Bab 14

1067 Words
Awalnya Dolpa hendak berenang menuju Barat, namun panggilan Rahda membuat dia menuju utara. Dolpa mendengar panggilan Rahda sangat mendesak, dia akhirnya memilih memanggil kawanannya untuk ikut menuju Rahda. Dolpa bisa merasakan bahwa sedang ada bahaya. Thalia mundur selangkah ketika melihat banyak kawanan lumba-lumba yang datang. “Rahda, apa ini semua hewan peliharaanmu?” tanya Thalia terperangah. Dalam kasta duyung, hanya para duyung kerajaan yang diperbolehkan memiliki hewan khusus. Thalia tidak memiliki peliharaan, hanya saja tuan penyu sangat menyukai Thalia, dia menyukai Thalia karena gadis manis dan baik. Tidak hanya itu, terkadang Thalia membantu tuan penyu mencari makanan sehari-hari. Bahkan jika ada benda asing yang masuk ke dalam perutnya, Thalia membantu tuan penyu untuk mengeluarkan makanan dengan mantranya. “Iya, peliharaanku hanya Dolpa, lainnya pengikut Dolpa.” Lumba-lumba yang berenang paling depan menghampiri Rahda, Dolpa namanya, lumba-lumba yang dianggap alpha atau pemimpin bagi para lumba-lumba. Mereka semua menurut kepada Rahda. “Ada apa Rahda? Kenapa wajahmu terlihat sangat cemas dan khawatir?” tanya Dolpa. “Bisa kau nyanyikan sebuah lagu agar kerang hitam membuka mulutnya? Ada satu duyung terperangkap di dalamnya.” Dolpa lalu berputar, berbicara dengan para kawanannya dengan bahasa lumba-lumba. Rahda bisa mendengar serta mengetahui apa yang Dolpa bicarakan, sebagai pemilik, Rahda sangat memahami apa maksud Dolpa dan apa yang dibicarakan kepada para kawanannya. Tak lama, mereka semua berkumpul di depan kerang hitam, suara nyanyian mereka membuat kerang hitam yang semula diam saja seketika bergerak, bergoyang dan semakin keras lagu yang dinyanyikan lumba-lumba membuat kerang hitam membuka mulutnya, kerang itu bergerak gelisah, permukaan cangkangnya mulai terbuka hendak pecah. Bait selanjutnya membuat kerang hitam itu hancur lebur. Eric keluar dari dalam, memegang batu permata trisula, dia lalu segera menuju Thalia. “Syukurlah kamu selamat,” ucap Thalia. Para lumba-lumba lalu mundur, Dolpa berteriak kepada Rahda menyuruhnya untuk segera pergi yang jauh, kerang hitam akan meledak. Beberapa detik kemudian ledakan terjadi begitu saja, ledakan yang sangat besar sampai membuat lautan berputar. Rahda, Eric dan Thalia saling menggegam untuk menghindari ledakan. Seketika semua emas harta karun yang ada di dalam kerang hitam meledak begitu saja dan menghilang tanpa jejak. Lautan yang begitu kelam dan gelam seketika menjadi cerah, sinar bulan mulai memasuk daerah itu, tumbuhan rumput laut dan bebatuan mulai terlihat. Beberapa ikan lainnya datang, menghiasi daerah itu dengan cantik. Kehidupan baru mulai ada di lautan gelap ini. Kerang hitam tidak ada lagi, monster laut kecil mematikan itu, mereka semua takjub melihat sekeliling, seolah keajaiban kembali datang setelah kerang hitam musnah. “Kau? Aku tau kamu bukan duyung dari bangsa kami. Apakah kamu duyung dari selat Bering?” tanya Rahda penasaran. Dilihat dari sisik dan bentuk sirip duyung, sama sekali berbeda dari para duyung Karibia. “Aku ... aku sebenarnya ...,” ucap Eric terpotong. “Dia adalah keturunan Poseidon, dia bisa membantu kita menemukan batu permata trisula kembali. Dia mengetahui dimana letak pecahan batunya.” “Keturunan Poseidon?” tanya Rahda setengah menganga, dia terkejut dengan ucapan Thalia. Keturunan Poseidon dia kira hanyalah dongeng belaka, tapi ternyata dia melihat secara langsung. Keturunan Poseidon memang benar adanya. Rahda lalu menuju ke belakang Eric, mencari tanda di pundak Eric, ternyata benar, ada tanda sebagai bukti bahwa Eric memang keturunan Poseidon. “WAH BENAR!” ucap Rahda setengah berteriak. “Tapi aku mohon Rahda, jangan katakan hal ini kepada Ratu.” Thalia meminta dengan tatapan memohon. Thalia menduga jika Ratu tau hal ini, bisa saja dia menyiksa Eric untuk membuktikan apakah Eric benar keturunan Poseidon. “Ah aku tau kenapa kamu mengatakan begitu, tapi jika saja Ratu tau terakhir nanti malah bisa jadi bahaya. Lebih baik kamu sembunyikan dengan baik keberadaan Eric.” Rahda memperingati Thalia dengan wajah serius. Eric mungkin bisa membantu para duyung penjaga menemukan batu permata, namun jika Ratu mengetahui ada duyung asing, dia pasti akan menginterograsinya, sedangkan waktu mereka tidak banyak. Bendungan yang dibuat Thalia hanyalah bertahan dua hari lagi. Hanya Thalia yang bisa membuat bendungan itu, kekuatan besar Thalia tidak ada yang mengetahui kecuali Rahda dan tuan penyu. Thalia hidup menjadi duyung tidak memiliki keluarga seperti duyung lainnya, Thalia lebih sering menghabiskan waktu berenang mengelilingi lautan. “Iya, aku berusaha menjaga Eric,” ucap Thalia, dia lalu berenang mendekati Dolpa, para hewan di lautan sangat mengenal dan menyukai Thalia. “Dolpa, aku meminta kepadamu, jangan menceritakan siapa itu Eric,” ucap Thalia sembari memeluk Dolpa. Lumba-lumba itu mengangguk dan mengitari Thalia, dia mengecup pipi Thalia lalu mengeluarkan gelang mutiara. “Untukmu Thalia, jagalah dan gunakan saat kamu di dalam bahaya, gelang itu juga bisa untuk memanggilku,” ucap Dolpa. Thalia tersenyum berterima kasih kepada Dolpa. Eric dan Thalia kembali menyusuri lautan lainnya, mencari batu permata ketiga. Sayangnya Eric tidak menemukan apapun dalam penglihatannya, seolah tertupi sesuatu, bahkan dia merasa masih pusing semenjak masuk ke dalam kerang hitam. Seolah ada racun yang memasuki tubuhnya. “Ada apa Eric?” tanya Thalia. Eric menggeleng dan memegang kepalanya, dia memegang bebatuan di dasar laut, rasanya tidak sanggup berenang lebih jauh lagi. “Eric, ada apa denganmu?” tanya Thalia khawatir. Dalam sekejap Eric menutup matanya, Thalia segera membawa Eric diatas bebatuan. Dia mengusap kepala Eric, tak lama keluar cairan hitam yang keluar dari mulut Eric, benar dugaan Thalia bahwa ada racun kerang hitam yang masuk ke dalam tubuh Eric. Thalia segera mengambil rumput laut, meremasnya pelan dan mengucapkan mantra, dia memaksakan Eric memakan rumput laut itu, rasanya sangat pahit dan hambar, Eric hampir saja memuntahkannya, namun Thalia memaksakan rumput laut itu tetap Eric telan. “Astaga, pahit, aku tidak sanggup.” Eric merasa mual, dia bahkan tidak bisa melihat dengan jelas. Thalia menyanggah leher Eric, lalu memaksakan lagi rumput laut itu masuk ke dalam tubuh Eric. “Paksakanlah untuk masuk, aku tau kamu pasti bisa Eric,” ucap Thalia. Eric bersusah payah menelan rumput laut itu. Dia tidak menyangka jalan hidupnya akan seperti ini, padahal dia hanya memimpikan hidup yang tenang sebagai manusia, sukses dan hidup bahagia memiliki keluarga. Tapi kenyataannya dia malah memiliki suatu kemampuan diluar dugaannya. Dia bahkan tidak pernah menduga bahwa dia bisa berubah menjadi duyung. Beberapa detik setelah Eric menelan rumput laut itu, perutnya terasa panas, badannya bergetar terasa lemas, matanya berkunang-kunang, dia menggenggam erat tangan Thalia. Tubuhnya terasa disiksa, lehernya terasa tercekik. “Thalia, tolong ... ak ... aku tidak tahan,” ucap Eric terbata-bata. Thalia memeluk Eric, sembari mengucapkan, “Bertahanlah Eric, semua para duyung hanya bisa meminta bantuanmu, kita membutuhkanmu menjaga lautan.” Suara Thalia hanya terdengar samar-samar, dia lalu memejamkan matanya.  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD