Eric sangat bahagia bisa menyelamatkan lautan, namun hal terpenting adalah keluarganya, dia tidak bisa meninggalkan adiknya begitu saja. Begitu sampai di rumah, Eric segera memeluk kembali adik-adiknya. Mereka semua merindukan Eric. Bella—ibu Thalia merasa senang Eric berhasil, dia menatap Eric dengan tatapan hangat. Sayangnya ada yang mengganjal dalam hatinya, Thalia tidak kembali ke daratan.
“Eric, apakah Thalia akan menetap di lautan dan memilih menjadi duyung?” tanya Bella kepada Eric sembari memberikan secangkir coklat panas. Eric tidak tau harus menjawab apa, yang jelas Thalia memang tidak kembali sejak bertemu dengan Alrez.
Eric merasa cemburu, marah dan tertipu. Thalia membuat dirinya terpikat lalu meninggalkannya begitu saja ketika bertemu dengan Alrez. Tidak pernah terpikir oleh Eric jika Thalia sekejam itu padanya. Dia sangat lelah menghadapi monster laut dan mencari batu permata, hari-hari yang lalu begitu membuat dia lelah. Kini saatnya dia kembali sekolah dan kembali mengejar impiannya. Hal yang tersulit bagi Eric adalah ketika dia memilih daratan namun orang yang dia sayangi memilih lautan. Eric tau Thalia memiliki kemampuan yang tidak terbatas dan sangat kuat. Thalia seharusnya masuk ke dalam barisan pasukan duyung penjaga, namun karena Thalia seorang wanita, dia tidak bisa masuk ke dalamnya. Eric juga tau Thalia memiliki jiwa untuk menjaga lautan, dia mencoba menerima kenyataan bahwa Thalia tidak akan mau menuju daratan kembali.
“Entahlah nyonya Bella, tapi bisa aku pastikan jika Thalia baik-baik saja.”
Bella menatap Eric untuk mencoba percaya dan yakin dengan apa yang dia ucapkan. Thalia memang gadis yang tangguh. Entah kenapa ada rasa sesal dalam hati Bella dulu sudah membuang anaknya sendiri. Bukannya membuang, tapi Bella memang menitipkan Thalia pada ratu duyung. Smith adalah manusia yang dia cintai, tentu saja Smith juga tau hal ini. Thalia adalah anak campuran antara duyung dengan manusia.
“Oh ya nyonya Bella, ada yang belum aku beritahukan kepadamu, aku sebenarnya anak ratu duyung,” ucap Eric.
Bella tersenyum mengusap kepala Eric, dia sudah mengerti sejak awal. Bella bertukar bayi dengan ratu duyung, ia menjaga Eric, itulah kenapa Bella menitipkan Eric kepada tetangganya dan mengawasinya. Sama halnya dengan ratu duyung, berjanji menjaga Thalia dan memberikan kekuatan sihir tak terbatas.
Rupanya keduanya kini sudah nyaman berada dalam keinginan masing-masing, Thalia hanya ingin di lautan menjaga lautan, sedangkan Eric akan tetap di daratan selama dia tidak dibutuhkan di lautan. Bella mencerotakan semuanya kepada Eric, bagaimana masa lalunya dan bagaimana Eric dengan Thalia ditukar. Mereka lahir dalam bentuk berbeda, Eric utuh bayi dengan kedua kaki, sedangkan Thalia memiliki sirip duyung sejak usia tiga bulan dan tidak bisa lagi kembali menjadi kaki saat masih bayi. Kini Eric mengerti kenapa dia dengan Thalia ditukar.
Duyung dengan manusia tidak bisa hidup berdampingan, kecuali ada salah satu yang mengalah dan memilih, menjadi duyung atau manusia selamanya. Eric memilih menjadi manusia dan kembali ke lautan jika dibutuhkan, namun rupanya Thalia tidak akan bisa menjadi seperti Eric.Darah yang mengalir dalam diri Thalia murni menjadi duyung. Saat Thalia menjadi manusia, gadis itu tetap harus kembali ke lautan setiap bulan purnama.
“Jangan bersedih Eric, sejak awal Thalia memang tidak bisa memilih menjadi manusia. Sudah menjadi takdirnya untuk menjadi duyung.”
Mendengar hal itu Eric menunduk, dia tau tidak akan bisa bersatu dengan Thalia. Eric lalu pamit pulang, dia ingin menyegarkan pikirannya. Sungguh berat saat dia mulai merasakan cinta, tapi kenyataannya tidak bisa dengan orang yang dia sayangi. Benar-benar berbeda dunia. Eric mengambil sepedanya dan menuju ke taman bermain, dia mengenang kenangan indah saat bersama Thalia. Saat jauh dengan Thalia, perasaannya kini terasa merindu. Eric duduk di pinggir kolam, memasukkan kakinya ke air, melihat kolam renang ini mengingatkannya pada Thalia.
“Eric?” sapa seorang lelaki dari belakang.
“Hei, Jason?” Eric tersenyum dan menjabat tangannya, dia melirik gadis yang di belakang Jason. Amalia, gadis cantik di kelas Ipa tiga.
“Sedang berlibur?” tanya Eric. Jason mengangguk dan memperkenalkan Amalia kepada Eric.
“Pacar baruku,” bisik Jason kepada Eric. Keduanya lalu pamit kembali mengitari taman bermain dengan Amalia. Melihat temannya yang sangat bahagia bersama, membuat Eric merasa iri.
Masa remaja, masa awal Eric merasakan jatuh cinta yang pertama kali. Sekeras apapun dia mencoba melupakan Thalia, dia malah akan semakin ingat dengan gadis manis itu.
Eric mengusap wajahnya kasar, dia lalu melangkah untuk pulang. Mungkin saat ini bukan saat yang tepat untuk mengenang Thalia, dia harus fokus untuk besok kembali sekolah. Eric masuk ke dalam kamarnya, dia menatap gelang yang dipakainya. Kalau dia ingin bersatu dengan Thalia, haruskah dia mengalah untuk menjadi duyung selamanya? Tapi dia berpikir tentang adiknya, bagaimana dnegan adiknya, akankah adiknya bahagia tanpa dia?
Jawabannya selalu tidak, Eric tidak akan mungkin dan mau menjadi duyung seutuhnya. Sedangkan di lautan, Thalia sedang bercanda tawa dengan Alrez.
“Jadi kau benar mencintai aku?” tanya Thalia sembari tertawa menatap Alrez.
“Iya, memang benar. Apa kamu mau menikah denganku Thalia?” tanya Alrez.
Thalia tersenyum mendengarnya, usia dia sebagai duyung memang sudah matang untuk segera menikah, yang menjadi masalah dalam hatinya adalah perdebatan mengenai perasaan. Awalnya dia mencintai Eric, namun Eric ternyata pergi dari lautan begitu saja tanpa pamit dengan Thalia. Dia merasa yakin jika Eric tidak memiliki perasaan apapun dengannya. Dia merasa Eric hanya membantunya saja.
“Thalia, bagaimana?” tanya Alrez sekali lagi menatap wajah cantik Thalia.
“Boleh aku jawab nanti?”
“Sebenarnya aku tau, hatimu tidak ada di sini, aku memang egois menginkanmu seutuhnya,” ucap Alrez. Thalia tersenyum mengusap pipi Alrez, dia tau sejak dulu Alrez bukan hanya sekedar menjaganya, tetapi juga mencintainya sejak kecil, namun sayangnya hanya Alrez yang mencintai Thalia, sedangkan dia tidak.
“Maaf, maaf jika aku kejam kepadamu. Tapi hati memang tidak bisa dipaksakan Alrez, aku harap kamu sabara menanti, aku tidak mau membebanimu, kalau ada perempuan lain yang mencintaimu, cobalah untuk menerimanya, jangan mengharapkan cintaku Rez,” ucap Thalia dengan senyuman manisnya. Senyuman Thalia itu makin membuat hati Alrez merasakan sakit, tapi dia tidak bisa bertindak lebih jauh. Menerima kenyataan jauh lebih menyakitkan.
“Alrez, terima kasih karena sudah mau menjagaku selama ini, sungguh aku sangat menyanyangi dan mencintaimu sebagai kakak laki-laki. Di lautan yang luas ini aku tidak memiliki saudara lainnya kecuali kamu Rez, sejak aku kecil selalu bertanya-tanya dimana orang tuaku yang sesungguhnya, tapi ratu duyung hanya memberiku kamu, sosok lelaki yang selalu ada untukku, terima kasih Rez.”
Alrez menarik nafasnya, menahan air matanya keluar dan memeluk Thalia.
“Aku sangat mencintaimu.”