Bab 19

1036 Words
Thalia Thalia melambaikan tangannya kepada Alrez, untuk ketiga kalinya Thalia akan kembali ke daratan, dia akan bertemu lagi dengan ibu dan Eric. Senyum mengembang di bibirnya saat Thalia mulai naik ke daratan. Ada kapal besar yang melewati Thalia, gadis itu terkejut, berusaha kembali turun ke lautan sedalam-dalamnya, tetapi Thalia malah tertangkap jaring. "AAAAA!!" teriak Thalia. Gadis itu meronta, siripnya bagian bawah sedikit robek karena tarikan jaring. Thalia terus memanggil nama Alrez, tetapi tidak ada jawaban. Thalia menangis karena dia tidak berhati-hati. Dia lupa jika seharusnya Thalia menyadari para nelayan akan datang saat ini. Mereka mencari ikan untuk dimakan, Thalia bingung bagaimana dia bisa berubah saat ini juga. Dia memejamkan mata, sinar bulan mulai terlihat, dengan mantranya dia mengubah dirinya menjadi manusia saat sudah diatas kapal. Thalia meringkuk, dia tidak berbusana sama sekali. Nelayan itu datang memeriksa jaringnya, mencari tau apa yang dia dapatkan. Titan—nelayan yang masih berusia dua puluh tujuh tahun itu terkejut ketika menemukan seorang gadis yang meringkuk menutupi tubuhnya yang polos. Titan lalu berjongkok, menjajarkan dirinya dengan Thalia. Dia tidak menyangka dengan apa yang dia lihat, dia menemukan gadis di tengah malam tanpa berbusana seperti ini. Titan membantu Thalia melepaskan jaring yang menutupinya. Thalia ketakutan saat ini, dia hanya bisa menutupi tubuh polos dengan tangan dan kedua kakinya. “Hei?” sapa Titan. Dia mencoba menyentuh lengan Thalia, namun gadis itu mundur. “Apa kamu baik-baik saja?” tanya Titan lagi. Thalia mendongak, dia melihat wajah Titan. Thalia menatap lekat matanya, dia mencoba mengucapkan sihir, namun sayangnya tidak berhasil. Thalia merasa aneh, bagaimana bisa Titan tidak terpengaruh dengan sihirnya, hanya ada dua kemungkinan, Titan bukan manusia atau Titan memiliki iman tingkat tinggi. “Tolong aku,” ucap Thalia Titan menahan nafasnya saat melihat Thalia, gadis cantik yang sangat mempesona ada di hadapannya. Nyaris sempurna, fisik Thalia tidak perlu diragukan sampai membuat Titan susah berpaling. Sedetik kemudian Titan menggunakan kesadaran akalnya, dia kembali ke dalam kapal, mencari sepasang baju dan memberikan kepada Thalia. Titan berbalik saat Thalia mengenakan bajunya. “Bagaimana bisa kamu ada di dalam lautan?” tanya Titan. Thalia bingung harus menjawab apa, dia berpikir sejenak mengarang cerita logis untuk bisa dimaklumi oleh Titan. “Aku ... berenang di pinggir tapi tiba-tiba arus membawaku,” ucap Thalia dengan suara bergetar. Thalia tidak pandai berbohong, dia mengucapkan dengan terbata-bata dan kebingungan. Titan lalu membantu Thalia untuk berdiri, dia membawa Thalia duduk. “Kamu berenang di tengah malam begini? Yaampun, kamu gadis yang malang,” ucap Titan, dia melepas jaketnya lalu mengenakan kepada Thalia. “Iya, sekarang apa bisa kamu membantuku untuk pulang?” tanya Thalia. Jujur berat bagi Titan melepaskan Thalia begitu saja, tetapi sebagai manusia, dia sangat mengerti gadis manis ini pasti dicari orang tuanya. Titan lalu membawa Thalia untuk pulang, dia mengantar Thalia ke rumahnya. Dia menggulung layar dan kembali mengikat kapalnya di pingggir lautan. Titan menuju ke mobil dan membawa Thalia. “Di mana rumahmu?” tanya Titan. Thalia seketika bingung harus menjawab apa, dia bahkan lupa apa alamat rumahnya, tetapi jika menggunakan teleportasi, Thalia pasti bisa sampai ke rumah. Thalia lalu menunjuk rest area, dia mengatakan ingin ke kamar mandi. Khawatir akan Thalia, Titan menunggu Thalia di depan kamar mandi. Saat itu juga Thalia menggunakan kekuatan teleportasinya, dalam sekejap dia sudah sampai di depan rumah ibunya. Sudah hampir setengah jam Titan menunggu Thalia di depan kamar mandi, namun Thalia tak kunjung keluar, Titan mengetuk pintunya, namun tidak ada respon. “Halo?” panggil Thalia. Titan mengetuk pintu kamar mandi. Dia membuka pintu kamar mandi, terkejut melihat tidak ada siapa-siapa di sana. Titan melihat jendela, tidak ada tanda dirusak, gadis itu menghilang begitu saja. Titan sangat bingung dengan apa yang terjadi, dia ingat betul wajah Thalia, wajah cantiknya tidak mungkin bisa dia lupakan, tetapi dia heran, bagaimana bisa Thalia menghilang begitu saja. *** Thalia tersenyum menatap rumah ibunya, sudah larut malam namun semua lampu masih menyala. Dia tau pasti ayahnya masih sibuk mengerjakan laporan pekerjaan. Sedangkan ibunya mungkin saja masih melihat televisi. Thalia berdiri di depan pintu dan mengetuknya. Thalia tak sempat membawakan bunga ataupun buah tangan untuk kedua orang tuanya, tertangkap oleh Titan membuat Thalia panik dan ingin segera pulang. Bella segera keluar saat Thalia datang, dia terkejut Thalia telah kembali, Bella langsung memeluk Thalia erat, dia tidak mau sampai anaknya pergi lagi meninggalkannya atau dalam bahaya. Bella merindukan Thalia, saat Thalia tidak ada disampingnya, Bella setiap harinya terus menantikan kedatangan Thalia, setiap pagi, siang dan malam Bella selalu berdoa agar Thalia cepat pulang. Bella lalu mengajak Thalia masuk ke dalam rumah. Thalia melihat sekeliling, masih sama seperti saat dia pertama kali ke sini. Smith sangat bahagia melihat Thalia, dia memeluk putrinya. “Thalia, izinkan kami membesarkanmu. Tetaplah di sini menjadi manusia seutuhnya.” Thalia menggeleng, permintaan ayahnya sangat sulit baginya, dia tidak bisa hidup menjadi manusia selamanya, dia harus kembali saat bulan purnama, bahkan dia belum izin untuk ke daratan. “Tidak bisa ayah, tidak mungkin selamanya aku menjadi manusia di sini,” ucap Thalia. Bella juga memahami situasi Thalia, dia memeluk Thalia dan menyuruh anaknya istirahat. Dia merasa Thalia kelelahan, bisa dilihat dari kantung matanya. Thalia mencium pipi Bella lalu dia mematikan lampu dan tidur. Thalia berusaha untuk tidur, memejamkan matanya, namun dia teringat dengan Eric, dia lalu bangun dan mengintip dari jendela, rumah Eric masih menyala terang, itu artinya Eric masih bangun. Thalia tersenyum kecil, menggunakan sihirnya untuk melempar batu ke jendela kamar Eric. Sedangkan Eric masih sibuk mempelajari materi matematika untuk ujian besok. Dia menyibakkan gorden jendela, menyipitkan matanya dan terkejut saat ada Thalia di kamar rumah nyonya Bella. Eric langsung menggunakan kekuatan sihirnya untuk masuk ke dalam kamar Thalia. “Thalia!” ucap Eric, dia memeluk Thalia dengan erat. Smith mendengar suara Eric di kamar Thalia, dia hendak memarahinya, namun Bella mencegah suaminya. “Sudah ayah, biarkan saja. Mereka kan masih muda.” Bella tersenyum memeluk Smith. Thalia sangat bahagia bisa melihat wajah Eric lagi. “Kapan kamu kembali?” tanya Eric. “Aku baru saja kembali, aku merindukan daratan dan ibuku. Keadaan lautan sekarang sudah aman dan damai, terima kasih Eric, berkat bantuanmu kami semua selamat dan bisa menikmati kembali keindahan lautan.” Eric mengangguk, dia kembali memeluk Thalia, jantungnya berdegup kencang saat memeluk Thalia, dia sangat bahagia Thalia kembali di sampingnya.  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD