Bab 11

1146 Words
Eric membuka matanya, dia takut akan kenyataan jika dia keturunan dewa. "Bagaimana? Kau melihat sesuatu?" tanya Thalia. Eric seketika berubah menjadi murung, dia berbalik dan berenang menuju daratan. Sedangkan Thalia bingung apa yang terjadi dengan Eric, dia mengejar Eric, terus memanggil namanya tapi dihiraukan. "Eric! Tunggu aku!" panggil Thalia. Eric memunculkan wajahnya ke permukaan air, dia shock akan apa yang terjadi. Eric tidak pernah menduga semua ini akan terjadi pada hidupnya. Dia bingung, marah, kesal. Kenapa harus dia? Kenapa harus Eric? Apa tidak bisa dia hidup normal sebagai manusia biasa? Eric merasa sedih sekaligus kecewa. Sebenarnya dia siapa. "Eric, maaf aku baru memberi tahumu. Sejak awal aku mengetahuimu jika kau adalah turunan Poseidon. Kau memiliki saudara duyung, ibumu mengandung dua putra, yang satu duyung dan satu lagi manusia biasa. Kau dititipkan di daratan kepada seorang nelayan. Sedangkan saudaramu ada di kerjaan duyung. Aku tau kau keturunan Poseidon, sejak awal aku mengetahui tanda trisula di punggungmu adalah penanda. Tanda itu hanya bisa dilihat oleh kami, para bangsa duyung." Penjelasan Thalia membuat Eric membulatkan matanya, dia akhirnya memutuskan untuk mencari ibu dan saudaranya, dia juga ingin membantu mencari batu permata merah yang terpecah menjadi tujuh bagian. Eric kembali masuk ke dalam lautan, dia menyelami kembali lautan yang begitu dalam bersama Thalia. Ada hal yang janggal baginya, lautan yang begitu gelap, namun dia bisa melihat semua yang ada di dalamnya, seolah semua itu adalah kemampuan khususnya. “Thalia, apa kau selalu bisa melihat lautan seterang ini?” tanya Eric. Sebuah senyuman tipis terukir di wajah Eric, baginya ini seperti berpetualang di negeri dongeng. Dia merasakan dinginnya air laut, tapi tubuhnya perlahan kembali menghangat. Kulitnya seolah bernafas di dalam air. “Iya, kami semua bisa melihat dengan terang benderang.” Eric lalu teringat batu permata yang pecah, pecahan pertama berada diantara terumbu karang, dia ingat warna terumbu karang yang berwaran ungu dengan lapisan coklat di bagian bawah. Ada banyak ikan sejenis catfish yang mengelilingi terumbu karang itu. Eric teringat, di samping terumbu karang itu terdapat sebuah kain yang melambai, kain berwarna merah panjang. “Thalia, sepertinya aku tau dimana pecahan batu permata itu.” Eric berenang menuju barat, Thalia mengikutinya dari belakang. Dia sungguh senang Eric mau memberi tahu letak batu permata yang pecah itu, setidaknya dia tidak kesulitan untuk mempersatukan para batu permata yang hilang. Hanya Eric satu-satunya yang bisa menjadi petunjuk. Sedangkan duyung lainnya harus berulang kali menyisir lautan untuk menemukan pecahan itu. “Sepertinya ada di sana,” ucap Eric. Dia menunjuk terumbu karang berwarna ungu. Benar saja, Thalia bisa melihat jelas kilauan pecahan batu permata yang berwarna merah nyala itu. Namun Thalia mencegah Eric untuk mendekat, mereka tidak sendirian di sini. Pecahan batu permata trisula milik Poseidon telah tersebar di tangan para monster laut. Terumbu karang itu bukan terumbu karang biasa, sekali disentuh bisa menimbulkan kematian. Beracun, mematikan, terumbu karang itu tidak bergerak, namun sekali tersentuh, akan mengeluarkan lumut-lumut beracun, apabila bercampur dengan air laut, bisa saja Thalia dan Eric akan mati. “Ini bahaya, kita tidak bisa hanya diam saja. Kita harus melakukan sesuatu Eric, tidak bisa hanya berdiam diri.” Thalia melepas kalung duyungnya, dia mengikatkan ke tangan Eric dan tangannya. Mereka dipersatukan dengan kalung duyung itu. “Apapun yang terjadi, jangan pernah lepaskan ikatan ini. Aku bisa membuat segel, namun hanya dalam beberapa jam saja. Aku bisa menghentikan waktu, tapi cukup menguras tenagaku. Bersiaplah Eric.” Thalia mengucapkan mantranya sebelum Eric sempat mengatakan apapun. Sirip Thalia seketika berubah menjadi emas, sangat indah dan berkilau cantik. Tidak lagi berwarna hijau. “Ikuti aku.” Thalia membawa Eric semakin dekat dengan terumbu karang, dia hanya memiliki waktu lima menit untuk mengambil batu permata merah itu. Thalia hendak mengambilnya, dia berhasil meraih permata itu. Dengan cepat terumbu karang yang hanya diam itu bereaksi atas sentuhan Thalia, dia mengeluarkan racun sebelum Thalia menghentikan waktu. “THALIA!” teriak Eric panik, dia mendorong Thalia menjauh, beberapa dari racun itu sempat mengenai tubuh Thalia. Gadis itu sesak nafasnya, namun dia berusaha sekuat tenaga membuat menghentikan waktu lalu memejamkan mata. Eric segera membawa Thalia ke tempat yang aman. Dia membawa Thalia ke samping rumput laut. Eric tidak tau apa-apa mengenai lautan dan sihir di dalamnya, dia bingung harus bagaimana. “Berikan dia sejumput rumput laut di lehernya,” ucap penyu besar yang melewati Eric. Dia sangat terkejut bisa berbicara dengan penyu itu, Eric mengerjapkan matanya, sepertinya kemampuannya bertambah, dia bisa berbicara dengan hewan. “Kau bisa berbicara?” tanya Eric bingung. Dia menatap mata penyu tua besar yang terlihat sangat baik. “Iya, tentu saja Eric. Kau adalah Sean Eric, semua makhluk di dalam lautan akan tunduk kepadamu, kami semua tau kau mewarisi darah Poseidon, dewa kami. Sekarang aku meminta tolong kepadamu, selamatkan duyung kecil ini, gadis manis yang selalu menderita, aku sangat mengenal Thalia, dia gadis baik, mewarisi suara yang sangat merdu. Sayangnya dia tidak dianggap dengan baik, dia hanya menjadi duyung biasa padahal dia mewarisi sihir yang luar biasa,” ucap penyu itu. “Bagaimana aku bisa menyembuhkan Thalia?” tanya Eric. Thalia dia letakkan di batu besar, samping tumbuhan rumput laut. “Gunakan rumput laut, tempelkan di lehernya, sembari ucapkan mantra Aestre Virazus.” Eric mengikuti apa ucapan penyu besar itu, dia mengambil rumput laut, lalu menempelkan di leher Thalia. “Aaeeestre Virazus.” Eric mengucapkan kalimat itu, namun tidak terjadi apa-apa. “Bukan begitu cara mengucapkannya, ucapkan dengan satu tarikan nafas, gunakan kekuatan dalam hatimu, satukan antara pikiran dengan hatimu.” Eric memejamkan mata, mencoba untuk konsentrasi, dia merasa sangat bingung, ini pertama kalinya dia menggunakan sihir seperti itu. “Aestre Vi-vir-vir ... eh Tuan Penyu, Vir apa tadi?” tanya Eric sembari menunjukkan deretan gigi putihnya, dia lupa dengan mantranya. “Astaga, kau benar mewarisi darah Poseidon? Kenapa kau begitu stupid? Aestre Virazuz, ingat! Aestre Virazus.” “Oh, iya ... maaf aku tidak terbiasa mengucapkan mantra seperti itu.” Eric menarik nafasnya, kembali memusatkan pikirannya dan konsentrasi. Dia mencoba kembali mengucapkan mantra itu dengan satu tarikan nafas. “Aestre Virazus.” Seketika sinar berwarna putih muncul dari tangan Eric, dia menempelkan ke leher Thalia, racun-racun yang membuat kulit leher Thalia memar seketika memudar, Thalia mengerjapkan matanya, dia kembali sadar dan menatap Eric dengan seksama. “Sesak,” ucap Thalia serak. Penyu itu datang, membuat pusaran air kecil, lalu membuat air terjun kecil dalam lautan, memberikan bulir air itu kepada Thalia. “Minumlah nak, racun itu rupanya sudah masuk tubuhmu.” Thalia bangkit lalu meneguk air terjun yang dibuat oleh tuan penyu. “Terima kasih,” ucap Thalia, dia tersenyum lalu memeluk tuan penyu. Hanya tuan penyu sahabat Thalia, hewan lautan selalu menjadi teman setia Thalia. “Thalia, permatanya apa kau simpan dengan baik?” tanya Eric. Thalia mengangguk, dia merogoh saku kecil yang dia pegang, sayangnya batu permata itu tidak ada di sana. Thalia terkejut, dia tak tau sekarang ada di mana. “Astaga, tidak ada di kantongku, bagaimana ini?” ucap Thalia panik.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD