Bab 20

1051 Words
Titan masih penasaran dengan apa yang terjadi, bagaimana bisa gadis itu menghilang. Wajah cantiknya masih teringat jelas dalam ingatannya. Titan seorang nelayan sekaligus pemilik asosiasi peduli hewan, dia tinggal di bunker kecil dekat pinggir pantai. Selain menjadi pelayan, Titan juga meneliti beberapa hewan laut, dia mempublikasikan jurnal ilmiah sebagai mata pencariannya. Sebagai pemilik asosiasi peduli hewan, Titan tidak tinggal sendirian, dia bersama dengan dua rekan lainnya, Albert dan Dion. “Titan, apa yang sedang kamu lakukan? Kenapa melamun?” ucap Albert memperingatkan Titan. Lelaki itu mengerjapkan matanya dan membalikkan telur yang dia goreng. Gosong. “Oh tidak, aku tidak mau makan yang itu,” ucap Albert tertawa. Titan tersenyum miring dan menjawab, “Biar aku saja yang memakannya.” Titan lalu membuat dua telur lainnya untuk sarapan mereka bertiga. Albert, Dion dan Titan adalah ketiga orang yang dibuang oleh orang tuanya. Mereka semua berasal dari panti asuhan, mereka kabur dari panti asuhan sejak usia lima belas tahun. Hidup di panti asuhan memang tidak membuat mereka menderita, tetapi mereka bertiga terkenal anak-anak yang tidak mematuhi aturan panti asuhan dan sering membuat keributan. “Dion, bagaimana dengan wawancaramu hari ini?” tanya Titan sembari memberikan piring berisi telur untuk mereka makan. Mereka bertahan dengan hidup mengandalkan penjualan ikan dan publikasi penelitian hewan. Sayangnya sekarang pemasukan mereka berkurang, ikan sulit dicari, kapal mereka hanya kapal yang sudah rapuh. Seharusnya mereka membeli kapal yang lebih baik, tetapi mereka tidak memiliki cukup uang. Mereka bertiga kalau hidup seperti ini terus, terpaksa harus mencari pekerjaan di tengah kota. Dion seringkali melakukan wawancara untuk kerja, tetapi dia selalu saja gagal. Albert tidak bisa bekerja di kantor karena dia tidak lulus SMA, sedangkan Titan masih harus sibuk nelayan dengan Albert. “Aku tak tau, mungkin gagal lagi.” Dion mengatakan hal itu karena dia pesimis, dia selalu gagal dalam tahap wawancara. Albert lalu berpikir sejenak, kenapa Dion selalu ditolak di tahap wawancara. Mungkin karena penampilan Dion, sepertinya tidak ada yang menarik dari Dion jika dipandang. Rambutnya yang terlalu panjang dan kausnya yang kebesaran. “Seharusnya kamu menurut kepadaku sebelum wawancara dan perbarui profilmu. Kau tau? Sekarang jamannya penampilan nomor satu. Wajah kusammu itu tidak memikat sama sekali, bagaimana bisa kau menjadi sales? Semua orang pasti kabur saat melihat wajahmu itu,” ucap Albert Dion menghela nafasnya kasar, dia selalu sebal dengan obrolan Albert yang memandang rendah fisiknya. Memang Albert paling tampan diantara mereka bertiga. Mereka semua sudah harusnya menikah dan mendapatkan gadis, umur mereka sudah cukup matang untuk berkeluarga, namun sayangnya mereka terhalang biaya sehingga tidak bisa menikah. “Tapi kalau dipikir-pikir ucapan Albert ada benarnya, tidak ada salahnya kamu mencoba,” ucap Titan. Dion hanya bisa menghela nafas dan pasrah. “Yasudah, cepat potong rambutku dan sarankan bagaimana bagusnya penampilanku.” Seketika kedua temannya tersenyum, akhirnya Dion mengalah juga untuk mau di make over oleh Albert dan Titan. “Ayo ikut kita,” ucap Albert. Mereka bertiga akhirnya menuju pusat kota dengan uang sisa tabungan Albert. Setidaknya dia mau membuat sahabatnya berubah dan diterima kerja, masa depan mereka masih panjang, Albert tidak mau nasib sahabatnya seperti dia, apalagi Dion yang merupakan lulusan perguruan tinggi. Usia Dion masih dua puluh dua tahun, dia mau Dion bisa menjadi pria sukses pada umumnya, tidak seperti dia ataupun Titan yang tidak jelas bagaimana masa depannya. Dion merasa tidak enak dengan Albert, semuanya dibiayai oleh Albert. Termasuk transportasi mereka. Awalnya Dion tidak rela rambutnya dipotong, namun setelah melihat hasil akhirnya, dia nampak jauh lebih tampan daripada sebelumnya. Setelah memotong rambut panjangnya, Dion dibawa menuju outlet penjualan kemeja dan jas. Meski bukan jas mahal, Albert memilihkan Dion jas dengan kualitas yang bagus. “WOAH, kamu terlihat tampan sekali,” ucap Titan tersenyum puas, Dion terlihat jauh berbeda dari sebelumnya, dia layaknya seperti pengusaha muda ekskutif. “Benar kan apa kataku? Sekarang dua sangat tampan dan memukau, aku yakin para gadis akan menempel kepadanya.” Dion tersenyum puas dengan hasilnya, dia terlihat tampan, kali ini dia yakin kalau dia melewati wawancara selanjutnya pasti berhasil. Ketiganya lalu pulang, namun Titan tertinggal. Albert dan Dion meninggalkan Titan saat Titan ke kamar mandi. Mereka berdua terlalu fokus pembicaraan sehingga lupa dengan Titan. Saat Titan keluar dari kamar mandi, dia melihat gadis yang sangat dia kenal datang, dia melihat Thalia berjalan dengan seorang lelaki di sampingnya, dia melihat Thalia yang menggunakan seragam sekolah. Titan sangat yakin itu gadis yang dia temukan di lautan kemarin. Titan lalu berlari, menyebrangi jalanan, beberapa mobil memperingatinya karena dia menyebrang asal tidak di trotoar. Titan hampir saja ditabrak oleh salah satu pengemudi. Thalia melihat Titan yang menyebrang, dia segera mengeratkan tangannya pada Eric. “Kenapa Thalia?” tanya Eric melihat Thalia yang ketakutan. “Om-om di sana, dia pasti mau menemuiku. Sebelum aku ke sini, aku tertangkap oleh jaring di kapalnya.” Eric lalu menarik tangan Thalia, mengajaknya masuk ke dalam restoran di samping mereka. Thalia terus melihat Titan, dia berjalan ke arahnya. Sedangkan Eric mengajak Thalia untuk bersembunyi di toilet. “Aku rasa kamu aman di sini, aku lebih baik keluar dulu.” Thalia mencegah Eric sebelum lelaki itu keluar, dia khawatir Eric akan terluka. “Eric, hati-hati, dia hanya orang asing, kalau dia melakukan sesuatu, gunakanlah kekuatanmu,” ucap Thalia. Eric mengangguk mengerti dan tersenyum. “Iya, tenang saja, aku akan melakukannya dengan tenang. Aku harus bisa menggunakan mantraku untuk menghapus ingatannya,” ucap Eric tersenyum. Thalia mengangguk senang dengan ucapan Eric, setidaknya kini dia memiliki penjaga seperti Eric. Eric lalu keluar dari toilet, dia lalu berpura-pura memesan es krum dan duduk di meja paling ujung dekat jendela. Titan menghampiri Eric, dia menoleh ke kanan dan kiri, mencari sosok Thalia, namun tak kunjung menemukan. Keadaan cafe kini menjadi ramai, Eric khawatir jika mantranya bisa saja dilihat oleh orang lain. “Halo?” sapa Titan. Eric bersikap netral dan tersenyum. “Ya? Anda mau duduk? Silahkan duduk,” tawar Eric. Titan menggeleng dan menatap mata Eric dengan serius. “Aku melihat seorang wanita bersamamu, dimana dia?” tanya Titan. “Maaf, apa urusannya dengan anda terhadap pacar saya?” ucap Eric tegas. Titan lalu menggeleng, dia yakin jika Eric bukan pacar Thalia. “Aku menemukannya beberapa hari yang lalu di lautan, dia tersangkut di jaringku. Anehnya dia tanpa busana.” Seketika Eric tersenyum miring, dia lalu menjentikkan jarinya sembari mengucapkan mantra. Dalam sekejap itu pula Titan telah melupakan segalanya, melupakan pertemuannya dengan Thalia.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD