipuji oleh setiap murid.
Begitu latihan selesai, Thalia pulang, hari sudah mulai gelap. Dia menuju parkiran, hanya tinggal sepedanya saja sendiri, teman lainnya sudah dijemput semua. Saat dia hendak pulang, Anna mendekati Thalia dan tersenyum.
"Hai, tadi aku belum berkenalan denganmu, aku Anna," ucap Anna mengulurkan tangannya. Dengan senang hati Thalia menyambutnya dan tersenyum.
"Hai, namaku Thalia," balas Thalia dengan senyuman ramahnya.
"Boleh aku meminta tolong kepadamu? Tolong antarkan aku ke gudang, aku hendak mengambil sesuatu yang tertinggal," ucap Anna dengan tatapan memohon.
Thalia mengangguk, dia lalu mengantarkan Anna, sesampainya di sana Anna menatap Thalia dengan tatapan sinis.
"Kalau kamu menghilang dari dunia ini, aku akan tetap menjadi penyanyi solo!" teriak Anna. Dia mendorong Thalia masuk ke dalam gudang dan menguncinya. Thalia berteriak meminta dibukakan, sayangnya tidak bisa.
Dia melihat gelang mutiaranya, mencoba membuka pintu dengan sihir, sayangnya dia terlalu lelah saat ini. Sebagian kekuatannya disegel oleh Alrez, kekuatan Thalia sepenuhnya hanya bisa bekerja maksimal di lautan. Thalia duduk, menyanyikan lagu agar membuatnya tak merasa sendiri, dia duduk di lantai berdebu, memeluk lututnya sembari menangis, dia bingung harus bagaimana, saat seperti ini yang dia ingat hanyalah teman sesama duyungnya. Ternyata dunia manusia lebih kejam.
"Tolong, siapapun tolong aku," ucap Thalia dengan suara bergetar, dia tak kuasa menahan tangisnya.