Malam telah tiba, namun Thalia belum juga menampakkan wajahnya. Bella semakin khawatir, sedari tadi dia duduk di teras sembari menunggu Thalia pulang. Sama halnya dengan Smith, dia berusaha mencari Thalia di sekitar sekolah. Smith merogoh sakunya ketika mendegar dering telepon dari Bella.
"Iya sayang? Aku belum menemukan Thalia, kira-kira dia pergi kemana? Oh ya coba tanyakan kepada Eric mungkin dia tau kemana perginya Thalia."
"Baiklah, aku akan menanyakan kepada Eric," balas Bella.
Bella memasukkan handphonenya ke dalam kantong lalu berjalan ke rumah Eric, terdengar suara canda tawa dari luar. Bella memencet bel rumah Eric, tak lama pemuda itu keluar dengan baju piyamanya.
"Eric, maaf aku menggagumu larut malam begini, apa kamu tau dimana Thalia?" tanya Bella dengan nada khawatir. Eric terkejut karena Thalia belum pulang, dia melirik jendela kamar Thalia, masih gelap. Rupanya sejak tadi Thalia belum pulang.
"Maaf, aku tidak tahu kemana Thalia pergi, tapi seingatku dia ada latihan paduan suara setelah pulang sekolah, jadi aku pulang lebih dahulu," jawab Eric.
"Apa dia pergi dengan teman paduan suaranya ya? Ponsel Thalia tertinggal di rumah, aku tidak bisa menghubunginya," ucap Bella.
Perasaan Eric mengatakan jika Thalia kemungkinan masih ada di sekolah, dia lalu mengambil sepedanya.
"Nyonya Bella jangan khawatir, aku akan mencoba menemukan Thalia," ucap Eric lalu menaiki sepedanya mencari Thalia di sekolah.
Semua ruangan kelas telah dikunci, keadaan sekolah gelap gulita. Eric menatap parkiran sepeda, masih ada sepeda Thalia di sana. Beruntungnya Eric bertemu dengan Mr. Smith, mereka berdua mencari Thalia, mengelilingi sekolah.
"Thalia! Thalia! Dimana kamu?"
Thalia yang tadinya mengantuk dan lemas seketika terbangun mendengar suara panggilan itu. Dia lalu berdiri dan berteriak sekuat tenaganya.
"TOLONG! AKU DI SINI, AKU DI GUDANG!" teriak Thalia.
Eric dan Smith segera menuju lantai tiga, mereka menuju ruangan paling ujung dan mendobrak pintu ruangan. Tidak peduli jika pintu itu akan rusak, yang terpenting Thalia selamat dan ditemukan.
"Thalia! Yaampun, bagaimana bisa kamu terkunci di sini?" ucap Smith khawatir, dia lalu memeluk Thalia dengan erat.
"Ayah ...," lirih Thalia, dia menangis di pelukan Smith. Walau mereka baru bertemu, namun ikatan batin mereka sangat kuat dan membuat mereka semakin akrab.
"Apa yang kamu lakukan di sini? Siapa yang berani menguncimu?" tanya Eric
Thalia hanya bisa menunduk, dia tidak berani mengatakan jika Anna yang melakukannya, dia khawatir jika nantinya Eric akan melaporkan Anna atau menyakitinya.
"Aku tidak apa-apa, aku tidak ingin memperpanjang masalah, ini hanya kesalahpahaman saja." Thalia tersenyum menatap Eric dan Smith. Bagaimanapun juga sebagai orang tua, Smith sangat khawatir dengan Thalia. Bagaimana bisa putrinya dikunci di gudang yang kumuh seperti ini.
"Besok kalau kamu tidak nyaman sekolah di sini, ayah akan memindahkan sekolah kamu," ucap Smith.
Thalia menggeleng, dia sudah sangat senang sekolah di sini, hanya saja mungkin beberapa murid perempuan tidak menyukainya. Thalia sangat memahami perasaan Anna, gadis itu diacuhkan dan tidak diperhatikan lagi, bahkan teman-temannya kini hanya memperhatikan Thalia.
"Tidak Dadd, aku baik-baik saja sekolah di sini, nanti sesampai di rumah aku akan menceritakan semuanya, aku sekarang lapar sekali," ucap Thalia mengusap perutnya. Mereka lalu pulang, Eric menumpang dengan mobil Smith, sepedanya diikat di bagian belakang mobil.
***
Esok harinya Eric sengaja bangun lebih awal, dia bahkan sudah merombak sepedanya. Kini sepedanya ada boncengan di bagian belakang. Tentu saja untuk Thalia, semenjak kejadian kemarin malam, Eric memutuskan untuk selalu berangkat dan pulang bersama dengan Thalia, dia tidak mau sampai sesuatu terjadi lagi pada Thalia.
Eric menunggu Thalia di depan rumah, tak lama Thalia keluar dengan tatapan bingung.
"Kamu mau mengantarku? Padahal ayahku sudah menyiapkan mobil."
Eric tersenyum malu dia lalu pamit untuk berangkat terlebih dahulu, namun Thalia meraih lengan Eric.
"Tunggu, biar aku pamit kepada Ayah."
Thalia masuk kembali, mengatakan kepada Bella dan Smith bahwa dia akan berangkat dengan Eric. Tentu saja mereka memperbolehkan keduanya untuk berangkat bersama. Thalia sangat senang berangkat sekolah dibonceng dengan Eric. Beberapa siswa yang melihat mereka sampai melongo. Mereka melihat keduanya nampak silau, Thalia yang cantik bersinar dan Eric yang tampan. Pasangan serasi dan cocok.
"Kayanya Thalia b***k ya, gue udah peringatin ke dia padahal." Salah seorang siswi melihat Thalia dengan tatapan tidak suka, tapi dia tidak mau melakukan kekerasan lagi kepada Thalia, kali ini dia akan melakukan hal lain.
Eric memarkirkan sepedanya lalu berjalan bersama Thalia menuju kelas.dan memulai pelajaran hari ini.
Saat Thalia menuju toilet, dia terkejut dengan Alrez yang tiba-tiba ada di sampingnya.
"Astaga, Alrez!" pekik Thalia kaget.
"Kau harus segera kembali, ratu sudah mengetahui jika kamu mencuri gelangnya, akan lebih berbahaya jika sampai ratu yang ke daratan."
Thalia menunduk lemah, dia sudah sangat mencintai hidup di daratan.
"Apa tidak ada cara untuk membuatku menjadi manusia seutuhnya?" tanya Thalia dengan tatapan sedih. Rasanya terlalu berat untuk berpisah dengan Eric.