Bab 13

1009 Words
Eric menghela nafasnya, dia tidak tau jika lautan akan sangat berbahaya seperti ini. Sejenak dia berpikir untuk memusnahkan semua monster laut. Dengan itu mungkin kedamaian akan terjadi. Thalia tidak pernah setuju dengan keinginan Eric. Dunia ini memiliki keseimbangan energi baik dan buruk. Sang Pencipta telah memberikan segala sesuatu dengan porsinya masing-masing. Jika salah satu menghilang, bisa jadi akan terjadi ketimpangan ataupun hal tak terduga. "Eric, dimana batu yang lainnya?" Eric memejamkan matanya mendengar pertanyaan Thalia, dia melihat batu permata itu bersanding dengan mutiara hitam, bersanding tepat di sampingnya. Namun Eric tak tau dimana letak mutiara hitam itu. "Mutiara hitam, batu lainnya ada di samping mutiara hitam, apa kamu tau dimana letak mutiara hitam?" tanya Eric. Thalia seketika terkejut mendengar ucapab Eric, mutiara hitam ada di dalam laut atlantik, sangat jauh. Tidak mungkin hanya mmemakan waktu hanya sebentar, sekitar dua atau tiga hari. Kekuatan Thalia terbatas, dia tidak bisa menggunakan teleportasinya saat lemah. "Aduh Ric, bagaimana ini? Aku tidak bisa menggunakan kekuatanku, aku terlalu lemah. Bagaimana bisa permata itu terletak sangat jauh?" Eric menggeleng tidak tau, saat seperti ini dia tidak bisa memikirkan apapun, dia hanyalah manusia yang tiba-tiba seperti keajaiban, dia ada di lautan, dianggap seperti keturunan Poseidon. "Eric," panggil Thalia pelan. "Ya?" Mereka saling menatap, tanpa mengucap kalimat apapun, saling sibuk dengan pikirannya masing-masing. Eric tau dia memiliki kekuatan sihir yang mungkin akan menjadi tak terbatas, bahkan melampaui kekuatan Thalia. Namun hati kecilnya masih meragu. Dia tidak yakin jika dia bisa mengendalikan kekuatan besar dengan baik. "Percayalah, kamu bisa. Cobalah kendalikan kemampuanmu. Lihatlah sekeliling, mereka semua akan mati jika kita tidak menemukan batu permata dengan segera," ucap Thalia. Eric menunduk, dia merasa sangat lemah saat ini, dia bahkan merasa kehilangan jati diri. Dia tidak tau dia siapa, lalu bagaimana dengan kedua adiknya di rumah. Bagaimana Eric bisa terus di sini, tanpa memberikan kabar kepada adiknya. "Aku harus kembali Thalia, aku punya adik yang harus aku rawat. Mereka keluarga aku," ucap Eric "Tapi lautan membutuhkanmu, hanya kamu yang bisa memegang trisula agung, hanya tangamu yang bisa menyatukan pecahan batu permata itu. Kamu pasti bisa Eric. Aku yakin kamu bisa. Kamu bukan hanya manusia biasa. Jangan khawatir dengan adikmu, aku yakin ibuku pasti menjaga mereka," ucap Thalia, dia memeluk Eric. Mereka berdua lalu menuju ke tempat pelatihan sihir, butuh waktu lama untuk melatih sihir Eric, namun tidak ada yang bisa diandalkan lagi untuk mengetahui letak batu permata itu. Thalia terlalu lemah untuk melawan sendiri. "Cobalah makan ini, bisa membantumu untuk menghafal berbagai jenis macam sihir." Thalia memberikan mutiara berwarna merah muda, mutiara pengetahuan yang bisa membuat Eric mempelajari dengan cepat mengenaik kekuatan sihir. Dua jam berlalu, Eric telah dilatih oleh Thalia, dia menjadi mahir mengontrol kekuatan sihir. Mereka tidak mau terlalu lama mengulur waktu, keduanta segera menuju tempat mutiara hitam. Eric memegang tangan Thalia, mengucapkan mantra teleportasi. Dalam sekejap mereka sampai di lautan yang begitu hening. Gelap, tidak ada sinar bulan yang masuk, benar-benar gelap dan mencekam. Meski keduanya masih bisa melihat dalam kegelapan, tapi terasa begitu mencekam, lautan sama sekali tidak ada apapun primata laut di sini. Hampa, sunyi dan menakutkan. "Di mana letak mutiara hitamnya?" tanya Eric. Bahkan suaranya sendiri yang menggrma membuat Eric merinding. Dia sendiri ketakutan mendengar suara itu. "Di bawah lagi, di bawah sana ada pusaran air, kamu harus menggenggam erat tanganku. Thalia meraih tangan Eric, menggegamnya dengan erat. Mereka lalu masuk ke dalam perairan yang sangat gelap dan angin berputar dua kali lebih cepat. Eric memeluk Thalia, pusaran air itu sangat kuat, Eric merasakan pusing dan mereka terlempar ke dalan lubang hitam. Eric memperhatikan sekitar, ada satu kerang besar di ujung kanan. "Thalia? Apa di dalam sana mutiara hitam dan batu permatanya?" tanya Eric. "Iya, tapi kerang itu bukan kerang biasa, dia kerang kematian. Monster laut yang memiliki 80 gigi menyeramkan, kita harus menjinakkan dia sebelum kita menjadi mangsanya." Eric membulatkan matanya, dia terkejut mendengar ucapan Thalia. "Lalu bagaimana kita masuk ke dalam dan menjinakkannya? Bagaimana aku bisa?" ucap Eric bingung. Thalia melepaskan kalung mutiaranya, dia memejamkan mata, menyanyikan lagu siren yang sangat indah didengar. Mutiara itu terbuka, gigi-gigi tajamnya terlihat menyeramkan. Thalia berbisik kepada Eric, menghentikan nyanyiannya sejenak. "Masuklah, ambil batu permata itu, jangan sampai kamu menyentuh yang lain. Lalu cepatlah kembali." Eric mengangguk lalu masuk ke dalam mulut kerang itu, dia begitu takjub dengan yang dia lihat. Begitu banyak emas dan barang berharga lainnya. Eric tergoda dengan tongkat sihir besi berlapis emas, dia menyentuhnya. Kerang itu marah, dan menutup mulutnya. Eric terjebak di dalamnya, Thalia terkejut dengan yang dia lihat, Eric nampak seperti dimakan oleh kerang itu. "ERIC!!" teriak Thalia. Gadis itu mencoba lagi menyanyikan lagu siren agar mulut kerang terbuka lagi, sayang tidak bisa. "Yaampun, bagaimana ini, aku harus bagaimana?" ucap Thalia bingung sendiri. Hanya ada satu duyung yang mungkin bisa membantunya, duyung cerdas yang bekerja sebagai penasihat kerajaan sekaligus temannya. Thalia memejamkan matanya, memegang kalungnya dan melakukan telepati. "Tolong aku, Rahda. Aku membutuhkan bantuanmu, temanku terjebak di dalam kerang hitam." Rahda sedang bertugas, dia masih sibuk menjadi penasehat ratu duyung, namun mendengar Thalia memanggilnya, dia segera meminta izin. "Tunggu aku di sana Thalia," balas Rahda dalam telepati. Rahda mengingat bagaimana Thalia menjadi duyung yang sangat baik, dia pernah menyelamatkan ibu Rahda saat kesakitan. Rahda segera menggunakan teleportasinya menuju tempat Thalia berada. "Yaampun Thalia, ada kau di sini, lautan di sini begitu membahayakan, kamu tidak seharusnya di sini." "Rahda, tolong bantu aku membuka kerang hitam itu. Di sana ada temanku yang terjebak." Rahda terkejut saat Thalia mengatakan hal itu. Tidak ada cara lain untuk membuka kerang hitam kecuali dengan lumba-lumba, kerang hitam sangat takut dengan suara lumba-lumba, bahkan mereka bisa saja mati hanya karena mendengarnya. Lumba-lumba hewab yang baik, penuh ketulusan dan cerdas, berbanding terbalik dengan mutiara hitam yang kejam dan ganas. Rahda lalu mencoba memanggil Dolpa, lumba-lumba peliharaannya. Kerang hitam tidak akan bisa memberikan serangan apapun, dia seperti tumbuhan venus yang hanya membuka mulut memangsa predator yang datang. Kalau saja Eric tidak tertarik dengan tongkat emas, mungkin dia akan masih selamat hingga detik ini. Ketamakan bisa membuat seseorang celaka, apalagi tergoda dengan harta. Hukum itu berlaku di daratan maupun lautan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD