Eric masih belum sadar, sedangkan Thalia berusaha keras membangunkan Eric dengan mengucapkan beberapa mantra untuk membuat Eric sadar, sayangnya Thalia tidak bisa, Eric masih saja memejamkan matanya, Eric sama sekali tidak bergerak, bahkan Eric tidak membuka matanya. Thalia semakin bingung dan panik, apa yang harus dia lakukan untuk membuat Eric sadar, sedangkan waktu mereka tidak banyak, masih ada lima batu permata lainnya yang belum ditemukan. Thalia mengusap pelan pipi Eric, dia terus memanggil nama Eric, tapi tak kunjung bangun.
Beberapa menit kemudian, tuan penyu datang dan membantu Thalia. Tuan penyu dianggak hewan laut yang hidup ribuan tahun lamanya, tuan penyu mengetahui segala seluk beluk mengenai lautan.
“Ada apa dengan Eric?” tanya Tuan Penyu.
“Dia sepertinya keracunan karena kerang hitam, aku harus bagaimana? Aku bingung, berbagai mantra telah aku ucapkan, tapi dia tidak kunjung membuka matanya sejak satu jam yang lalu, bagaimana ini tuan penyu?” tanya Thalia.
“Tenanglah, coba kau ambil salah satu chalkones, lalu berikan kepada Eric, tumbuhan itu bisa membuat racun di dalam tubuh Eric menghilang.”
Thalia lalu berenang ke sisi Timur, mencari tumbuhan untuk menyembuhkan Eric, dia bertemu dengan Alrez.
“Thalia? Ada apa? Kenapa kamu begitu tergesa-gesa?” tanya Alrez sembari memegang Thalia, namun Thalia menepis tangan Alrez.
“Tidak bisa aku jelaskan sekarang.” Thalia lalu kembali berenang, melihat Thalia yang panik, Alrez lalu mengikuti Thalia.
Alrez merasa sangat terluka dengan sikap Thalia, kenapa tidak bisa menjawab padahal dia selalu peduli dengan Thalia. Entah kenapa Alrez merasa tidak suka Thalia dekat dengan Eric.
"Thalia? Ada apa? Katakan kepadaku," ucap Alrez. Thalia tidak menjawab, malah terus berenang semakin jauh. Alrez penasaran dengan Thalia, dia mengikutinya dari belakang.
Thalia melihat tumbuhan yang dibutuhkan sudah semakin dekat, namun Thalia terpental saat berenang, seolah ada gelombang penahan yang mencegah dia untuk bisa masuk. Untungnya Alrez bisa menangkap tubuh Thalia agar tidak terbentur bebatuan.
"Apa kamu baik-baik saja?" tanya Alrez. Thalia mengangguk pelan, dia mencoba mendekat lagi, lalu kembali terpental.
"Ada apa ini? Kenapa aku tidak bisa mengambil tanaman itu?"
Alrez menyerngitkan dahinya, dia lalu memegang tangan Thalia, meminta gadis manis itu menghindar.
"Thalia, ini berbahaya. Untuk apa kamu ingin menembus dan mengambil tanaman itu?" tanya Alrez panik. Dia memperhatikan seluruh tubuh Thalia, dia takut terjadi sesuatu dengan Thalia.
"Aku harus mengambil tumbuhan itu untuk mengeluarkan racun dari tubuh Eric."
Alrez menghela nafasnya kasar, bagaimana bisa keturunan Poseidon terlihat begitu rapuh dan lemah.
"Setauku, ini tanaman lindung milik ratu. Hanya ratu duyung yang bisa membuka segelnya. Satu-satunya cara untuk membuka segel hanyalah meminta kepada ratu duyung.
"Aduh, tapi bahaya jika ratu mengetahui keberadaan Eric," jawab Thalia.
"Kenapa berbahaya? Eric adalah keturunan Poseidon, aku yakin Ratu pasti akan memahami dan menghargai dia,” ucap Alrez.
Thalia menggeleng, dia tidak setuju dengan ucapan Alrez, Thalia sangat mengetahui bagaimana sikap ratu duyung, tegas dan tidak dapat di negosiasi. Thalia akan sangat kecewa jika ratu duyung tidak memperlakukan ERic dengan baik. Sayangnya Thalia tidak memiliki kuasa apapun, dia hanya bisa menurut sebagai duyung biasa.
“Biasanya ratu duyung akan menyiksanya, membuat menderita siapapun yang mengaku keturunan Poseidon, dia pasti mengujinya, aku tidak tega jika Eric tersiksa,” jawab Thalia. Alrez mengehela nafasnya kasar, tidak ada waktu untuk berdebat dengan Thalia, kalau Eric terus dibiarkan keracunan, bisa saja dia akan mati.
“Sudahlah, ayo kita sekarang menuju ke kastil Ratu!” teriak Alrez, dia menggandeng tangan Thalia dan mengajaknya berenang menuju kastil ratu. Memang tidak ada jalan lain selain meminta ratu membuka segelnya, tapi Thalia masih ragu dan khawatir, dia bimbang, bagaimana jika Eric bisa saja mati. Dia ingat dua pemuda yang menggunakan tato buatan dan mengaku keturunan Poseidon demi mendapatkan kekuasaan di dunia duyung, dia segera disiksa oleh ratu dan dilenyapkan begitu saja. Bahkan jasadnya oleh ratu benar-benar dihancurkan tanpa jejak. Membayangkan hal itu membuat Thalia menjadi ngeri, tapi dia juga bingung bagaimana membuat racun kerang hitam dari tubuh Eric keluar.
Mereka berdua telah sampai di depan pintu ruangan Ratu duyung, Thalia menarik nafasnya, dia mencoba untuk tetap tenang di hadapan ratu duyung.
Alrez mengetuk pintu bernuansa warna emas itu, ukiran yang sangat cantik menandakan itu adalah singgasana ratu duyung. Beberapa menit kemudian, duyung penjaga membuka pintu, Thalia dan Alrez segera menunjukkan kalung duyung mereka. Setelah memeriksa, mereka berdua lalu diperbolehkan masuk. Aura yang kuat terasa saat keduanya memasuki ruangan. Sebagai duyung, Thalia mencoba untuk tidak mengacaukan segalanya. Dia sebisa mungkin tetap bersikap netral. Keduanya membungkuk menghadap ratu duyung.
“Thalia, Alrez. Ada apa kalian mendatangiku di saat genting seperti ini?” tanya Ratu duyung.
“Mohon maaf ratu mengganggu kesibukan anda, saya kemari hendak meminta izin untuk meminta tumbuhan ratu, ada kerabat saya yang terkena racun kerang hitam,” ucap Thalia.
“Kerabat? Siapa dia?” tanya ratu duyung.
“Namanya Sean Eric, dia ...,” ucap Thalia terpotong karena ratu duyung segera bangkit dari duduknya.
“SEAN ERIC? Apa benar itu namanya? Bawa dia kepadaku sekarang Thalia, dan kamu Alrez, ambilkan tumbuhan itu, buka segelnya, lalu kembali tutup setelah mengambilnya.”
Ratu duyung memberikan Alrez kunci pembuka segel. Thalia tidak tau apa yang sedang terjadi, dia tidak tau kenapa ratu duyung terkejut mendengar nama Eric, tapi dia segera menjemput Eric dan membawa ke kastil ratu duyung.
Ratu duyung lalu memeluk Eric, dia memeluknya sangat erat, Thalia tercengang atas apa yang dia lihat.
“Sean, bangunlah.” Ratu duyung lalu menggunakan kekuatannya untuk menyembuhkan Eric, tumbuhan yang diambil oleh Alrez ditumbuk menjadi halus dan Eric meminumnya. Tak lama, Eric segera sadar dan dia terkejut dengan apa yang dia lihat.
“Kenapa aku bisa ada di sini?” tanya Eric, dia bingung menatap sekeliling ruangan besar yang dilapisi emas.
“Kamu benar Sean Eric?” tanya ratu duyung menatap Eric dengan tatapan sendu, dia sangat ingin memeluk Eric lagi.
“I-iya, anda siapa?” tanya Eric. Dia terkejut melihat perempuan yang terlihat anggun dan berwibawa, menggunakan gelang dan mahkota berlapisi emas.
“Sean Eric, kamu memang benar kemari Nak, ramalan itu benar adanya. Kamu memang anak aku,” ucap ratu duyung. Eric menganga mendengar hal itu, dia setengah tidak percaya.
“Kamu adalah anakku, kamu sudah besar sekarang, maaf ibu membiarkanmu di daratan sangat lama,: ucap ratu duyung. Eric merasa aneh, padahal dia masih ingat wajah ayah dan ibunya yang sudah meninggal saat dia duduk di bangku SMP.
“Anak? Maksudnya?” tanya Eric bingung.
Ratu duyung lalu memperhatikan kepada Eric, gambaran hologram masa lalu bagaimana ratu duyung melahirkan seorang putra dan menitipkannya kepada pasangan suami istri. Terlalu berbahaya bagi Eric yang masih kecil hidup di lautan sebagai duyung, Eric pasti akan banyak dimangsa oleh para monster laut, mereka semua takut dengan ramalan bahwa kemunculan Eric adalah pemusnah para monster laut.
Setelah melihat hologram gambar itu, Eric memahami siapa dia sebenarnya, dia melihat ratu duyung dan tersenyum.
“Ibu,” panggil Eric pelan dan ratu duyung memeluknya erat.