Bab 8

1044 Words
Alrez mengusap wajahnya kasar, dia menatap tajam Thalia, kalau sudah begini, tidak ada pilihan lain baginya.  "Kau mau aku tangkap sekarang?" ucap Alrez melangkah maju.  Thalia menggeleng, dia berjalan mundur sampai menabrak tembok. Thalia mencoba tenang serta mengendalikan pikiran Alrez, tapi kekuatan sihir seperti itu tidak bisa berlaku pada Alrez. "Sihirmu sudah aku hilangkan,  kalau kau berniat menjadi manusia, maka jadilah manusia tanpa bantuan sihir apapun!" bentak Alrez lalu merebut gelang milik Thalia, gadis itu hendak mengejarnya, namun Alrez menghilang seketika. Tanpa gelang itu, Thalia tidak tau kemana dia harus kembali.  Jika dia selamanya tidak diperbolehkan kembali ke tempat kerajaan duyung, dia akan sangat bahagia tapi bagaimana dengan tubuhnya? Akankah selamanya dia memiliki dua kaki seperti ini, ataukah dia akan tetap berubah ketika bulan datang. Thalia menatap tangannya yang kosong, dia tidak lagi memiliki kekuatan sihir, kecuali kalung mutiara yang dia kenakan, kalung yang bisa membantunya berubah menjadi duyung kapanpun yang dia mau. Alrez begitu kejam padanya, padahal Alrez tau bahwa Thalia ingin mencari keberadaan orang tuanya. Thalia duduk di taman sembari menatap beberapa anak yang bermain basket, dia menatap ring basket yang begitu tinggi. Harusnya dia ikut latihan, tapi dia izin tidak mengikuti karena sakit. Iya, Thalia memang sakit, sedih di hatinya membuat dia sama sekali tidak mood melakukan apa-apa. Thalia merasa lelah melakukan banyak hal, dia sangat lelah melakukan berbagai hal karena dia sedang memikirkan kemana dia harus mencari orang tuanya. “Hei, kenapa melamun?” tanya Jonathan, dia menatap Thalia dengan tatapan khawatir. Sedari tadi Thalia tidak menjawab panggilannya. Gadis itu hanya diam termenung, memikirkan bagaimana cara dia agar bisa bebas tidak lagi menjadi duyung. Dia bahkan tak tau makhluk apa dia ini sebenarnya? Dia memang diciptakan untuk menjaga laut paling dasar, para duyung selalu bernyanyi untuk menjaga kedamaian laut. Namun bagi Thalia, dia malah terjebak, dia tidak bahagia seperti duyung lainnya yang memiliki keluarga. Sebelum dia menuju daratan, dia tanpa sengaja mendengar ucapa ratu duyung dengan anaknya, dia mendengar bahwa sebenarnya orang tua dia adalah manusia dan duyung. “Thalia?” ucap Jonathan sembari mengguncang bahu Thalia, gadis itu seketika mengerjapkan matanya, menatap Jonathan. “Eh? Iya??” ucap Thalia bingung, dia membenahi lengan bajunya. “Kamu kenapa melamun?” tanya Jonathan menatap Thalia. Dia merogoh tasnya, mengambil sekotak teh dan memberikannya kepada Thalia. “Thanks,” ucap Thalia. Dia segera membuka kotak kemasan dan meneguknya. Setiap tetesnya membasahi tenggorokan Thalia yang mengering, perlahan pikiran yang kacau balau menguap dalam sedetik. Lelah dia rasakan namun lebih dari itu, dia terkejut melihat Eric menggendong gadis yang dia tidak tau siapa namanya. Thalia memalingkan wajah, mencoba untuk tidak ingin lebih tau siapa gadis yang dia gendong. Thalia tidak mau kecemburuannya semakin menjadi padahal dia hanyalah teman bagi Eric. Teman, sekaligus tetangga yang mungkin merepotkan Eric. Dia melihat sekeliling, di usia remaja setiap manusia memiliki warna yang berbeda dalam mengisi kenangan hidupnya, sebagian ada yang saling mencintai namun malu mengungkapkan, ada pula yang hanya mencintai sepihak, ada juga yang terang-terangan menunjukkan perasaan cinta mereka pada publik. Sebenarnya Thalia bingung, apa dia juga memiliki hak atas perasaannya yang tumbuh? Atau ini hanyalah bumerang baginya? Dia sungguh tak mengerti kenapa hatinya begitu bimbang dalam menghadapi semua ini. Dia tak tau dan tak mengerti harus bagaimana. Bolehkah dia mencintai manusia? Apa dia boleh memiliki perasaan yang disebut dengan cinta. “Jo, kau tau apa itu cinta?” tanya Thalia menatap langit-langit biru, cerah dan indah. Dia ingin terbang ke sana, sayangnya dia tidak diciptakan menjadi burung yang memiliki sayap. “Ya, cinta, intinya kamu suka sama orang itu, kamu sayang, perhatian dan cemburu kalau lihat dia sama orang lain,” jawab Jonathan. Thalia menyimak setiap kata yang Jo keluarkan. “Sesimpel itu?” tanya Thalia. Jonathan tertawa keras, “Enggak, cinta itu rumit. Saranku, jangan jatuh cinta.” Thalia tersenyum mengangguk, Jo sepenuhnya benar, memang rumit, membuat Thalia merasa egois dan tak ingin Eric dekat dengan siapapun. Cinta itu bahaya bagi Thalia, dia menjadi enggan untuk pulang. Thalia sadar, dia tidak pantas menginjakkan kaki di daratan, merasakan cinta kepada daratan apalagi manusia. “Jo, aku pulang duluan ya. Kalau Eric nanti cari aku, bilang aja aku akan pulang dengan selamat.” Jo mengerutkan keningnya, namun sedetik kemudian dia mengangguk, dia sempat melambaikan tangan kepada Thalia sebelum Thalia benar-benar pergi menjauh. Jalan menuju pantai sangat jauh, Thalia tidak bisa lagi menggunakan teleportasi, sebentar lagi purnama. Dia harus kembali dan mungkin ini keputusan Thalia untuk tidak kembali lagi ke daratan. Sebelum itu semua terjadi, Thalia ingin pulang menemui Bella dan Smith. Pasangan suami istri yang sangat bahagia memiliki Thalia. “Mom, aku pulaang,” ucap Thalia tersenyum senang. Bella meletakkan pisaunya, dia berjalan dari dapur dan memeluk Bella. “Kemana Eric? Panggil dia untuk makan bersama sayang,” ucap Bella. “Mom, aku mau pergi sebentar.” Thalia lalu berjalan ke kamarnya, dia melihat ada kotak kado berbentuk hati diatas meja. Segera dia membukanya, seketika senyum tercetak di wajahnya. Dia tak tau kapan Eric memberikan kotak itu kepadanya. Dia tak tau kapan Eric meletakkan kotak merah berbentuk hati. Thalia membukanya, sebuah notebook berukuran B5, gelang kain yang dikepang dan sebuah surat. Dia membaca surat itu, surat yang membuat Thalia tersenyum. ‘Kamu mungkin sulit mengatakan masalahmu, tapi kamu bisa menuliskannya di sini. Oh ya gelangnya pakai ya, aku juga memakai gelang yang sama.’ Siapa sangka Eric yang begitu dingin akan semanis ini kepadanya. Thalia begitu bahagia, dia menjadi enggan untuk kembali ke lautan. Sayangnya dia tidak bisa mengelak lagi, purnama akan datang. Thalia segera turun ke bawah, dia pamit kepada Smith dan Bella. Namun saat langkah kakinya keluar dari rumah, Bella mengucapkan sesuatu hal yang membuat dia terkejut. “Kamu boleh pergi saat purnama, tapi berjanjilah Thalia, kamu akan kembali ke daratan.” Thalia kembali dan menatap Bella, dia tidak menyangka jika Bella tau maksud dia pergi. “Bagaimana Mom tau?” tanya Thalia. Bella tersenyum dengan mata berkaca-kaca dan memeluknya. “Aku akan mengantarmu ke sisi pinggir pantai,” ucap Bella. Dia menyalakan mobil dan mengajak Thalia naik. Sejenak Thalia masih menyimapn begitu banyak taya, dia masih penasaran dengan Bella, kenapa bisa Bella tau tentang hal itu. “Mom, bagaimana Mom bisa tau? Bukannya Mom tidak percaya bahwa aku adalah duyung?” tanya Thalia. “Karena aku adalah ibumu Thalia, aku adalah ibu yang melahirkanmu.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD