Bab 10

1037 Words
"Thalia! Bangunlah! Ibu mohon, bangunlah sayang," ucap Bella khawatir. Dalam perjalanan Thalia sama sekali tidak bangun, dia masih memejamkan mata dan sama sekali tidak bergerak. Bella meminta Eric untuk membawa Thalia ke rumah sakit. Dengan kecepatan penuh Eric segera membawa Thalia ke rumah sakit. Rupanya Thalia kekurangan nutrisi dan kelelahan, mereka berdua tersenyum lega jika Thalia baik-baik saja. “Tante, tante bisa pulang, biar saya yang menjaga Thalia,” ucap Eric. Bella tersenyum, namun dia enggan pulang sebenarnya, dia akan tetap menemani Thalia sampai sadar. Dua jam kemudian, Thalia mulai sadar, kepalanya terasa sangat pusing, matanya buram. Dia tidak sanggup untuk bangkit dari tidur. Dia bahkan tidak berani membuka mata karena takut jika akan ada monster kraken lagi. “Thalia?” panggil Eric, suara yang membuat jantung Thalia berdegup kencang. Dia membuka matanya, memberanikan melihat keadaan sekitar. “Sayang kamu sudah bangun?” ucap Bella mengusap kepala anaknya, Bella segera mengecup kening Thalia. “Mom?” panggil Thalia, dia bangkit dan memeluk Bella. Seketika rasa pusing Thalia sirna, dia memeluk erat Bella, melepaskan rasa rindu yang dia pendam. Meski baru berpisah sebentar, tapi Thalia merasa gundah, dia gelisah saat jauh dari ibunya. “Mom, monster kraken sudah kembali, mereka memperkuat dengan kerjasama bersama monster lain, aku sudah menyegelnya, tapi hanya bisa bertahan selama tiga hari,” ucap Thalia. Eric hanya mendengarkan, dia tidak begitu memahami apa yang dimaksud Thalia, dia merasa berada di negeri dongeng saat ini. Tapi dia benar-benar melihat sirip duyung milik Alrez, mau tidak mau dia harus percaya. “Bagaimana semua itu bisa terjadi? Lalu bagaimana dengan semua para duyung?” tanya Bella khawatir. “Mereka sudah aku selamatkan, tapi aku harus segera menemukan batu permata yang pecah, mengembalikan ke Trisula milik Zeus. Aku takut gagal menemukannya," ucap Thalia. Saat ini seharusnya memang Thalia lebih baik berada di lautan, kembali mencari letak batu permata, mengembalikan Trisula yang patah. Dia yakin semua duyung saat ini pasti sedang panik dan mencarinya. Thalia hanya merasa takut, bagaimana jika dia mencari batu permata yang hilang, tapi dia tidak bisa kembali ke daratan. "Aku harus kembali ke lautan sekarang, aku harus mengembalikan batu permata. Jika tidak, lautan akan hancur, semua manusia akan menjadi mangsa." Thalia melepas infusnya, memeluk erat Bella. "Aku janji Mom, aku janji akan kembali. Doakan aku berhasil. Thalia memeluk erat Bella, dia meminta Eric mengantarnya kembali ke lautan sebelum matahari terbit. "Aku akan mengantarmu Thalia," ucap Eric. Bella sangat sedih berpisah dengan anaknya, dia sangat terpukul melihat Thalia yang kembali ke lautan. Ingin rasanya Bella ikut dengan Thalia, sayangnya kalung duyungnya telah lama dia berikan kepada ratu duyung. Sesampainya Thalia di lautan, Eric menahan Thalia, dia ingat bagaimana Alrez memintanya untuk menjaga Thalia. "Thalia, tunggu. Apa bisa aku ikut denganmu?" tanya Eric. Dia menggenggam tangan Thalia, enggan melepasnya. Menatap Thalia dengan penuh perasaan, Eric mungkin akan menyesal seumur hidupnya jika tidak pernah membantu Thalia. Gadis manis itu tersenyum, dia berbalik dan memeluk Eric sangat erat. Dia tau Eric tidak mau kehilangan dirinya, tapi Thalia adalah duyung. Dia diciptakan untuk menjaga kedamaian lautan. Dia diciptakan untuk membuat lautan tetap biru dan cantik. Sudah menjadi takdirnya untuk kembali dan melawan para monster. "Thalia, apa bisa aku ikut denganmu?" Thalia menatap Eric, sepertinya Eric memang sungguh-sungguh ingin ikut dengan Thalia. Hanya ada satu cara mengubah wujud Eric, tapi entah berhasil atau tidak. Thalia mencoba satu hal. "Baiklah, ikut denganku, bantu aku menemukan kepingan batu permata." Thalia menggandeng tangan Eric, membawanya menuju ke tengah lautan. Thalia memberikan kalung duyungnya kepada Eric. Equoro La Marine Mereka saling berhadapan, air mulai sepinggang, Thalia memegang erat tangan Eric dan mengucapkan mantra. Seketika kaki Eric berubah wujud, kakinya menjadi sirip duyung. Eric terperangah, dia tersenyum senang. "Woah, aku berubah menjadi duyung!" ucap Eric berbinar. Dia tidak menyangka akan berhasil. Eric sangat senang bisa menemani Thalia. Keduanya berenang menyelami lautan bersama, untuk pertama kali dalam hidupnya Eric merasa takjub dengan kedalaman lautan. Begitu indah dan memanjakan matanya. Eric merasa sangat senang berada di dalam sini. Matanya bisa melihat kedalaman air. Dia tidak menyangka bisa berubah wujud seperti ini. "Eric, kemarilah. Di sana tempat duyung berada." Thalia menujuk kastil besar yang ada di bawah, kastil sangat besar, membuat Eric takjub. Dia melongo menatap kastil itu. "Di sana, para duyung tinggal. Kastil besar itu tidak bisa dilihat oleh manusia biasa. Penyelam sekalipun tidak akan bisa melihatnya. Hanya para duyung yang bisa. Satu-satunya cara melindungi diri dari para monster laut hanyalah berlindung di balik kastil. Tapi kita tidak mungkin hanya berdiam diri di balik kastil. Setiap duyung memiliki tugas, kami dibagi menjadi beberapa kelompok, beberapa menjaga lautan Karibia, beberapa menjaga lautan lainnya. Itulah mengapa biasanya kastil hanyalah dijaga oleh ratu duyung dan beberapa penjaganya. Namun karena keadaan seperti ini, para duyung semua berkumpul di dalam kastil. Jumlah monster laut dengan para duyung jumlahnya sangat timpang, itulah mengapa Poseidon memberikan trisulanya kepada lautan, kekuatan lautan ada pada trisula poseidon. Segala yang baik akan hancur ketika trisula dewa retak. Kita harus mencari segera letak batu permata, atau paling tidak kita harus menemukan trisulanya yang patah. Para duyung penjaga seperti Alrez dan kelompoknya pasti sedang mencari bersama, ayo kita mencarinya juga." Eric mendengarkan penjelasan Thalia dengan seksama, dia hampir setengah tidak percaya dengan ucapan Thalia, tapi kini dia melihat sendiri bahwa ucapan Thalia benar, semua yang ada dalam negeri dongeng, benar-benar ada. "Lalu bagaimana kita tau letak trisula atau batu permata?" tanya Eric. "Dengan mata batinmu, para duyung mencarinya agak kesulitan, tapi kamu Eric, aku tau kamu adalah keturunan Poseidon, aku yakin kamu bisa mengetahui dimana letak batu itu," ucap Thalia. "Hah? Aku? Turunan Poseidon? Hah? Maksudnya? Aku manusia Thalia!" ucap Eric gemas. Thalia menggeleng dan tersenyum. "Tidak ada manusia biasa yang bisa merubah dirinya menjadi duyung kecuali keturunan Poseidon. Kau adalah titisan Poseidon, pasti ada maksud baik dari dewa kenapa dirimu bisa hidup di dua alam. Bantulah para duyung menemukan batu permata, cobalah tutup matamu Eric. Coba kamu melihat dengan mata batinmu." Eric menghela nafasnya kasar, percuma dia menentang Thalia, mau tidak mau dia harus percaya. Kalau dia keturunan Poseidon, lalu bagaimana dengan ayah ibunya? Eric memejamkan matanya, dia terkejut dengan apa yang dia lihat, dalam penglihatannya, lautan nampak gelap, batu permata itu terbagi menjadi tujuh bagian. Eric khawatir, waktu 3 hari tidak cukup bagi mereka mencari batu permata itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD