Bab 16

1064 Words
“Sayang, ada satu hal yang ingin ibu katakan,” ucap Ratu duyung. Dia melirik Alrez dan Thalia, meminta mereka untuk keluar ruangan, ingin berbicara empat mata dengan Eric. “Ada apa ibu?” jawab Eric. Dia merasa sangat nyaman dengan ratu duyung, dia merasa sangat dekat dan familiar. Seolah memang benar jika ratu duyung adalah ibu kandungnya. Ratu duyung lalu mengambil tongkat trisula perak, tongkat itu sepenuhnya milik Eric. “Gunakan tongkat ini, dalam melakukan sihir di lautan. Tanpa perlu mengucapkan spell apapun, kamu akan bisa mengeluarkan sihirmu.” Eric berterima kasih kepada ratu duyung, dia lalu memeluknya erat dan membawa tongkat trisula perak bersamanya. Eric kembali berburu mencari letak batu permata lainnya. “Alrez, jaga anakku, jaga juga Thalia,” ucap Ratu duyung. Alrez mengangguk dan mulai mengawal mereka berdua. Sebenarnya Alrez merasa cemburu dengan kedekatan Thalia dengan Eric. “Bagaimana kamu bisa tau jika Eric adalah keturunan Poseidon?” tanya Alrez di tengah perjalanan, dia menatap Thalia dengan menyerngitkan dahinya. “Entahlah, sebelum aku ingin menuju daratan, aku selalu bermimpi tentang pemuda yang sama, aku pernah bermimpi perang seperti ini, para monster lautan menyerang kita, namun pemuda itu yang memusnahkan mereka. Saat itulah aku mencari Eric di daratan, sejak awal aku tau dialah yang bisa menyelamatkan kita,” jawab Thalia. “Bagaimana perasaanmu menemukan Eric? Apa kamu memiliki perasaan khusus dengan dia?” tanya Alrez. Thalia seketika tertawa kecil mendengarkan pertanyaan Alrez, memang dia terpesona dengan Eric, tapi dia dan Eric bagaikan langit dan bumi. Eric merupakan duyung yang memiliki kasta tinggi. Eric disegani dan memiliki kedudukan yang mulia. Sedangkan Thalia, dia hanyalah duyung malang yang tidak memiliki keluarga siapapun dan hanya kebetulan dia memiliki kekuatan yang luar biasa. “Mungkin, tapi aku tidak akan mengutarakan perasaanku.” Alrez tersenyum mengangguk, mereka berdua menghentikan obrolan ketika Eric memanggil mereka. Eric sudah kembali mendapatkan penglihatan dimana letak batu permata ketiga. “Apa kalian tau dimana letak keberadaan gurita merah?” tanya Eric. Thalia mengerjapkan matanya, dia mengingat letak gurita merah itu. “Aku tau, tapi berbahaya di sana. Monster laut yang satu itu memiliki kekuatan sihir.” Alrez memperingatkan Eric. “Tak apa, batu permata ketiga ada di sana, apapun yang terjadi kita harus bisa mengambil batu itu, sekalipun nyawaku yang harus kuserahkan.” Eric menatap mereka berdua dengan tatapan serius. Mereka bertiga akhirnya menuju tempat gurita merah. Sangat berbahaya, tapi mereka bertiga bertekad mempertaruhkan nyawanya untuk bisa mendapatkan batu permata yang berharga itu. Gurita merah itu sedang menatap mereka bertiga dengan tatapan tajam, mereka tidak suka dengan kehadiran mereka. “Aku tidak melihat batu permatanya, ada dimana Ric?” tanya Thalia. Mata Eric sedari tadi tidak lepas dari perut besar gurita itu. “Ada di sana, di dalam perutnya. Seseorang harus masuk dan mengeluarkan batu permata dari sana,” ucap Eric. Dia lalu hendak maju, sebelum semakin mendekat gurita raksasa itu membelit Eric dengan tentakelnya. Thalia terkejut dengan apa yang dia lihat, dia sangat takut terjadi sesuatu dengan Eric. Alrez maju dan menatap Eric, dia juga langsung terbelit dengan tentakel gurita merah itu. “THALIA JANGAN MENDEKAT! MUNDURLAH!” teriak Alrez. Thalia bergetar ketakutan, dia mundur, bersembunyi di balik bebatuan. “Ada apa duyung-duyung lemah kemari? Woah aku melihat ada yang spesial, sepertinya tongkat trisula itu akan masuk ke mulutku,” ucap gurita itu. Sebelum gurita itu memakan Eric, Alrez maju dan masuk ke dalam perut gurita. “Thalia, aku mencintaimu,” ucap Alrez dalam telepatinya. Thalia terkejut mendengar pesan telepati dari Alrez, dia hampir menangis ketika melihat Alrez dimakan oleh gurita merah itu. Thalia mencoba melakukan sihir kepada gurita merah itu, namun sayangnya tidak bisa. Gurita merah itu juga menguasai sihir tingkat dewa, dia bisa memblok kekuatan sihir para duyung. Alrez masuk ke dalam mulut gurita, tubuhnya kesakitan karena harus masuk dengan dorongan ke dalam perut gurita besar ini, dia menemukan pecahan batu permata trisula, dia segera mengambilnya. Alrez hendak keluar, dia mencoba mengeluarkan sihirnya, namun tidak bisa. Dia terjebak di dalamnya. Alrez menitikkan air matanya, tidak ada cara lain untuk keluar lagi, dia lalu memaksakan membuat gurita itu membuka mulutnya, saat Alrez mencoba keluar, dia ditelan kembali, namun tangannya sempat mengeluarkan batu permata itu. Saat batu merah itu jatuh, Eric segera menggigit tentakel agar dia terlepas dari lilitan gurita dan mengambil batu itu. Dia mencoba menggunakan tongkat sihirnya, membuat gurita itu hancur. Seketika mantranya bisa dilakukan, Eric sangat spesial, hanya dia yang bisa melakukan sihir dengan tongkat trisula peraknya. “Cepat keluarkan Alrez!” bentak Eric kepada gurita itu. Sayangnya tidak bisa, Alrez selamanya akan terperangkap di dalam perut gurita itu. Eric menggoyangkan trisulanya, membuat gurita itu hancur. Saat itu juga tubuh Alrez ikut menghilang dengan gurita itu. Tidak ada cara untuk selamat dari gurita merah ketika sudah masuk ke dalam perut. Harus ada sesuatu yang dibayar ketika mengambil sesuatu dari perut gurita. Eric begitu kesal dan marah pada dirinya sendiri, dia tidak bisa menyelamatkan nyawa Alrez. “Alrez,” lirih Thalia, dia menangis seketika. Jasad Eric sama sekali tidak ada, menghilang begitu saja bersama dengan monster gurita. Eric dan Thalia saling memeluk, mereka berdua meneteskan mata, Alrez sangat berjasa dalam penemuan batu permata ketiga ini. “Aku harap Alrez bisa pergi dengan tenang, aku sangat menyanyanginya, dia seperti kakak aku sendiri.” Thalia mengucapkan dengan suara bergetar, dia berulang kali mengusap air matanya. Untuk terakhir kali, Thalia menyanyikan lagu siren atas kematian Alrez, nyanyian yang Thalia harapkan bisa mengantarkan arwah Alrez untuk tenang. Eric melirik keadaan lautan luar, sinar bulan kembali datang, waktu mereka tinggal sehari lagi, mereka harus bergerak cepat, jika tidak kehidupan lautan tidak akan bisa diselamatkan. “Thalia, kita harus bergerak cepat. Lihatlah, malam kedua akan tiba. Kita tidak bisa istirahat malam ini, ayo kita kembali cari batu lainnya,” ucap Eric. Thalia mengusap air matanya dan mengangguk. Eric memejamkan matanya, batu permata keempat ada di tempat lain. Dia tidak melihat lautan, yang Eric lihat batu permata itu ada di rumah seorang nelayan. “Thalia, tidak ada di sini, kita harus ke daratan. Batu itu ada di rumah seorang nelayan.” Thalia terkejut dengan ucapan Eric. Akan lebih sulit mencari di daratan yang luas, Thalia bahkan tidak mengetahui jalanan di daratan. “Bagaimana kita bisa mengetahui rumah itu? Apa ada petunjuk lainnya kemana kita harus pergi?” Eric memejamkan lagi matanya, yang dia lihat sesuatu yang sangat jauh. “Selat bering, aku melihat para duyung dari selat Bering, kapal nelayan itu dekat dengan itu.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD