Bab 34

183 Words
 Thalia tidak bisa menjawabnya, dia bingung dengan pertanyaan ini. Satu-satunya alasan Thalia adalah ingin hidup bersama dengan orang tuanya dan juga Eric. "Kau tau jawabannya. Orang tuaku," jawab Thalia tersenyum. Eric mengangguk. Mereka lalu berenang menuju lautan. Perlahan kaki mereka menjadi sirip duyung, tubuh mereka sebagian tertutup oleh sisik. Mereka berenang bersama menuju Athena. Cukup jauh, sesekali mereka beristirahat di bebatuan untuk istirahat. Eric mengumpulkan energinya untuk melakukan teleportasi. Mereka dalam waktu sedetik sampai di Athena. Thalia terpukau dengan sihir yang dilakukan Eric. "Andai saja aku diberi pilihan bisa hidup menjadi manusia dengan sihir, aku tentu akan bahagia." Eric tertawa mendengarnya. Dia mengusap kepala Thalia. "Kau menyinggungku? Aku bisa hidup menjadi manusia dengan sihirku." Eric tersenyum, dia memang bisa menjadi manusia dengan segala sihirnya. Tetapi bagi Thalia menjadi manusia adalah impian utamanya. "Setelah kamu menjadi manusia, aku akan selalu melindungimu dengan segenap perasaanku," ucap Eric penuh dengan ucapan perasaan sayang. Thalia menatap manik mata Eric, mata teduh itu membuat Thalia tidak bisa melupakan dia. Mata Eric yang selalu membuat Thalia merasakan damai. Dia sangat mencintai Eric, namun bibirnya masih malu mengucapkan perasaan cinta.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD