Bab 17

1092 Words
Thalia masih sangat terluka untuk menghadapi kenyataan bahwa Alrez telah tiada, bahkan jasadnya sama sekali tidak meninggalkan jejak sama sekali. Eric bisa melihat tatapan Thalia yang sendu sedari tadi. Eric menghentikan menyelami lautan menuju selat bering, dia mengajak Thalia untuk ke pinggir lautan. Memeluknya erat. “Aku tau ini sulit bagimu, Alrez memang terlihat menyebalkan tapi dia tidak layak mati begitu saja. Maaf Thalia, aku tidak bisa membantu mengembalikan nyawanya. Alrez sangat pemberani, aku harap dia akan kembali ke surga.” Thalia mengangguk, dia memejamkan matanya dan berdoa agar Alrez kembali ke surga. “Thalia, waktu kita tidak banyak, kita harus sampai ke selat bering segera mungkin.” Eric lalu menggunakan tongkatnya untuk menuju ke daratan, butuh waktu hitungan detik hingga akhirnya mereka sampai ke daratan. Eric dan Thalia naik ke daratan, seketika sirip mereka berubah menjadi kaki. Hebatnya, mereka sudah mengenakan pakaian, tidak seperti saat pertama kali Thalia ke daratan. Ini semua karena Eric telah mengucapkan mantra dengan trisula peraknya. Kini tongkatnya pun berubah menjadi gelang perak. "Di sebelah mana ya rumah nelayan itu?" tanya Thalia. Eric lalu menunjuk sisi barat, dia bisa merasakan di sanalah batu permata berada. Kaki Eric melangkah berjalan ke sana. Thalia mengikutinya dari belakang. Seseorang dari belakang menepuk pundak mereka, perempuan dengan kulit putih merona, matanya biru dan rambutnya berwarna kecoklatan. Dari mata dan gelang yang dia kenakan, Thalia bisa mengetahui, jika gadis itu adalah duyung dari selat bering, gadis di hadapannya bukan hanya wanita biasa, tetapi juga duyung. "Aku Thalia, duyung dari Karibia, kamu siapa?" tanya Thalia. "Namaku Archis, duyung dari selat Bering." Dia menyambut tangan Thalia dan tersenyum. Thalia sudah tau pasti akan ada duyung yang mengikuti dia dan Eric ketika menuju selat Bering. Setiap kelompok duyung memiliki penjaga untuk mengawasi kelompok duyung lain. Ditakutkan akan adanya perang perebutan daerah lagi. "La Vista Emtana." Archis mengucapkan dengan tersenyum, kalimat itu memiliki arti selamat datang semoga kita damai selalu. Thalia tersenyum mengangguk menjawab Archis. Eric merasa dia kini seperti sudah menjadi bagian duyung, lama kelamaan dia mengerti bahasa duyung. "Kami kemari untuk mencari permata trisula agung, dua hari yang lalu, para monster laut menyerang kami, mereka menghancurkan trisula dan batu permata pecah menjadi tujuh bagian," ucap Thalia. Archis membulatkan matanya mendengar ucapan Thalia. "Lalu bagaimana? Apa kalian ini sedang mencari dimana pecahan batu permata itu? Apa monster laut masih ganas? Pantas saja banyak dari kaum kami yang keracunan oleh monster," ucap Archis panik. "Iya, kita masih menemukan beberapa, sisanya masih belum," jawab Thalia. Setelah menjelaskan secara detail, Archis kembali ke dalam lautan, dia mengabarkan kawanan duyung lainnya untuk membantu mencari batu permata lainnya. Hari ini hari terakhir, waktu mereka segera habis. “Thalia, tolong gunakan telepatimu untuk mengatakan kepada ratu duyung bahwa letak batu permata lainnya ada di dalam perut paus okra yang tinggal di bagian timur, paus itu memiliki tanda empat goresan di dekat kepalanya. Tolong katakan kepada ibuku dan meminta pasukan penjaga untuk mencari batu permata itu, aku rasa waktunya tidak akan cukup jika kita berdua saja yang mencari,” ucap Eric. Thalia lalu memejamkan matanya untuk konsentrasi, dia mencoba memberi ratu duyung. Setelah itu dia dan Eric kembali mencari nelayan yang menemukan batu permata itu. Eric dan Thalia kini berada di depan rumah nelayan itu. Eric maju selangkah, mengetuk pintu rumah nelayan, tak lama kemudian seorang lelaki paruh baya dengan putrinya keluar dari rumah. Eric bingung menjelaskan mulai dari mana, Thalia tak mau membuang waktu terlalu banyak, dia menggunakan sihirnya untuk membuat mereka tidak sadar akan kedatangan mereka dan membuat nelayan serta putrinya menurut kepada mereka. “Halo, selamat siang. Apa anda tau dimana batu permata merah? Bisa berikan kepada aku?” ucap Thalia. Eric terkejut dengan Thalia yang terang-terangan. “Hei, kenapa kamu ...,” ucap Eric terpotong karena Thalia segera mengedipkan matanya. Dia tersenyum kepada Eric. Tak lama lelaki itu masuk, mengambil batu permata dan memberikan kepada Thalia. Eric sampai menganga melihat lelaki itu seolah seperti robot yang mematuhi Thalia. Keduanya lalu kembali ke lautan. Namun sebelum itu Thalia memberikan lima berlian dan mutiara kepada nelayan itu sebagai ganti batu permata. Thalia tau nelayan itu berniat menjual batu permata untuk membeli rumah di tengah kota. Thalia memberikan dengan harga dua kali lipat, dia berharap hidup nelayan itu bisa sejahtera. “Aku rasa, pencarian batu permata ini jauh lebih cepat dan mudah ketimbang yang lainnya.” Thalia tersenyum mengangguk, memang lebih mudah mencari apabila ada di tangan manusia. Keduanya lalu kembali pulang menuju kastil kerajaan duyung Karibia, begitu Eric sampai, dia membuat kotak segel yang tidak bisa dibuka oleh siapapun kecuali dia. Dia menyimpan semua batu permata di sana. Ibunya—ratu duyung, sudah memerintahkan pasukan duyung penjaga untuk mengambil batu permata lainnya yang ada di dalam tubuh paus okra. Trisula agung yang patah, Eric persatukan kembali. Beberapa pasukan duyung yang melawan paus okra tidak selamat, mereka meninggal dan ada juga yang terluka, tapi hebatnya mereka berhasil membawa batu permata itu. Ketujuh batu permata itu disatukan, seketika cahaya putih menerangi lautan, beberapa ikan berkumpul mengelilingi kastil duyung. Para monster laut sudah terlepas dari sihir Thalia, namun mereka terlambat, trisula agung kembali tegak berdiri. Para monster laut seketika musnah dalam hitungan detik. Jiwa mereka semua terpenjara dalam pulau kematian. Tidak ada yang bisa membangunkan jiwa mereka lagi. Selamanya terperangkap dalam pulau kematian. Ratu duyung memeluk Eric dengan erat, dia sangat menyanyangi dan bangga dengan Eric. Dengan bantuan Eric lautan kembali. Semua duyung yang mati, kembali. Mereka semua kembali ke kastil duyung. Thalia sangat senang saat melihat Alrez kembali hidup bersama dengan para pasukan duyung penjaga yang mati karena paus okra. Thalia segera memeluk Alrez, seketika Alrez tersenyum dan membalas pelukan Thalia. Entah kenapa Eric merasa tidak suka melihat Thalia yang berpelukan dengan Alrez, dia merasa ada sesuatu yang membuat dia marah dalam hatinya. “Eric, kalau kamu disuruh memilih, kamu memilih lautan atau daratan?” tanya ratu duyung sembari mengusap tangan anaknya. Eric masih terdiam tak menjawab, satu-satunya alasan mengapa dia dulu ikut Thalia adalah karena ingin menjaga Thalia. Tapi melihat Thalia yang begitu bahagia bersama Alrez, dia merasa lautan bukanlah tempat dia hidup. Tidak ada lagi alasan Eric untuk menetap di sini. Dia merasa sedih sekaligus bahagia karena kini lautan telah kembali tenang. “Mungkin aku akan kembali ke daratan,” ucap Eric. Ratu duyung menarik tangan Eric, memberikan gelang kepadanya. Gelang tongkat trisula perak miliknya dan gelang untuk bisa mengubahnya menjadi duyung saat berada di lautan. “Baiklah anakku, kamu boleh pulang, ada adikmu menunggumu, aku tau kamu pasti merindukannya.” Eric lalu pamit pulang, dia menoleh ke belakang, Thalia sama sekali tidak melihatnya. Eric lalu pergi menuju ke daratan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD